Aku baru saja menyaksikan semut-semut berbaris menuju liang yang disiapkan demi kenyamanan mereka. Sementara kudengar kicau burung memberi salam pada Sang Surya yang akan segera pergi. Lalu beberapa jenis dedaunan melipat diri pertanda mereka akan merajut mimpi di malam ini. Anak-anak masih bergurau ketika menyaksikan bulan setengah muncul di ufuk baratπ. Lampu-lampu listrik dinyalakan sementaraContinueContinue reading “Menyapa Senja”
Monthly Archives: April 2022
Entah Apa Itu
Entah sulit atau mudah, entah rumit, ribet atau sederhana, entah bingung atau tegang, entah cemas atau gemas, entah berpikir atau berzikir, entah takut atau kalut, entah bangga atau bimbang, entah berani atau berahi, entah sudah dipalu atau akan dipaku, entah dan terus entah … . Kertas-kertas bertulisan dibacakan. Kritik-kritik berurutan diujarkan. Hoax berbulus dihujatkan. RuangContinueContinue reading “Entah Apa Itu”
Tiki-Taka
Kemarin dan kemarinnya lagi, kaum elit nan intelek ramai sibuk mengolah kata bagai satu tim kesebelasan menata Tiki-Taka menjebol gawang lawan. Titik-titik Tiki-Taka ramai di bibir dan langit-langit kebanggaan dan kemunafikan. Antara nilai keilmuan saitist dan kode etik berpengharapan, entah dimana letak kesetimbangan. Antara disertasi dan disemai aplikasi bernas, manakah yang lebih berpahala. Antara manfaatContinueContinue reading “Tiki-Taka”
Seroja Berulang Tahun
Kemarin (4/4/22) pada aplikasi WhatsApp Group keluarga kami, Umi Nii Baki, diedarkan satu video yang menampilkan dampak dari daya gedor Badai Seroja, April 2021. Pagi ini seorang rekan guru mengirim tiga helai foto dengan permintaan agar dibuatkan narasi. Saya sampaikan padanya bahwa ada inspirasi menulis puisi. Jadilah puisi seperti ini. Sang Kelam Berkalam Syahdu BilaContinueContinue reading “Seroja Berulang Tahun”
Pada titik rasa ngilu
Tidak mudah melewati hari-hari yang datang setiap minggunya. Tujuh hari selalu diawali hari pertama dan diakhiri hari ketujuh. Selalu dimulai dari Ahad ditutup Alsabat. Selalu ada warna yang ceria nan cerah hingga kabut nan kabur. Sepekan terakhir ada warna kelabu menyelimuti dan membungkus raga, ada kabut menggerayang rasa mengantarkan ketiadaan bara di sana. Dingin. MencobaContinueContinue reading “Pada titik rasa ngilu”
Aa’asramat berbahasa Inggris?
Seorang sahabat menelepon untuk suatu diskusi di tengah kesibukannya sebagai pejabat daerah di Kabupaten Kupang. Saya senang sekali bisa berdiskusi via telepon dengan sahabat yang satu ini yang mengabaikan jabatannya dan mau “turun” mendekati kaum pinggiran seperti saya. Ia mengkritisi secara konstruktif apa yang sudah saya lakukan selama ini yakni menulis puisi, membacanya dan menempatkanContinueContinue reading “Aa’asramat berbahasa Inggris?”
Berbaring
Sekejab saja bagai sekali kedip mata raga ini telah rontok. Ketinggian kurang dari 2 meter saja tapi berat tubuh yang tidak mencapai 60 kg menjadi pemberat yang mempercepat jatuhnya. Braaaak… . Sekedip mata . Aku merayap mencari pertolongan. Kupanggil mereka yang terdekat untuk menolongku. Pertolongan tiba. Aku dipapah. Luka di kepala mengalirkan darah. Memar diContinueContinue reading “Berbaring”
Rinai Pemulihan
Kata-kata saja tidak cukup untuk pemulihan manakala air mata menggenang, mengalir hingga kering. Untaian ujar bertuah pun bagai polesan bibir belaka manakala suara di tenggorokan sudah serak terhalang. Akta Ilahi menyejukkan hati dan memulihkan rasa duka berpedih terselip di antara kata dan ujar bernas dari bibir-bibir kerabat dan sahabat. Kata bermakhota penenang gejolak yang dilantunkanContinueContinue reading “Rinai Pemulihan”