Peran Jubir dalam Varian Urusan Sosial

Andalan

Peran Jubir, Juru Bicara dalam Varian Urusan Sosial

Pengantar

Dalam kebaktian Minggu (8/12/19) di Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto, pendeta yang memimpin kebaktian menyinggung kata jubir, juru bicara. Begini kata sang pendeta (kurang lebih, saya kutip pernyataan lisannya), “Jubir itu, kalo mau maso minta nona, pasti cari jubir yang bisa ba’omong bae. Kalo su jadi, waktu maso minta dia pung pake, waah… begitu. Tampil beda. Ma, ais kalo itu pengantin dua orang su bakatumu, jubir pung tugas su abis. Sonde ada jubir yang dudu sama bagaya deng penganten ee… ko karmana?”

Menarik!

Pengalaman Berjubir

Saya bukanlah seorang yang mampu menjadi jubir, juru bicara. Pengalaman selama ini saya coba urai sedikit di sini bagaimana menjadi jubir.

Jubir dalam praktiknya di tengah masyarakat lebih pada urusan perkawinan. Jubir menjadi jembatan penyeberangan dua keluarga pasangan calon suami-isteri. Dua keluarga yang bakal berbesanan. Dua keluarga yang bakal memperluas cakupan keluarga, yang menyebabkan sebutan umum menjadi keluarga besar.  

Padahal, pada masa lampau, di Amarasi Raya (Pah Amarasi), masyarakat mengenal jubir itu dengan istilah mafefa’. Seorang mafefa’ berbicara atas nama usif, raja atau mewakili masyarakat untuk menyampaikan sesuatu kepada para petinggi ke-usif-an. Jadi, bukan dalam pengertian mengurus perkawinan. Mafefa’ atau jubir akhir mengalami pergeseran makna di tengah masyarakat dimana orang menggesernya ke sudut urusan perkawinan adat hingga mencapai puncaknya pada perayaan perkawinan.

Lihatlah perkembangan dalam komunikasi politik para pejabat publik, seseorang atau beberapa orang mewakili Presiden misalnya untuk menjelaskan sesuatu kepada masyarakat, lalu oleh media massa, dia disebut sebagai jubir kepresidenan. Dan seterusnya, di banyak institusi, lembaga, dan badan pemerintah maupun swasta. Jubir bersuara atas nama mereka dalam koridor yang tidak boleh keluar dari kebijakan. Jubir Kementerian A, jubir Komisi X, dan lain-lain.

Ketika Orde Baru berkuasa di bawah Presiden NKRI ke-2, Soeharto, jubir pemerintah Orde Baru berlembaga yaitu Departemen Penerangan. Menteri Peneranganlah yang berbicara atas nama pemerintah pusat untuk banyak hal.

Kembali ke jubir dalam urusan perkawinan/pernikahan.

Dalam hal mengurus perkawinan/pernikahan, jubir  diasumsikan dan diterima seperti pelobi. Apa saja lobi-lobi seorang jubir?

  • Nilai belis. Belis apapun itu namanya yang diberlakukan dalam etnis manapun, pasti bermuatan uang. Sekalipun masyarakat kurang setuju dengan penggunaan istilah belis, tetapi para sosiolog dan budayawan menyebutkannya demikian dalam literatur-literatur tentang kehidupan sosial kemasyarakatan manapun. Nilai belis selalu berdampak dan berisi uang. Keluarga pihak laki-laki dan perempuan akan “berduel” di titik ini. Maka, tugas jubir melobi agar “duel” ini tidak menimbulkan hubungan menjadi retak, renggang, atau bahkan bubar. Belis dalam pengertian sempit hanya pada pemberian tanda rasa terima kasih dari calon pengantin laki-laki dan keluarga batihnya kepada orang tua kandung dari calon pengantin perempuan. Nilainya seringkali seturut inflasi yang sedang terjadi di dalam dunia ekonomi. 
  • Dalam belis ada faktor-faktor ikutan yang turut memberi pengaruh pada urusan perkawinan ini. Contohnya,  to’o, babaf, ama tana, atoin’ amaf, kaos nono, sea’nono, kenoto, kuda, kerbau, sapi, babi, ayam, gading gajah, mamuli, dan lain-lain.
  • Anggaran perayaan. Saya menggunakan term perayaan. Mengapa bukan pesta? Karena pesta identik dengan hura-hura. Perayaan identik dengan kemeriahan yang membanggakan dan meninggalkan kesan positif baik pada penyelenggaranya maupun pada mereka yang menghadirinya. Perayaan akan memberi inspirasi pada semua pihak yang turut mengambil bagian di dalamnya. Pesta terkesan hura-hura,dan hampir selalu berbuntut pada kekacauan yang bukan oleh penyelenggaranya, tetapi oleh mereka yang mendapatkan undangan. Pesta, seringkali berujung pada urusan hukum (adat, hukum positif negara). Anggaran perayaan yang dipercakapkan di dalamnya terdiri dari (gelondongan):
    • Peminangan (isi peminangan, biasanya sudah dalam pengetahuan jubir, kecuali nilai nominal)
    • Pembiayaan dapur
    • Pembiayaan/penyewaan perlengkapan
      • tenda, kursi, dekorasi, sound system
      • mobil pengantin (jika diperlukan)
      • kamar hotel (jika diperlukan)
      • master of ceremony (MC)
    • Dan lain-lain yang seringkali tidak terpikirkan sebelumnya.
    • Bila perayaan perkawinan itu diadakan di hall/aula yang kini banyak tersedia di kota-kota besar, maka pembiayaannya dihitung sekaligus termasuk MC. Maka penugasan pada anggota keluarga pihak calon pengantin laki-laki untuk mengadakan lobi jadwal dan pembiayaan di hall/aula/hotel.

Dalam hal upacara peminangan (dalam Bahasa Melayu Kupang (MK)) disebut maso minta, peran jubir sangat penting. Tampilan dan tuturan jubir akan sangat menentukan martabat peminangan itu sendiri. Unsur yang perlu ditaati oleh pihak keluarga laki-laki adalah:

  • Tepat waktu. Ketika ritual maso minta dilakukan, para jubir selalu berdegup jantung berhubung waktu yang ditentukan mesti ditepati, bahkan pada menit terakhir pun tidak boleh terlambat. Dalam budaya kota Kupang dan sekitarnya, maso minta dengan keterlambatan akan menjadi momok yang tidak menyehatkan urusan perkawinan.
  • Sapaan. Sapaan awal dari jubir pihak keluarga laki-laki sangat menentukan maju dan lancarnya percakapan (dialog) antarjubir. Biasanya sesudah sapaan akan diikuti dengan hal-hal ini.
    • Berdoa
    • Menyampaikan maksud rombongan keluarga
    • Menyampaikan isi bawaan (dulang/baki/nampan)
      • Kitab Suci dan lilin (pada masa lalu, lampu gas dan kitab suci). Sering ada yang mengganti lampu/lilin dengan lampu emergency
      • Pemberian untuk gadis (biasanya dua dulang/baki/nampan). Isinya perhiasan (mas), dan sejumlah perlengkapan gadis.
      • Pemberian untuk orang tua
      • Pemberian untuk kalangan keluarga besar. Pada umumnya berisi satu rangkai pinang bonak, sirih, kapur, tembakau, daun lontar yang sudah dihaluskan untuk plintingan rokok, sering pula diganti dengan rokok fabrikan). Pinang, pada golongan tertentu diganti dengan manisan/gula-gula/permen dalam jumlah banyak.
  • Dulan/baki/nampan, secara standar jumlahnya lima unit. Akan tetapi seringkali ada tambahan mencapai tujuh unit. Jika hanya lima, ada tambahan satu yaitu pakaian pengantin yang diserahkan sesudah peminangan berakhir. Bila tujuh unit dulang, maka akan menjadi delapan unit karena satu unit terakhir itu untuk pakaian pengantin.
  • Sesudah pemberian diterima pihak keluarga perempuan, maka selanjutnya tugas jubir memperkenalkan calon pengantin laki-laki. Biasanya calon pengantin laki-laki akan diantarkan oleh saudarinya atau seseorang pengganti saudari.
  • Acara perkenalan berakhir dengan persandingan pengantin adat pada saat itu.

Pernikahan secara adat di dalam masyarakat kota Kupang dan sekitarnya akan berlangsung saling ada kemiripan. Mengapa? Di Kota Kupang, masyarakatnya beragam dan multi etnis. Budaya masyarakatnya seakan tidak sama, padahal secara prinsip ada kesamaan, yaitu maso minta. Isinya kelihatan dibedakan, padahal secara prinsip sama, yaitu membawa sejumlah pemberian kepada gadis pilihan, orang tuanya, dan keluarganya. Pemberian-pemberian itu jika sudah diterima, maka berakhirlah tugas dan peranan jubir.

Sampai di sini, pengantin adat bersanding, sementara jubir siapa hirau? ha ha… .

(akan saya sambung pada tulisan kedua tentang jubir dari Tuhan)

Saya kesini untuk minta maaf

Andalan

Dalam acara terpadu, reuni dan natal yang digelar Forum Silaturahmi Alumni SMEA Negeri Kupang tahun 1986, hadir mantan Kepala SMEA Negeri Kupang.

Drs. Julius Riwu Kaho, akrab disapa Pak Lius. Ia tiba ketika para alumni telah selesai beracara. Akan tetapi, kehadirannya tidak mengurangi rasa hormat para alumni yang malam itu sebanyak 25 orang. Mereka menyambutnya, menyalami dan menyampaikan ucapan selamat datang dan doa agar tetap sehat dalam lindungan Tuhan.

Ketika didapuk untuk menyampaikan sesuatu pada acara ini, pak Lius berkata, “Saya mau datang karena sudah berjanji pada temanmu yang datang menyampaikan undangan. Saya senang bisa bertemu dengan adik-adik. Satu hal yang membuat saya rindu bertemu dengan adik-adik yaitu, saya mau minta maaf.”

Pernyataan ini disambut tawa riang para siswa. Tetapi, menariknya seorang pinisepuh, guru yang kami kenal sangat berwibawa antara tahun 1969 – 1988, sungguh-sungguh hadir untuk menyampaikan permohonan maaf pada orang-orang yang pernah menjadi siswa-siswinya. Suatu situasi yang sangat berbeda. Ia tidak sungkan, padahal dari aspek biologis saja, sang guru pantas menjadi orang tua. Ia menyapa anak-anaknya sebagai adik-adik. Ia mau dan sudi turun untuk menyampaikan permohonan maaf.

Para alumni tertawa, terbahak dalam keharuan dan air mata. Terharu karena orang yang mendidik, mengajar, membimbing dan memotivasi pada tahun 1983-1986 telah dengan senang dan tenangnya mau menyampaikan permohoan maaf.

Sebelumnya, seorang anggota menyampaikan kisah dalam nada-nada canda tentang masa bersekolah antara 1983-1986.

“Selamat malam bapak Kepala SMEA Negeri Kupang tahun 1986. Di sini berkumpul beberapa orang alumni yang pernah melompat pagar, punya kaki celana botol, punya sepatu bigbos, pernah dicubit atas alasan nakal, tapi yang pernah membuat bapak berbangga. Bahwa ketika bertemu dengan bapak pada malam ini, bapak sehat dan kuat, maka kami terus berdoa agar Tuhan tetap memberikan kesehatan pada bapak. Mohon bapak berkenan menyampaikan sesuatu pada kami pada malam ini dalam acara kami. Sebelumnya, mohon berkenan menerima hadiah dari kami berupa tiga eksemplar buku di tangan saya ini.”

Selanjutnya, acara penyerahan buku: Catatan Seoran Guru Daerah Terpencil, Johny Bintang Kecil dari Perbatasan NKRI-RDTL dan Kamus Maruna’/Kamus Bergambar dalam Bahasa Amarasi. Ketiga buku ini ditulis oleh salah seorang alumni yang hadir dan menyerahkannya pada sang guru, mantan Kepala Sekolah.

Selain tanda terima kasih berupa buku kepada sang guru, kepada tuan/puan rumah yang sudi menyediakan tempat, hal yang sama diberikan kepadanya.

Ucapan terima kasih berjibaku pada dinding aplikasi WhatsApp grup Forsia SMEA 86. Satu di antara ucapan terima kasih itu disampaikan oleh bapak Yakobis Dethan, Ketua Panitia yang telah didaulat sebagai Ketua Forsia SMEA 86. “Beta secara pribadi dan anak istri beta ucapkan terima kasih tak terhingga untuk bro Abe dan ma Ina…yang sudah ijinkan forsia melakukan acara reuni dan natal bersama di rumah mereka…banyak yang tertinggal berupa salah kata dan bahasa serta bahasa tubuh kotong semua mohon di- maafkan…Tuhan yang empunya segala kiranya membalas budi baik bro Abe dan ma’ Ina…Tuhan memberkati”

Pertemuan antaralumni SMEA Negeri Kupang 1986 dengan sang guru, mantan Kepala Sekolah, pak Lius, berakhir. Para alumnus beriringan pulang ke rumah masing-masing. Mereka pulang dengan membawa kenangan dalam genangan masa.

Andalan

Hujan Kegirangan

Hujan Kegirangan

Alangkah indahnya pagi ini di pegunungan.Ketika pagi tiba.Matahari tersenyum indah.Kehangatan ia hantarkan di permukaan persada.Lalu kaum insani bergerak dalam do’a pagi.Mereka tengadahkan tangan, berbisik pada Ilahi sang Khalik.Berlutut di bumi pijakan kaki-Nya.Berharap akan perlindungan-Nya di bumi kekeringan yang baru diguyur hujan kebahagiaan.


Pagi ini peladang histeria gembira, sambil tersenyum sepat.Dan pesawah berteriak kegirangan, sambil menyipitkan mata.Wahai sang Khalik, syukur sajalah yang dapat kami naikkan pada-Mu.


Lalu peternak bergumam dalam diam,Mana boleh hanya rasa syukur Tidakkah kau harus membawa tanda di tanganmu?


Akh …
***
Koro’oto, 6 Desember 2019

Andalan

Angin, Kantuk, Lapar dan Jarak

Ketika semilir angin menerpa raga, rasa kantuk menggoda mata. Saat itu riuh rendah burung merpati terbang menghalau angin, dan aku segera terbangun manakala seekor di antaranya menubruk jendela ruang kelasku.

Aih…

Mata tak lagi tergoda kantuk, ia kini justru memicingkan godaan baru pada rasa lapar di kantong tengahku yang tak seberapa besar dan luasnya, berhubung waktunya makan di siang hari. Tapi, jarak mesti direngkuh sebelum tiba dan menyalami kekasih penyedia nutrisi segar dan penghapus rasa dahaga dan lapar.

Selamat siang Pembacaku.

Andalan

Sejernih bening Embun

Temaram fajar menggodaku pagi ini.

Sebentuk rindu menggeser kenangan kelamarin.

Ketika ronta pengetahuan masih menggantung.

Dan nilai persahabatan mendayu hati.

Kicau burung berseloroh dan berceracap di antara kokok ayam.

Tak kalah pula jangkrik melengkingkan suaranya.

tak berniat ia berkompetisi pada ciap anak ayam.

Mereka saling berampasan mengumumkan datangnya fajar pagi ini.

Meong tersenyum di samping auk auk auk.

Tersipu malu temaram melipat kangkang hendak beranjak.

Kutengadah pada Sang Khalik.

Syukur berlimpah hatur kusembahkan.

Bertadah tangan tiadalah cukup.

Bersuara merdu diminta-Nya pula.

Mendengarkan Sabda-Nya wajib asasnya.

Oh desa…

Indahnya …

Kaki-kaki kaumku berderak gerak di jalan sepagi ini.

Mengejar beningnya titik-titik peneduh dahaga.

Bahu kekar mengangkat beban.

Hati galau dalam rindu di gerbang penantian.

Sang curahan masih terikat tambat,

Sementara kabar ribut hujan merobohkan rindu di arena beda.

Aku mencoba menggosok agar tergesek kenangan masa.

Di sana kutemukan keluguan dan ketulusan kaumku,

Pada perlakuan alam area gendongan dan pemangku hidup.

Benak menyimpan keagungan sikap, sebening titik embun pagi.

Terima kasih Tuhan untuk pagi ini.

Koro’oto, 25 November 2019

Andalan

Nuansa Tari dan Jemari Kepala Sekolah Milenial

Nuansa Tari dan Jemari Kepala Sekolah Milenial

Hari-hari berlalu

Waktu bergulir dilampaui

Jemari menari kaku di altar abdi

Jantung berdegup karuan sana-sini

Darah berdesir bagai disiram pancuran mandi.

Jam dinding menunjuk pukul nol-nol tengah malam

Mata tak lagi bersahabat dengan jemari

Raga masih berasa ingin dirohi semangat tari

Tapi…

Si bulu mata haluspun lebih kuat dayanya

Hingga memaksa raga besar telentang tanpa daya

Atau bahkan melintang tak lagi bergaya

Kaumku bermimpi tentang pemimpin

Kaumku menari foti bagai cacing kepanasan tanpa pin

Kaumku berdasi tak normal

Digantung menggantung lidah lelah

Tak berbunga menata senyum terjedah.

Aih …

Mereka pemimpin yang bermimpi

Makna kepemimpinan di institusi unit berjasa

Ketika dipaksa dalam karya besar pendidikan terkini

Ketika itu tarian tak seindah aslinya lagi.

Selamat bertugas para pemimpin

Bermimpilah di altar abdi keikhlasan

Bernyanyilah dalam orchestra bernada sendu

Luruskan kelokan, tujui sasaran berjitu tanpa ragu

Bahkan tanpa signal pun kau akan berdaya.

Di hamparan rasa bernada galau yang terhalau kelak.

Kupang, 24 November 2019

Andalan

Mendikbud dan Kepala Sekolah Pemimpin Perubahan di sekolah (oo!)

Halo pembaca blogku. Salamku dari ruang sepi bertunas pikir sederhana. Di sini ada sejumput berkas penghalang mata, pengisi benak yang mengantar pada olah pikir setelah berdzikir.

Aku baru saja membaca sejumlah berita yang menarik hari-hari ini secara nasional, khsususnya pada dua tokoh muda nasional yang masuk dalam jajaran Kabinet Indonesia Maju. Nadiem Makarim dan Erick Tohir. Tidak perlu lagi kujelaskan latar dan sepak terjang mereka di dunia persilatan kata bermakna. Mereka telah memulai tugas sebagai pembantu presiden untuk menjadikan Indonesia Maju di zaman ini, ketika NKRI bersama negara lainnya sedang secara beramai-ramai mau maju pula, atau ketika negara lain sudah berlari, sementara kita mungkin baru mulai memasang ancang-ancang akan berlari dengan kecepatan semoga seperti sprinter.

ha ha…

Kusinggungkan sedikit saja di sini tentang pemimpin perubahan. Semua pemimpin manapun dalam kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya tentulah mesti dapat memberikan perubahan. Masalahnya, seberapa besar perubahan itu memberi pengaruh pada lingkungannya?

Mari memandang pada Mas Menteri Nadiem Anwar Makarim. Sesudah pelantikannya ditanyai para pegiat berita dari berbagai gaya. Saat itu ada satu frase pernyataan, dalam 20-30 tahun ini dunia pendidikan kita … dan seterusnya. Sekalipun demikian, ia masih sempat berterima kasih pada paling tidak dua orang menteri yang pernah duduk di kursi panas kemendikbut itu.

Lalu, sebagai awam politik saya melihat bahwa pada seorang Mas Mendikbud, ia seorang yang sedang berpikir secara merdeka. Maka, ia mau memberi kemerdekaan kepada dunia pendidikan. Apa artinya?

Membaca sejarah NKRI, semua mengetahui arti kemerdekaan. Kemerdekaan diperoleh setelah ada perjuangan untuk terlepas dari belenggu penjajahan. Mendikbud kita rupanya membaca hal ini dengan menggunakan kacamata yang berbeda dari para mendikbud sebelumnya. Ia telah mengatakan melalui pidato teramat singkatnya yang sudah beredar bahwa dunia pendidikan kita tidak diberi pertolongan, tetapi justru diberi peraturan. Peraturan itu bersifat mengikat. Jika satu peraturan bersifat mengikat, bacaaanya menjadi, peraturan itu tidak memberi kemerdekaan kepada yang diatur. Peraturan tentu mengatur agar tertib, terarah dan terukur, dan bla bla bla…

Maka, tidak heran jika Mas Mendikbud kita hari-hari ini sedang giat-giatnya dan sedang bersemangat untuk memberi ruang kemerdekaan itu pada dunia pendidikan. Ia sedang menabuh gong perubahan. Rasanya akan menjadi perubahan yang revolusioner. Ia akan merevolusi segala aspek di dunia pendidikan yang “membelenggu” pemangku kepentingan di sana. Mari baca sebahagian pernyataan Mas Mendikbud.

  • Ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar. Ini sudah dilakukan. Sayangnya, diskusi pun masih didominasi guru yang katanya mesti menjadi fasilitator dan motivator.
  • Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. Mungkin ada yang sudah pernah melakukannya. Secara praktis ada teori tutor sebaya, bukan mengajar.
  • Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Yang ini akan seperti apa?
  • Temukan satu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri.
  • Tawarkan bantuan kepada guru yang mengalami kesulitan

Pernyataan-pernyataan sederhana namun sarat makna dan mudah dilakukan. Ini buakn sesuatu yang tidak biasa. Ini biasa saja, tapi siapa yang sudah melakukannya secara optimal dan maksimal? Keterikatan pada aturan dan teori-teori pendidikan telah tidak memberikan kemerdekaan pada guru sebagai yang tak tergantikan di kelas ketika harus menyebutkan istilah proses belajar mengajar, proses pembelajaran, interaksi di dalam kelas antara guru dengan siswa dan sebaliknya. Di sini dibutuhkan kepala sekolah yang berpotensi membawa perubahan.

Para kepala sekolah pada hari-hari ini sedang digiatkan mengikuti Diklat Penguatan Kepala Sekolah. Salah satu materi yang disajikan tentang pemimpin (yang membawa) perubahan. Ini sinkron dengan pemimpin tertingginya di pendidikan dan kebudayaan, Mas Mendikbud Nadiem Anwar Makarim.

Perubahan seperti apa yang akan dimainkan oleh para kepala sekolah sesudah mengikuti penguatan ini? Ada joke sebelum para kepala sekolah tiba di area diklat, para kepala sekolah sedang lemah makanya perlu mendapatkan penguatan. Dapat saja joke itu benar dan dibenarkan.

Menghadapi tantangan zaman ini, khususnya di tantangan di dunia pendidikan yang membutuhkan akselerasi gaya berpikir, berkata, bersikap dan bertindak, orang tidak butuh manis dan indahnya penataan kata, tapi yang dibutuhkan aksi yang cerdas dan tepat setelah berkata. Orang membutuhkan sikap yang teguh (integritas) pada pemimpin, termasuk kepala sekolah.

Lalu? Kepala sekolah pada tahun-tahun dan periode pelayanan ini masuk dalam kategori orang-orang yang sedang harus dapat memberi lompatan di sekolahnya masing-masing. Lompatan seperti apa? Kita tunggu saja segera setelah diklat ini berakhir. Mungkin belum melompat, tapi baru mulai menata kaki untuk meloncat saja.

Nadiem Makarim, Erick Tohir, telah menggemakan perubahan. Gong itu dibunyikan dan menggetarkan telinga, meronamerahkan wajah entah karena malu atau sebab lain. Mereka akan merevolusi karakter orang-orang di area dan arena kepemimpinan masing-masing. Akankah terjadi gempat di sana yang merontokkan para stagnanser?

Kepala Sekolah, segera sesudah kembali dari diklat penguatan kepala sekolah, getarkan dada sendiri untuk berani memulai. Degupkan jantung teman-teman, sambil izinkan mereka dan semua pemangku kepentingan di sekolah agar wajah mereka tetap tersenyum, bukan cemberut yang menjadikan mereka cerewet di belakang layar.

ha ha…

Makasi su baca ee…

Kupang, 23 November 2019

Andalan

Kewer-Kewer, nyaris putus

Kewer-kewer, nyaris putus

Ketika sore menyongsong

Kaum penghantar ipteks bergoyang riang

Menghalau resah, ribet, loyo nan layu

Tetangan meliuk berlauk ilmu

Kaki menghentak berkehendak pengetahuan

Kepala mengangguk mengusir kantuk

Perut menggelembung berisi cairan berlemak

Akh…

Mereka bagai cacing kepanasan

Akh …

Tidaklah demkian,

Mereka sedang bergirang riang belaka

Tapi…

Rona dan gesture berkisah riang semu.

Akankah berbalik huma tetap bergizi?

Berharap tentu pada ingatan dan kemauan.

Semoga tidak kewer-kewer.

Ha ha ha …

Wao…

Selamat sore, teman-teman

Heronimus Bani

Kupang, 22 November 2019

Dalam Kecemasanpun mesti tetap Gapai Hari Depan

Andalan

Dalam Kecemasan pun Mesti Tetap Gapai Hari Depan

Ketika hari baru segera tiba, saat itu kegelapan akan segera sirna. Demikian halnya dengan duniaku. Menurut Mendikbud, Nadiem Makarim hampir lebih dari 30 tahun terakhir ini dunia pendidikan sekalipun sedang menggeliat, namun terasa seperti berjalan di tempat. Bahwa ada prestasi yang menggembirakan, di sana ada bagai percikan-percikan sekejap yang menggegerkan, lalu sirna di dalam kegelapan.


Hari-hari berlalu dalam dunia pendidikan yang sedang aku geluti. Apakah sedang terang-benderang kehidupan pemangku kepentingan di sana? Kutanyakan pada diri ini, belum juga mereka beranjak. Aku pun demikian. Gebrakan apa yang akan mengubah olah pikir agar dapat keluar dari kegelapan atau kesuraman sehingga dapat menyambut terang di fajar pagi?


Hari-hari ini para kepala sekolah yang sedang aktif di “kursi” legalnya sedang disiapkan dan dikuatkan untuk menghadapi fajar baru itu.


Menjalani semua itu, mereka patut berada di jalur yang benar. Jalur itu berurut-urut antara tugas yang satu dengan tugas yang lainnya. Pada jalur itu, mereka dapat berkolaborasi dengan memintakan tuntunan orang lain. Siapa orang lain?


Mereka, sesama guru, sesama kepala sekolah, sesama pemangku kepentingan, baik dari dalam lingkungan sekolah sendiri maupun di luar lingkungan sekolah itu.
Bila hendak menatap hari depan, patutlah berlaku bagai kisah Yakob bertemu dengan Tuhannya. Ia melihat tangga menuju sorga. Di sana ia memulai satu tonggak baru. Batu sebagai bantalnya dipakai sebagai tugu peringatan.


Kini, aku ada di sini. Aku mungkin harus menegakkan batu yang baru. Di sana menjadi pijakan menaiki tangga yang disediakan pada hari-hari ini. Kiranya dengan itu, setiap anak tangga akan dapat dilewati dengan tidak meloncat melewati yang lainnya. Setiap anak tangga yang dilewati itu akan mengantarkan tubuh/raga ini, bahkan olah pikir dan rasa akan menikmati kesejukan ketika tiba di puncak tangga.


Masa-masa melewati dunia yang temaram mesti dapat dihalau. Masa baru, menyambut fajar baru yaitu dengan ketrampilan, kompetensi dan kapabilitas baru.

Akh…
Sekalipun cemas, mesti dapat keluar dari duniaku yang masih temaram ini.

Heronimus Bani

Kupang, 21 November 2019 (18:22)

Andalan

Lelucon di Sekolahku Mengerikan

Lelucon di Sekolahku Mengerikan

Aku belum lama dilantik dan bertugas sebagai kepala sekolah di salah satu unit sekolah dasar di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kuceritakan di sini pengalamanku agar menjadi pengetahuan pada sesama guru, bahwa ternyata dunia “gelap” dapat dikendalikan oleh manusia berhati iblis.

Entah apa yang merasuk manusia di sekitarku tinggal dan bertugas. Banyak kejanggalan sejak aku menetap di sana. Aku sadari dalam imanku tentang kematian, tetapi kematian di sekitarku selalu dihubungkan dengan sesuatu.

Berikut ini contoh-contoh cerita di sekitarku, bahkan akupun menyaksikan dengan mataku sendiri.

  • Motor berjalan di jalanan aspal tanpa pengendara. Suatu pagi, ketika aku hendak menuju kamar mandi, terdengar suara motor meraung-raung. Orang-orang berlarian mengejar motor itu. Aku terpaksa dengan mengenakan handuk turut pula mengejarnya. Orang-orang yang mengejar motor itu nampak senang, tapi wajahnya tidak senang secara sungguh-sungguh. Terlihat seperti ada yang tidak dapat disembunyikan, bahwa, tidak ada orang yang mengendalikan motor itu. Aku melihat motor itu menabrak tembok sekolah, lalu masih bisa berbelok dan menabrak pohon mangga, lalu diamlah motor itu karena telah hancur. Orang-orang yang mengejar pun diam seketika. Mereka bingung, mengapa motor itu dapat berjalan tanpa ada yang mengendarainya. Bukankah ini suatu kemustahilan?
  • Kelabang di dalam tembok. Tidak diketahui secara jelas, bagaimana mungkin beberapa ekor kelabang masuk ke dalam tembok yang rapih dan lincin. Aku sendiri yang mendengarkan bunyi-bunyi di dalam tembok. Aku pasang telinga di tembok, terdengar seperti ada yang mengetuk. Aku menggunakan kaki bersepatu dan menendang. Terdengar bunyi seperti ada lubang di dalam tembok itu. Aku meminta untuk menghancurkan bagian tembok itu. Muncullah seekor kelabang berukuran besar. Aku menangkapnya dan membakarnya. Lalu, muncul pula kelabang kedua. Itupun aku membakarnya. Orang-orang menegurku, hati-hati dengan situasi di situ. Tidak berapa lama kemudian, ada tanda-tanda di sekolah, penjaga sekolah sakit.
  • Bangku dan kursi patah tanpa ada yang mendudukinya. Entah ada apa pada bangku dan kursi. Tiba-tiba patah sendiri tanpa ada penyebabnya. Kami yang menyaksikan sungguh amat terkejut. Tidak lama setelah itu, penjaga sekolah pun meninggal dunia.

Ini lelucon-lelucon mengerikan yang telah aku rasakan dan alami di sekolah tempat aku ditugaskan sebagai kepala sekolah. Aku bersyukur pada Tuhan, bahwa sampai saat ini, sudah 20 tahun bertugas di sana baik sebagai guru kelas dan kini dipercaya sebagai kepala sekolah, aku masih bertahan hidup.

Suatu ketika ada 16 bulir jagung yang bernas ada di dalam lubang pembuangan cirik manusia milikku. Ini terjadi di kakus cimplung. Aku sungguh-sungguh heran. Bagaimana mereka begitu beraninya memasukkan dua ikat jagung itu (masing-masing ikat berjumlah 8 bulir). Sebelum kukeluarkan, aku memanggil para pekerja gereja. Mereka menyaksikan sendiri bulir-bulir jagung yang bagus-bagus itu. Setelah dikeluarkan, aku minta dibersihkan sebersih-bersihnya. Didoakan, lalu aku minta dibuatkan bose. Jumlahnya cukup banyak. Aku minta isteriku memasak bose itu. Kami makan sampai jumlahnya bose itu akhirnya ludes.

Puji Tuhan, selentingan tentang akan terjadi sesuatu pada keluargaku, tidak terjadi sama sekali. Aku dan keluargaku tetap berada di sana sampai hari ini.

Narasumber: Rizal Neolaka

Editor: Heronimus Bani

Andalan

Aku, Angin dalam Roda Kehidupan

Aku, Angin dalam Roda Kehidupan

Angin, mereka mengenalku dengan sebutan itu. Aku diperlukan sejak semula. Paling tidak ketika aku bertiup sepoi, makhluk lain berkata, “Segaar!”
Aku, ketika bertiup kencang dalam kecepatan tertentu, para pelaut memasang layar dan terdoronglah perahu, Melaju ke labuhan dan bandar persinggahan.
Aku, ketikabertiup amat kencang dalam kecepatan yang tak terkira, berlarian dan beterbanganlah segala hal yang menghalangiku. Bencana dapat kuhadirkan ketika aku berlalu. Mereka menyebutkan diriku dengan sebutan badai, lalu diberi nama menurut bahasa mereka.
Aku, Angin, ada yang cerdas memanfaatkanku. Kincir kuputar untuk berbagai kepentingan. Paling tidak ada dua hal yang dapat kulakukan ketika kincir kuputar. Ada air yang kubantu alirkan, dan ada tenaga yang menghasilkan listrik.
Aku, Angin, bahkan diperhitungkan di dunia penerbangan sehingga pesawat boleh terbang atau tidak terbang, selain faktor alam lainnya di udara dan di darat yang turut memberi pengaruh ketika pesawat akan mengudara dan atau mendarat.
Aku, Angin, dapat mengisi berbagai ruang, dimana aku menjadi penyebab berat-ringannya suatu benda beruang itu. Itulah sebabnya aku dapat menetap dalam satuan waktu yang lama di dalam roda. Roda kendaraan manapun yang bergerak di darat, bahkan pesawat sekalipun pada akhirnya akan mendarat. Ketika mendarat, ia melepas cengkeraman pada roda-rodanya, lalu roda-roda itu bagai kaki burung yang hendak mencengkeram tanah agar nyaman seluruh tubuhnya ketika mendarat.
Oh, ya, aku, yang angin ini berguna pula ketika ditabungkan agar dapat disalurkan pada mereka yang sedang koma. Katanya mereka butuh O2 (oksigen). Wah, rupanya aku yang angin ini manfaatnya begitu, ya.

Andalan

Hendak Menggapai Masa Depan

(sambungan)

Rindu dan teman-temannya menampilkan tarian hasil kreasi mereka. Mereka dibimbing oleh seorang Koreogrfer handal. Setiap penari seakan membawakan satu peran berbeda dari penari lainnya. Candu dan teman-teman yang mendapatkan undangan duduk di sana menyaksikan bertunjukan itu. Gerakan-gerakan tari nampak indah.


Ada tiga sesi dalam gerakan tari itu. Sesi yang menceirtakan bagaimana ASN di satu unit instansi yang kurang berdisiplin masuk keluar kantor yang dibumbui kompetensi ASN yang lemah di zaman yang membutuhkan kerja cerdas tepat dan cepat. Zaman dimana orang menggunakan aplikasi e-budgeting, e-planning, e-musrenbang. Di sana sebahagian di antara para ASN seakan menghindar dari tugas-tugas ketika harus berhadapan dengan pemanfaatan produk teknologi informasi komunikasi (TIK).


Sesi kedua bercerita tentang pelayanan di dunia pendidikan. Sesi ini dominan dikisahkan dalam tarian Rindu dan teman-temannya. Rendah minat baca, mendongkrak kemampuan belajar pada bidang-bidang studi tertentu, hingga kemampuan guru pada zaman dimana pembelajaran mesti mulai proses pembelajaran dengan basis teknologi informasi komunikasi. Ada masa transisi dalam lompatan dimana para guru yang terbiasa bekerja secara amat manual (tradisional) beralih ke dunia digital dengan sejumlah aplikasi yang mesti dapat diakses dan dimanfaatkan oleh para guru. Sesi tarian ini banyak berkisah yang menjadikan hati penonton termasuk Candu ikut merasakannya.

Sesi ketiga dari tampilan Rindu dan teman-temannya, nampak pada aspek kesehatan. Satu tampilan di sudut ruang yang disebutkan namanya ICU. Di sana keluarga pasien tidak memahami secara baik dan benar apa itu ICU. Mereka secara enteng menganggap ruangan itu biasa-biasa saja sehingga masuk-keluar tanpa aturan. Sementara para petugas tidak berdaya menghadapi keluarga pasien.

Dari ketiga sesi ini para penari diberi standing applaus yang meriah. Satu nomor tari kreasi baru yang kiranya hendak menyadarkan dunia birokrasi, pendidikan dan kesehatan, pentingnya karakter, moral, etika dan kompetensi manusia zaman ini. Manusia tidak hanya cerdas, pandai dan ahli mumpuni, tapi harus berakhlak mulia. Manusia licik dan licin, koruptif mesti jauh dari dunia pelayanan publik.

Candu dan teman-teman yang menonton, pada akhirnya saling pandang dan saling menyalami sebagai tanda senang. Mereka telah mendapatkan undangan menghadiri, menyaksikan dan menyampaikan opini pada sesi-sesi tarian itu.
Candu dan teman-teman menyampaikan harapan pada Rindu dan teman-temannya, bahwa, masa depan sebagai orang pribadi dalam institusi atau unit kerja akan terbangun dari inovasi kreatif yang dimulai dari ide segar di sini.

Mari menyongsong dan menggapai masa depan.

Koro’oto, 13 November 2019

Andalan

Sang Buruk dalam Kemasan Apik

Pagi ini Rindu memanggil Candu bertemu dalam suatu acara. Rindu sungguh-sungguh ingin bertemu dengan Candu dalam satu acara pentas tari kreasi baru. Rindu berharap Candu dapat mengabaikan kesibukan agar dapat menghadiri acara dimaksud. Candu menyanggupinya. Rindu berpuas diri. Ia mengabarkannya pada teman-temannya bahwa Candu akan tiba. Rindu dan teman-temannya sibuk menyiapkan diri dengan tarian kreasi merka di bawah bimbingan koreografer.

Candu mengabarkan bahwa ia tidak datang sendirian. Ia mengundang pula teman-temannya agar arena pentas itu menjadi lebih ramai dan semarak. Kesibukan Rindu dan teman-temannya sungguh-sungguh tanpa merasakan kelelahan. Persiapan menerima Candu dan teman-teman disampaikan kepada orang tua Rindu.
Orang tua Rindu tak tinggal diam. Mereka menyiapkan ritual penerimaan secara sederhana, bahkan amat sederhana.\


Hari yang ditentukan tiba. Candu pun berangkat. Rindu dikabari melalui teks pesan singkat. Candu mengendarai sepeda motor. Demikian pula teman-temannya. Mereka menuju ke kediaman Rindu. Di sana telah menunggu Rindu, teman-temannya dan orang tua Rindu. Candu dan teman-temannya mulai berdatangan. Mereka benar-benar ingin melihat penampilan Rindu di panggung pertunjukan. Ia ditemani ketika pertunjukan berlangsung. Masing-masing memainkan perannya. Orang tua Rindu duduk pula menyaksikan sambil memberikan komentar membanggakan dan menjengkelkan. Di antara pernyataan orang tua Rindu pada pertunjukan itu, ada pula kritik yang menyakitkan, sekalipun Candu dan teman-temannya memberikan dorongan membanggakan.


Di belakang layar sana, para pembantu orang tua Rindu menyiapkan konsumsi kepada Candu dan teman-temannya. Di antara kesibukan itu, mereka tidak lupa menyisakan satu kesibukan untuk melancarkan kepulangan Candu dan teman-temannya. Mereka membuatkan minuman teh dingin, disertai makanan pengganjal perut kosong. Tidak lupa para pembantu menyediakan uang jajan sebagai tanda terima kasih.
Candu tanpa curiga sedikitpun. Ia dan teman-temannya menikmati minuman dan makanan yang disediakan. Rindu dan orang tuanya serta temannya pun menikmati makanan yang disediakan pembantu orang tuanya, tetapi di ruangan yang berbeda dengan ruangan yang disediakan untuk Candu dan teman-temannya.


Kepada Candu dan teman-temannya disodori lembaran untuk ditandatangani. Candu melihat di ujung lembaran itu tertulis angka Rp300.000.- Lembaran itu harus ditulis dua kali. Candu tanpa curiga sedikitpun menerima amplop itu. Temannya yang lebih senior dikenai pajak yang ditagih kembali oleh para pembantu. Nilai pajaknya tidak diketahui berapa prosen. Mereka memintakan nilai nominal sebesar Rp20.000.-
Candu dan teman-temannya pun hendak pulang ketika pertunjukan selesai. Selesai pula sesi foto bersama dan selfi. Selesai pula menikmati makanan dan minuman serta tanda tangan daftar hadir berisi biaya yang disebutkan sebagai transport datang dan pulang.
Candu dan teman-temannya berdiri di luar gedung pertunjukan. Mereka membuka amplop itu. Betapa terkejutnya Candu. Di dalam amplop itu terdapat lembaran-lembara uang yang terdiri dari: seratus ribu rupiah, satu lembar. Lima puluh ribu rupiah, satu lembar. Dua puluh ribu rupiah, dua lembar. Jika dijumlahkan Rp300,000.- ha ha… Betapa bodohnya Candu menghitung.

Candu menghitung lagi secara bersusun100.000 50.000 20.000 20.000Ternyata nilainya hanya Rp190,000.- Candu mengabari Rindu bahwa sebenarnya kehadiran mereka hanya untuk menonton pertunjukan. Mereka tidak butuh diberi ongkos untuk pulang, karena kedatangan ke situ atas dasar sukacita untuk melihat pertunjukan Rindu dan teman-temannya. Orang tua Rindu dan para pembantunya tidak perlu memberikan biaya pengganti transportasi. Jika diberi biaya itu semestinya diberikan secara tulus, bukan menulis Rp300.000 di daftar tetapi di amplop nilainya Rp190,000 apalagi dikurangi Rp20.000.-


Rindu bingung dan malu. Ia mengundang Candu untuk pertunjukan tariannya bersama teman-temannya yang telah mengkoreografikan satu tarian baru. Tarian itu dibimbing oleh seorang koreografer handal. Tarian itu dikomentari oleh seorang komentator yang aduhai betapa jelinya mata dan rasa darinya.

Ketika kabar itu akhirnya harus diterima Rindu. Rindu menyampaikan baahwa ia dan teman-temannya mula-mula tidak mengetahui jika hal itu dilakukan. Orang tuanya mungkin tidak berencana mengurangi nilai rupiah yang disiapkan oleh mereka sendiri.
Wah, jadi orang tua Rindu telah menyediakan biaya pengganti untuk Candu teman-temannya yang datang menonton. Sementara para pembantu orang tua Rindu, memalak sebesar Rp110.000; artinya mereka telah mengembat sebesar 58% biaya transport yang idsediakan untuk Candu dan teman-temannya.

Betapa para pembantu membungkus secara amat sangat rapih keburukan sifat mereka. Padahal, Rindu baru saja menarikan satu tarian yang teramat indah. Tarian itu mengisahkan di antarnaya ketulusan dan sikap antikorupsi. Betapa sedihnya Rindu dan teman-temannya ketika mengetahui bahwa para pembantu telah memalak 58% nilai nominal yang disediakan untuk Candu dan teman-temannya.


Itulah yang sudah terjadi. Sekalipun ada profesor kejahatan, pembantu yang berdiri di belakangnya teramat rapih membungkus keburukan itu sehingga tidak dinyana dan disangka oleh penerima tanda terima kasih.

Begitulah, bagaimana menghapus korupsi jika masih ada praktik seperti itu? Betapa sedihnya, widyaiswara berkoar, widyakartu bermain kartu remi di belakang mereka.

Terima kasih.
Kupang, 12 November 2019

Andalan

Bengkel Cinta Kasih

BENGKEL CINTA KASI

Pagi ini, Yongki bangun pagi-pagi sekali. Ia berencana berkunjung ke suatu tempat. Setelah mempersiapkan beberapa hal termasuk sarapan, Yongki berangkat. Sepeda motornya meraung dan meliuk di keramaian kota. Dengan kecepatan di atas rata-rata kecepatan lalulintas di dalam kota, Yongki terus melaju. Dan tiba-tiba, “Braaaak. Ciiiit!” Sepeda motor yang dikendarai Yongki menabrak separator jalan. Beruntungnya, Yongki tidak mengalami luka parah, sedikit luka lecet. Sepeda motornya patah dan retak pada beberapa bagian bodynya.

Yongki membawa sepeda motor itu ke bengkel terdekat. Ia mendorong sepeda motor itu agak ke dalam dan diparkirkannya. Ia melirik beberapa pamflet iklan. Ia mengangkat mata dan kelihatan terbaca jelas nama bengkel dan sekaligus iklannya.

Di sini Bengkel Cinta. Kami melayani:

# Las luka hati karena putus cinta,

# Ganti lampu kasih sayang setelah redup dan padam

# Isi oli bersih setelah cairan cinta kasih dikotori selingkunhan

# Solder urat kecantikan setelah termakan usia cinta kasih

# Dumpul kegantengan setelah terjemur panasnya cinta

# Plitur kulit kerut setelah kerennya berakhir ditelan cinta

# Ganti berbagai onderdil cinta kasih dengan onderdil cinta kasih terbarukan.

Semuanya kami layani secara gratis. Anda dituntut secara sederhana. Berikan cintamu setulus-tulusnya pada dia yang paling dicintai, dan pada semua orang serta terlebih pada TUHAN, Dia Sumber Kasih Sayang itu.

Setelah membaca, Yogki pulang karena ia baru saja putus cinta.

Andalan

Sangkala dan Serigala Pemburu

SANGKALA DAN SERIGALA PEMBURU[1]

Di hutan belantara Arheem, hiduplah serigala-serigala yang keganasannya tak tertandingi. Serigala-serigala ini tidak mempunyai belas kasihan pada binatang lain di dalam hutan itu. Binatang-binatang yang dianggap sulit ditaklukkan, pasti dibunuh dengan cara dikeroyok, dicabik dan dimakan beramai-ramai.

Sebagai serigala mereka mempunyai kebiasaan yang sudah menjadi budaya. Budaya serigala ini adalah menangkap mangsa, dicabik-cabik, lalu berbagi di antara mereka untuk dimakan. Pesta daging di gua tempat tinggal mereka. Seringkali, jika hasil buruan sedikit, mereka tak segan-segan tidak berbagi.  Dalam budaya seperti itulah mereka jalani kehidupan di belantara Arheem.

Suatu hari, datanglah seseorang yang luar biasa. Ia ahli tentang binatang hutan, bukan sekedar pengetahuan dan kepakaran, tapi juga cara menjinakkan mereka. Ia telah menunjukkan kepakarannya pada berbagai jenis binatang hutan, di antaranya buaya. Buaya yang paling jahat sekalipun telah dijinakkannya, bahkan telah mau mengikuti segala kemauan orang ini. Orang ini bernama Sangkala.

Hari itu, Sangkala masuk ke hutan. Banyak binatang liar berlarian menghindari Sangkala. Mereka mengira ia seorang pemburu yang akan menangkap mereka. Sangkala masuk semakin  ke dalam hutan hingga tiba di gua tempat tinggal dan berbudaya serigala-serigala. Gua itu bernama, Gua Festanaa. Sangkala disambut gonggongan berapi-api dari serigala-serigala ini. Beberapa ekor bahkan mengeluarkan suara lolongan panjang.

Beberapa ekor serigala yang terkenal ganas mencoba mendekat untuk menggigit dan mencabik Sangkala. Anehnya, Sangkala tidak melawan. Ia bahkan membiarkan tubuhnya dicabik, dengan tidak membalas. Sangkala tetap saja terdiam, namun sorot matanya tajam pada setiap serigala yang menggonggong dan melolong. Sampai di sini Sangkala membalikkan badannya untuk pulang. Serigala-serigala itupun masuk kembali ke gua tempat tinggal mereka. Mereka terdiam. Gua Festanaa yang biasanya hiruk-pikuk, riuh-rendah karena kesibukan, tiba-tiba lengang. Ada keheranan pada mereka, mengapa Sangkala membiarkan tubuhnya dicabik berdarah, tetapi tidak membalas?

Serigala-serigala itu kembali ke dalam budaya mereka, berburu, mencabik hasil buruan, berbagi atau menikmati sendiri dalam kelompok kecil, hingga individu.

Beberapa waktu kemudian Sangkala kembali ke dalam hutan Arheem yang membentang amat luas. Setiap jengkal tanah yang dilewati Sangkala, binatang-binatang di hutan bersembunyi menghindarinya. Ya, mereka kuatir, jika Sangkala akan menangkap mereka.

Kali ini Sangkala tiba di Gua Festanaa, serigala-serigala itu kembali menyambutnya di pintu gua. Kali ini dengan cara berbeda. Serigala-serigala senior berdiri paling depan, disusul separuh baya, dan akhirnya anak-anak serigala bersama induk masing-masing. Agaknya mereka telah berdiskusi sepulangnya Sangkala pada kunjungan pertama. Hasilnya nampak pada kunjungan kedua ini. Bagai diberi aba-aba, separuh dari barisan depan menyerbu. Serbuan mereka tidak ditangkis Sangkala. Sangkala justru membiarkan dirinya dipermainkan para serigala. Para serigala akhirnya kelelahan sendiri. Lalu datang lagi serbuan dari sisa jumlah pada barisan yang sama. Berkali-kali mereka menyerang Sangkala. Mereka kelelahan lalu lemas di samping Sangkala.

Barisan kedua dan ketiga terdiam. Mereka hanya menggonggong dan melolong saja. Barisan pertama terdiri dari para jagoan terpilih dari kaum serigala liar itu telah kalah, sedangkan barisan kedua dan ketiga kekuatannya dapat diukur.

Sangkala mengambil tongkatnya. Tongkat ajaibnya digulingkan pada tubuhnya yang terluka. Seluruh luka tinggal bekasnya saja. Kini, Sangkala menepuk secara perlahan pada dua puluh ekor serigala liar terpilih. Tepukannya membangunkan mereka. Mereka seakan terhipnotis untuk patuh pada Sangkala. Mereka yang tadinya liar, kini menjadi amat jinak bahkan mendekat pada Sangkala dan mulai menjilat telapak kakinya.

Sangkala beranjak untuk kembali. Dua puluh ekor serigala liar terpilih mengikuti dari belakang. Serigala-serigala liar lainnya ditinggalkan di Gua Festanaa. Mereka yang tinggal kembali ke dalam kehidupan yang lazim. Berburu dan menikmati hasilnya.

Sementara itu, dua puluh ekor yang mengikuti Sangkala telah keluar dari hutan. Mereka meninggalkan kebiasaan dan budaya serigala liar. Sangkala tidak mengkandangkan mereka. Ia membiarkan mereka hidup bebas dalam pengawasannya sambil diberi makanan yang layak sebagaimana mereka berada di alamnya. Namun, makanan yang diberikan kali ini diberi takaran agar mereka dilatih berdisiplin.

Setelah tiga tahun berada di rumah Sangkala. Mereka telah benar-benar menjadi jinak. Satu hal yang tidak diubah secara drastis adalah ketrampilan berburu dari para serigala liar itu. Yang dipoles dari mereka adalah, hasil berburu harus diserahkan kepada Sangkala sebelum mereka menikmati. Polesan ini menjadi teramat penting agar mereka tidak menjadi makhluk egois yang mementingkan diri sendiri dan kelompoknya.

Polesan Sangkala nampaknya telah berhasil. Ia hendak melepas ke-20 serigala liar polesannya ini kembali ke hutan. Ia melakukan ritual pelepasan. Di dalam ritual itu ia berpesan agar mereka saling memperhatikan, saling menolong, menasihati, menghibur dan menguatkan. Pesan terakhir yang harus dilaksanakan adalah, setiap akhir pekan mereka harus kembali dengan membawa hasil buruan. Mereka tidak boleh makan hasil buruan sebelum tiba di tangan Sangkala. Bila mereka ingin makan, makanlah sesuatu yang bukan milik Sangkala. Pesan ini diingat secara baik.

Mereka berangkat. Mereka berburu.

Sangkala mendapat banyak cerita ketika para pemburunya kembali membawa hasil berburu. Ada yang diserang, namun berhasil menang karena ketenangannya. Ada yang mengalami kecelakaan, namun berhasil ditolong rekan-rekannya. Ada tersesat, namun berhasil dibawa kembali ke jalan karena suara yang sama mereka perdengarkan. Lebih-lebih lagi ceritanya ketika mereka kembali ke Gua Festanaa, mereka disambut dengan kebencian. Tetapi, ada yang berhasil mengikuti jejak mereka untuk menjadi serigala jinak. Ketika jinak, mereka menjadi bagian dari keluarga Sangkala.

Bertahun-tahun serigala-serigala polesan Sangkala bekerja. Cerita yang membanggakan atau mengecewakan disampaikan pada setiap evaluasi. Hasil buruan selalu mereka nikmati setelah tiba di tangan Sangkala. Sangkala selalu memberi hadiah setiap kali mereka membawa hasil buruan. Mereka tidak menikmati seluruhnya, tetapi ada persediaan bilamana mereka pulang dengan hasil yang tidak memuaskan namun berbalut kejujuran.

Serigala-serigala polesan Sangkala yang sudah tua berhenti berburu. Mereka digantikan posisinya oleh yang datang kemudian dengan semangat yang sama yaitu melayani Sangkala, melayani sesama dan diri sendiri.

Generasi-generasi selanjutnya mulai berkurang semangatnya. Pikiran kotor sebagai binatang liar merayapi otak dan benak. Hati serigala kembali bergejolak. Mereka tidak mau taat lagi pada Sangkala. Kemunafikan mulai dipertontonkan. Hasil buruan dikikis sebelum sampai di tangan Sangkala. Ketika mereka membawa hasil, wajah mereka muram pertanda sedih, bahkan menangis di hadapan Sangkala. Kepura-puraan dibawa setiap kali mereka mengantar hasil buruan.

Sangkala mengetahui akan hal ini, namun ia masih memberikan kesempatan agar serigala-serigala pemburunya mau menyadari akan kekeliruan mereka.

Sangkala membisu penuh makna. Kata-katanya muncul dari gerak tubuhnya. Serigala-serigalanya pun mengetahui akan hal ini. Mereka bahkan selalu menggaungkan kata-kata Sangkala ketika berada di arena perburuan. Kata-kata Sangkala menundukkan mangsa. Mangsa-mangsa menyerah. Sayangnya, para mangsa dibuat cacat oleh pemburunya. Buruan yang cacat yang dibawa masuk ke rumah Sangkala. Sangkala sedih, tapi ia tetap menerima hasil buruan dan membagikan kepada para serigala pemburu sesuai porsinya.

Setiap kali Sangkala menyendiri di bukit, ia bergumul dengan ketidakjujuran serigala-serigala pemburunya. Generasi terdahulu teramat jujur, generasi terakhir kini luntur kejujurannya.

Sangkala, belum mau menggunakan tongkatnya untuk menghukum. Ia masih menggunakan gestur tubuhnya yang dapat dibaca sebagai kata-kata peringatan dan nasihat. Semoga mereka mau sadar.


[1]Anak-anakku, jadilah serigala pemburu ilmu pengetahuan yang jujur. Jujurlah pada Tuan pemilik segala ilmu pengetahuan. Tuanmu itu akan memberikan tambahan ketrampilan dan keahlian sebagai hadiah bila kamu jujur padanya. Ditulis sebagai hadiah pada lulusan SD Inpres Buraen Tahun Pelajaran 2017/2018

Andalan

Terlupakan dalam Urusan Pernikahan

Terlupakan dalam Urusan Pernikahan

Aih… ada apa ini?

Saya sudah menulis sebelumnya tentang nikah massal nikah miskin, sisi positif dan (mungkin sedikit) sisi negatifnya. Beberapa orang telah membaca, ada yang menyukai dan terlebih lagi telah memberikan komentar dan diskusi mengenai hal itu.

Saya teringat akan satu hal yang biasanya terjadi dalam urusan pernikahan/perkawinan, yaitu, Panitia Penyelenggara Resepsi. Ada beberapa oknum yang dianggap mempunyai peran penting dalam kepanitiaan yang dibentuk seperti dadakan pada acara apa yang disebut pica bok. Orang di Pah Amarasi menyebutnya, hirik pika’-sono’.

Tulisan ini tidak menyebut semua yang terlibat dalam panitia, kecuali menyebutkannya sambil lalu saja, di antaranya urusan dapur yang menggunakan istilah ibu dapur atau mama dapur.

Sang ibu dapur sudah harus dapat menghitung besaran anggaran yang dibutuhkan, jenis menu yang akan diolah dan disajikan, jumlah orang yang akan menikmati, dan menaruh rasa kuatir atau percaya diri akan suksesnya acara resepsi perkawinan/pernikahan. Mengapa? Menu dan sajiannya, pelayanannya pada para tamu undangan akan memberi nilai istimewa pada pasangan mempelai dan orang tua mereka atau sebaliknya tetamu undangan pulang dengan kesan yang … .

Masih di area dapur resepsi pernikahan/perkawinan. Di Pah Amarasi ada petugas-petugas yang disebut Araun, tugasnya mengurus sedemikian rupa sehingga persediaan daging cukup. Ia harus dapat memastikan dan meyakinkan tuan/puan pesta bahwa daging yang tersedia jumlahnya telah cukup dan jitu. Semua petugas dapur akan menikmati sisa-sisa setelah semua tamu, tuan/puan pesta menikmati. Ketika itu daging pun akan habis di haar sisi.

Di dapur ada orang yang tugasnya membersihkan perlengkapan makan-minum. Petugas cuci piring. Saya pernah menjalani ini sebagai ketua seksi cuci piring. Pengalaman ini saya coba tulis di sini. Ketika itu saya menyusun anggota agar bertugas khusus, tiap orang dengan satu jenis barang. Ada petugas cuci gelas, cuci sendok, cuci piring mangkok, cuci piring ceper, cuci baskom, dan terakhir cuci periuk dan cuci kuali/tacu. Lalu sua orang khusus untuk mengeringkan (lap piring gelas sendok). Jadi tidak ada yang diam sambil panggang api. Di pedesaan, tugas seperti ini tidak dilakukan oleh ketua seksi cuci piring. Siapa saja yang menjadi anggota, mereka berkumpul dan ramai-ramai main air.

Sekarang, coba cek di album foto para pengantin yang resepsinya sederhana hingga yang mewah. Berapa banyak pengantin yang menyimpan foto orang-orang di dapur?

Petugas penerima tamu, dipastikan ada wajahnya. Petugas penjemput makan, pasti ada wajahnya walau dijepret secara tidak sengaja karena fokus pada orang lain. Petugas penyaji sirih-pinang (mapua’) ada wajahnya karena ketika orang-orang terhormat duduk di barisan depan, mereka akan mendapatkan sajian tempat sirih-pinang oleh petugas apua’.

Akh…

Tulisan ini apalah artinya. Semua yang sudah pernah menikah dan yang akan menikah, ketika berencana mengumpulkan keluarga untuk memeriahkan resepsi di rumah (bukan di resto atau hotel), adakah yang memesan fotografer untuk memotret asonet, araun, asaef pika’?

Bagitu su… selamat sore.

Heronimus Bani

Koro’oto-Pah Amarasi, 5 November 2019

Andalan

Status Guru Melayang Siapa yang Perlu Disudutkan?

Status Guru melayang Siapa yang perlu Disudutkan

Banyak guru mengeluh ketika namanya tidak lagi muncul dalam Surat Keputusan penetapan Guru Kontrak Daerah. Pertemuan demi pertemuan dengan pejabat yang menandatangani Surat Keputusan ini melahirkan Revisi keputusan. Ketika revisi terjadi, jumlah orang bertambah, sementara nama dari mereka yang tidak disebutkan sebelumnya makin tidak jelas, alias telah melayang jauh.

Apa yang terjadi selanjutnya di sekolah?

Guru yang tadinya berstatus Guru Kontrak Daerah mengalami depresi dan mulai menunjukkan keengganan dalam melakukan tugas-tugasnya sebagai guru. Mengapa?

Secara hukum, statusnya tidak lagi menjadi jelas di sekolah. Bukan guru honor, bukan pula guru kontrak. Di sekolah negeri/inpres, di sana ada guru dengan status ASN, Kontrak Daerah, dan Honor Komite. Di sekolah swasta, ada Guru Tetap yayasan, Guru Kontrak Yayasan, dan Guru Honor, serta ASN yang diperbantukan.

Ketika para guru tidak lagi mempunyai status secara legal formal, apa yang mesti dilakukan oleh Kepala Sekolah? Bagaimana pula jika sang guru yang telah bersertifikat Pendidik, telah lulus dalam PLPG, telah pula menikmati tunjangan profesi, kemudian statusnya melayang jauh akibat dari tidak ditempatkan kembali namanya dalam Surat Keputusan yang diterbitkan setiap tahun untuk para guru kontrak daerah?

Dapodik yang diisikan, pada info GTK, patut diisi dengan nomor-nomor surat yang pasti. Nomor SK, tanggal SK, Pejabat yang menandatangani. Semua itu berdampak pada aspek hukum ketika orang mulai menikmati sisi sebelahnya yaitu, kesejahteraan (gaji, tunjangan, honor).

Jika seorang guru tanpa status legal formal, bukankah perlu ada kebijakan yang akan menolong dia di masa yang akan datang agar tidak dirugikan?

Bila hari ini dapodik masih diisi untuk selanjutnya dalam info GTK namanya masih berkutat di sana, lalu ia menikmati tunjangan itu, apa yang akan dialami pada masa depan ketika terjadi auditing? Bukankah akan ditemukan bahwa, seseorang telah menikmati anggaran negara (rakyat) tanpa dasar hukum yang otentik?!

Maka, ketika status guru kontrak melayang jauh, diperlukan kesabaran. Ada harapan, ketika tahun berikutnya ada perubahan SK penetapan Guru Kontrak Daerah yang baru, saat itu mungkin namamu ada di sana.

Satu pengalaman telah terjadi di sini mengenai status legal-formalnya seorang guru kontrak daerah yang telah bersertifikat pendidik. Pedih dan perih

Heronimus Bani
Koro’oto-Pah Amarasi, 6 Nov 2019

Andalan

Arkeen

Judul di atas saya tulis dalam bahasa Amarasi. Dua fonem /ee/ dibaca secara satu bunyi. Kata ini dalam Bahasa Indonesia, adopsi. Apa maksudnya menulis judul ini di sini?

Saya hendak menjawab satu pertanyaan via aplikasi WhatsApp dari seorang pembaca. Bagaimana tata hukum adat di kalangan Pah Amarasi ketika orang mengadopsi anak? Saya berjanji memberikan jawabannya melalui tulisan di blog. Itulah alasannya mengapa saya tempatkan di sini dengan judul yang tak biasa ini.

Saya mulai dari istilah yang ada di judul, arkeen. Sepasang suami-isteri dapat mengadopsi seorang anak atas alasan: mereka tidak mempunyai anak dari hasil pernikahan. Itulah satu-satunya alasan mengapa orang mengadopsi anak. Tapi, anak yang bagaimana yang dapat diadopsi?

Anak yang dapat diadopsi adalah anak yang dilahirkan oleh suami-isteri yang masih ada hubungan kekerabatan yang kental. Akan sangat lebih baik jika yang diadopsi itu adalah anak dari saudara kandung (se-ayah, seibu). Mengapa? Hal ini akan memudahkan dalam hal penempatan nama nonot, nama keluarga, atau yang dikenal luas sebagai marga atau fam. Mestinya, nama marga tidak berbeda agar terjadi kemudahan dalam urusannya.

Bagaimana mengurusnya? Mudahnya adalah, membiarkan anak itu menjadi anak dari sepasang suami-isteri. Pasangan suami-isteri ini boleh mengambilnya sejak berumur maksimal satu tahun sebelum ia disapih. Ketika itu, pasangan suami isteri inilah yang menyapihnya. Lalu, sejak itulah anak ini akan menjadi anak kandung. Ia tidak disebutkan lagi sebagai anak yang diadopsi (arkeen, atau istilah lain aan kahu’).

bersambung

Heronimus Bani

Andalan

Ke Boti Cari Apa?

Ke Boti, Cari Apa?

Kemarin, (29/10/19), saya dan tim yang melakukan suatu tugas terpaksa libur. Mengapa? Karena ada anggota tim yang benar-benar berhalangan dan tidak dapat digantikan posisinya oleh siapapun. Jumlah mereka sebanyak 3 orang dan menyisakan hanya satu orang. Dengan begitu, proses yang kami lakukan terpaksa diliburkan.

Haruskah kami yang lain berlibur di rumah saja? Tidak! Kami mengambil ancang-ancang untuk suatu trip menarik. Menariknya itu karena tempat yang dituju merupakan satu tempat yang sudah amat tersohor bahkan sampai ke mancanegara.

Boti

Senantiasa orang menyebut Boti. Suku Boti. Pah Boti. Halaika. Boti Dalam, Boti Luar. Kami hendak melihat langsung apa yang sesungguhnya semua ini.

Puji Tuhan, alhamdulilah. Adalah seorang anak yang bersekolah di salah satu sekolah menengah pertama di kota So’e. Anak ini berasal dari Boti. Ia tinggal bersama anggota tim UBB di So’e. Ketika saya bertanya, “Kamu dari mana?”

Dia memberikan jawaban yang tak saya sangka, “Saya dari Boti.”

Jadilah kami berpikir, bagaimana kalau kita ke Boti.

Kami pun berangkat ke sana. Jumlah anggota rombongan, tujuh orang. Pukul 10.00 kami berangkat dari kota So’e mengarah ke Niki-Niki. Di kota kecil Niki-Niki kendaraan diarahkan ke timur. Di persimpangan Tumu’, di sana jalan bersimpang tiga, salah satunya terus mengarah ke timur menuju lokasi yang kami tuju, dan satunya lagi menuju ke wilayah Amanatun, kota Oinlasi yang disebutkan namanya pada papan penunjuk jalan itu.Menurut data googlemaps,untuk mencapai Boti, orang harus menempuh jarak 43,5 km dalam waktu satu jam lebih.

Setelah jalanan beraspal berakhir, kami harus mandi debu di tengah teriknya siraman cahaya matahari. Tapi, apakah mata dipicingkan? Tidak juga. Justru mata dibelalakkan karena lembah-lembah dan bukit-bukit yang kering dan gersang. Jalanan berdebu dengan turunan yang tajam disertai tikungan atau belokan yang mendebarkan. Bagi mereka yang sudah terbiasa menggunakan jalan itu, hal itu biasa-biasa saja.

Ada dua titik tempat dimana kami berhenti untuk berfoto. Para muda yang jumlahnya 7 orang dan saya yang tua ini pasang aksi. Ketika pulang, saya mengecek jumlah lembaran foto saya tidak kaget kalau angkanya mencapai seratusan. Mungkin saja masih akan bertambah, tetapi energi yang tersimpan dalam baterei telah tiada alias soak. Jadi, jumlahnya hanya seratusan saja.

akh… zaman bergambar diri. Ada sebutan narsis. Akh… peduli apa?

Kami akhirnya tiba di pintu gerbang (eno’ ‘kono’) menuju Boti. Menariknya, di pintu gerbang itu tertulis Wellcome to Boti. Saya berpikir, tempat itu masyarakatnya pasti berbicara dalam Uab Meto’ dan tulisan selamat datangnya dalam Uab Meto’. Ternyata tidak demikian.Tulisan itu baru kami temukan dan baca di depan pintu masuk ke sonafnya raja/usif Boti, koenok teem teu Pah Boti.

Kesan ketika masuk ke Boti.Pertama, jalan menuju ke tempat itu. Begitu terkenalnya tempat itu, sehingga pemerintah daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan telah meningkatkan kualitas jalan yang kiranya mungkin akan segera diaspal. Sementara ini sudah perkerasan jalan dengan membelah bukit-bukit yang curam. Ketika pergi ada turunan dan tanjakan, begitu pula sebaliknya. Debu membungkus kendaraan, bahkan mobil yang kami tumpangi yang rendah sempat tidak dapat maju akibat masuk dalam tumpukan tanah berdebu tebal.

Kedua, dunia modern telah diterima oleh masyarakat Boti yang dulunya dikenal sebagai masyarakat terasing. Jika orang di Boti,khususnya kaum lelaki tidak menggunting rambutnya, itu hal yang lumrah. Tapi, jika sudah berkendaraan roda dua, itu bagi saya sudah luar biasa. Masyarakat yang dianggap begitu, mungkin belum menerima produk teknologi modern.

Ketiga, listrik telah sampai ke sana. Dan terlebih lagi sudah ada bangunan sekolah, Sekolah Dasar dan Sekolah menengah Pertama yang seatap. Pasar tradisional mingguan, dan bahkan kehidupan beragama semawi sudah ada pada mereka, kecuali hal ini belum diterima oleh komunitas paling kecil penganut Halaik.

Keempat, alam Boti. Lingkungan alam di Boti, nampak gersang. Sumber air terdekat debitnya sangat kecil. Tapi, katanya tak pernah berkurang atau bertambah. Pada musim kemarau, masyarakat yang membutuhkan air dalam jumlah besar mesti berkendaraan sepeda motor untuk mengambil air di kali. Daerah itu, sepintas terlihat bagai dalam kuali. Ketika sudah tiba di dalam Pah Boti, mengangkat wajah, kita akan memandang di sekelilingnya perbukitan. Nama bukit-bukit itu, Lunuh, Neo dan Tubuhu’e.

Kelima, ketenangan dan kesunyian. Sekalipun ada kendaraan roda dua dan roda empat yang melintas, tetaplah ada sepinya. Bahkan terasa sangat sepi.

Hari sudah semakin senja ketika kami mau bertemu usif/raja. Kami terpaksa membatalkannya karena kami tidak mempunyai mafefa’, juru bicara.

Aih…

Kesempatan yang lain kami akan bertemu. Kami pun berbalik arah kembali ke So’e. Pemandangan senja yang memanjakan mata, mendebarkan jantung ketika mendaki di jalanan dengan tikungan-tikungan tajam. Bagi mereka yang berkendaraan tangguh, hal itu biasa saja. Kendaraan yang kami tumpangi, tidaklah demikian.

Begitulah kisah kami ketika ke Pah Boti. Belum seberapa yang dapat disampaikan yang sifatnya boombastis, mencengangkan.

Semoga berkenan.

So’e sambung di Koro’oto, 30, 31 Oktober 2019

Heronimus Bani

Andalan

Di Kedai Lala

Mengikuti kegiatan yang melelahkan, apalagi menjadi fasilitatornya, sungguh suatu kehormatan dan tanggung jawab yang tiada taranya. Apalagi, kegiatan itu berhubungan dengan terjemahan kitab suci. Saya dan tim dari UBB khusus tim/konseptor kitab Kisah Para Rasul Uab (Bahasa) Amanuban (Banam) di Timor Tengah Selatan. Kami menargetkan untuk membaca, membahas, mengoreksi ejaan, diksi, frase, kata, kalimat, paragraf, ejaan, tanda baca, dan lainnya. Semua itu harus dikerjakan sebaik-baiknya agar tidak mengurangi atau keluar dari makna yang sesungguhnya dari bahasa aslinya, Bahasa Yunani. Ini bukan tugas ringan, apalagi tiada pedoman penulisan. Pedoman itu ada pada pengetahuan konseptor yang terlatih, fasilitator dan konsultan.

Hari-hari berlalu sejak 21 Oktober sampai pada 25 Oktober, terjadilah hal ini di kedai X di kota So’e. Sore itu kami kembali dari Niki-Niki tempat kami melaksanakan tugas. Sebelum ke penginapan kami mampir untuk makan malam. Kami mampir di satu kedai yang kelihatannya sederhana, namun mewah. Kursi-kursi penuh. Kami pindah. Kami mendapatkan satu warung yang ramai namun masih ada tempat duduk yang kiranya untuk kami berlima pun masih mungkin. Tapi, stok makanan sudah menipis hingga yang kami harapkan pun telah ludes dilalap mulut-mulut pelahap. ha ha…

Kami berbalik lagi ke sang kedai. Kami pun mendapatkan tempat duduk. Itupun setelah ada konsumen yang meninggalkan tempat duduknya. Kami pun mengambil tempat menggantikan mereka yang meninggalkan kedai itu. Pemimpin rombongan bersegera. Ia sigap memilih makanan pada kami sesuai menu yang tersedia. Jadilah kami memesan makanan dan minuman.

Ada teh panas, kopi jahe, jeruk hangat, dan es krim berteman dengan pisang berkeju fix susu. Minuman yang kami pesan sudah klop. Lalu makanan. Daripada kesulitan, jadilah yang paling mudah. Bakso.

Daftar pesanan diantarkan pada para pelayan. Kami pun menunggu. Sambil menunggu kami bercerita apa saja yang dapat kami ceritakan untuk membuang waktu. Sesekali kami membuang mata ke monitor dimana ditayangkan klip dan lagu-lagu dari penyanyi dengan nama belakang Ora. Kiranya ada juga di luar negeri sana yang bermarga Ora seperti orang di Timor. ha ha… begitu komentar kami.

Waktu bergulir. Kami terus bercerita sambil mengamati interior kedai. Kurang lebih setengah jam kemudian minuman pun datang. Kami mulai menikmati minuman sambil berharap, makanan segera menyusul.

Para konsumen yang mengisi ruangan yang tidak seberapa luas itu bercerita di meja masing-masing. Ada yang menggabungkan dua meja atas alasan, jumlah mereka lebih dari empat orang. Lalu mereka berbicara dengan suara keras dan tertawa terbahak, seakan mereka sendirian di dalam kedai itu. Perokok menarik asap dalam-dalam, memasukkannya ke dalam rongga dada untuk memberitahukan darah, sel-sel, urat, jantung dan paru-paru bahwa itu adalah kenikmatan, lalu menghembuskan kembali ke udara di dalam ruangan itu untuk menyampaikan salam menyongsong penyakit pada masa yang akan datang.

Beberapa yang lain mengambil posisi duduk yang menunjukkan kelas hidup mereka sudah mapan. Tidak peduli pada mereka yang duduk di meja lain. Di sana ada anak-anak, bahkan seorang bertopi kemudian dikenali sebagai kepala desa. Mereka menyapanya dengan teriakan a-la rekan yang gaul.

Di sisi lain, beberapa ibu menikmati makanan sambil berleha riang dengan smartphone mereka. Bicaranya perlahan, makannya amat sopan.

Sang orang bertopi yang disapa sebagai kepala desa itu menerima telpon dari seseorang. Ia menyampaikan bahwa, mereka sedang menunggu pesanan. Pesanan masih dalam proses. Kami pun demikian. Kami masih menunggu makanan yang masih dalam proses olah saji. ha ha…

Lebih dari sejam kemudian datanglah makanan. Kami tidak dapat lagi untuk berdoa. Langsung saja melahap makan yang memang akhirnya diakui sebagai lezat dan nikmat. Tapi, lamanya bagai mencari lauk fui berduri di hutan. Ketika mendapatkannya, harus berhati-hati karena durinya dapat melukai jemari dan tapak tangan.

Seorang konsumen yang telah membayar pesanannya, menarik kembali uangnya. Ia memilih pindah lokasi karena lamanya menunggu pesanan. Ia pergi dengan wajah kecut dan perut lecet belum terisi. Beberapa orang mulai meninggalkan meja mereka, dan ada yang langsung menggantikan posisi mereka. Sepasang suami isteri bersama dua anak duduk di sana. Sang suami merokok di depan anak, dan tidak peduli bahwa di sekitarnya orang lain sedang menikmati makanan yang lezat, sedap dan nikmat, tapi kami lesu dan lelah.

Pemesan makanan untuk kami, pesanannya baru tiba setelah kami selesai menyantap pesanan yang ia pesankan untuk kami. Aih… Lamanya…

Jadi, kami mulai berpikir. Mungkin sebaiknya kalau hendak ke kedai itu, haruslah terlebih dahulu makan di rumah. Lalu pergi ke sana untuk memenuhi tempat duduk, merokok, berbincang, main game di smartphone, atau bermedsos riang dalam temaram lampu di kedai itu.

Mungkin baik bagi sepasang kekasih untuk berpacaran di tempat itu.

Mungkin baik pula pada mereka yang suka menganggap waktu bukan sesuatu yang berharga ketika malam mulai membayang membungkus mayapada.

Atau berbagai mungkin yang lain.

Namun, satu hal lainnya. Kami pikir, di sana ada usaha dan kerja keras dari para muda pemilik kedai itu. Aku beri sebutan padanya Kedai Lala… Maksudnya, bila kudendangkan akan menjadi tra la la la la la la… karena lamanya menunggu sajian yang masih proses olah. Sadarlah kami bahwa mereka sedang belajar menjadi profesional.

Begitulah nikmati bakso dan makanan lainnya di Kedai Lala, di salah satu sudut kota So’e, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Koro’oto-Amarasi Selatan, 27 Oktober 2019

Heronimus Bani

Air dan Bahan Bakar Minyak

Andalan

Jika orang bertanya, “Anda mau minum?” Jawabannya, bergantung situasi. Minum apa? Atau jenisnya apa? Kopi, teh, susu, kopi susu, dan berbagai jenis minuman panas, hangat, atau dingin. Semua jenis dan kondisi minuman itu berbahan dasar, air. Itulah sebabnya, judul ini saya tempatkan air. Tapi, mengapa air?

Dalam beberapa waktu ini santer diberitakan media tentang kekeringan yang melanda berbagai daerah di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur. Di antara pemberitaan itu ada dua kabar yang menonjol, satunya mengejutkan satunya menakjubkan.

Ha ha…

Yang mengejukan itu tentang penyakit baru yang menyerang ternak babi. Penyakit itu belum ada obatnya, kata anak saya. Pencegahan dapat dilakukan. Menurut surat edaran yang Bupati Kupang yang dibacakan juga di mimbar-mimbar gereja, salah satu langkah pencegahannya adalah, pakan ternak babi tidak boleh dari limbah resto dan rumah makan. Akh… saya tidak bahas itu di sini.

Hal yang menakjubkan, di Kabupaten Manggarai, banyak ternak sapi mati. Mengapa? Bukan penyakit sapi yang menyerang, tetapi kekeringan. Mungkin kita perlu menyebutkan kekeringan sebagai penyakit alam? Kekurangan air yang menjadi penyebab matinya ternak sapi yang merugikan para peternak dan pemerintah daerah kabupaten Manggarai. Air… itu permasalahan klasik di Nusa Tenggara Timur. Bahwa mungkin tidak semua tempat di Nusa Tenggara Timur mengalami kekeringan, tapi itulah NTT. Pemerintah Pusat hendak mengatasi kekurangan ini dengan membangun tujuh waduk. Luar biasa. Semoga dengan berhasil dibangunnya 7 waduk itu akan mengatasi kekurangan ini, dan berdampak luas pada berbagai aspek, terutama pertanian dan peternakan.

Ketika saya berada di Niki-Niki, Timor Tengah Selatan, NTT, keluhan masyarakat mulai dari kota So’e hingga Niki-Niki rerata sama mengenai air. Sumber air makin “jauh” sehingga orang harus mengantarkan air dengan mobil pikap. Air tak dapat mengalir deras sebagaimana iklan “sekarang sumber air su deka.” Jauhnya air yang diantarkan dari rumah ke rumah oleh kendaraan pikap dan tank truck lantas tidak murah. Tapi, jika tidak mengambil, bagaimana mengatasi kebutuhan MCK? Sementara PDAM bukan tidak melayani, tetapi layanannya dibuat bergiliran.

Di Niki-Niki, Danau Supul mengering. Ternak-ternak sapi yang biasanya hanya di bibir danau, kini sudah main dan merumput hingga ke tengah danau yang memang sedang surut.

Lalu pada saat yang sama, bahan bakar minyak khususnya premium langka di kota So’e. Kelangkaan ini menyebabkan konsumen harus mengantri. Sesungguhnya mengantri itu baik agar semua konsumen (kendaraan) mendapatkan bahan bakar itu. Tapi, jika terpaksa tidak ada, pemilik kendaraan harus mengantri di penjual eceran yang takarannya literan botol atau jerigen.

Aneh, bukan? Di sumbernya yaitu SPBU, premium langka bahkan habis, tapi penjual BBM literan botol justru ada. Kami mendapatkan satu jerigen 5 liter seharga lima puluh ribu rupiah. Ini sudah fakta di kota So’e. SPBU sepi bahkan tutup, tapi penjual BBM literan botol ramai?? Mengapa?

Beginilah situasi terkini kita. Kekeringan melanda. Kering sumber air, kering pula bahan bakar minyak Keduanya sama-sama cair, dan sangat dibutuhkan untuk berbagai kepentingan. Roda perekonomian berjalan bila salah dua pelicinnya air dan minyak.

ha ha

Semoga.

So’e, 21 Oktober 2019

By: Heronimus Bani

Andalan

Kuntilanak Kampung

Kunti berkiprah, suraranya merdu berkibar. Kiranya dia telah lama dikerangkeng. Dunia religi dilahapnya, sekularisme dibabatnya. Ia sehat jasmani dan rohani. Merdu suara, atletis bodi tampilannya. Sopan berbusana hingga bergaya ketika mengangkat langkah bahkan duduk bersila ramah.

Ketika Kunti membuka mulut, aliran kata bagai sungai bersumber danau tergenang. Ia menghipnotis burung bersarang di dahan pepohonan. Dedaunan pun bagai hendak terus menghijau tak sudi menguning layu dan kering. Rerumputan bagai hendak berbaring sebentar saja pun tiada rasa untuk memulainya. Jangkrik, cacing dan tikus tak hendak menggali lubang bersarang. Capung, kupu-kupu dan lebah bagai enggan kembali ke sarangnya.

“Kunti … Kunti … Kunti … !” tokoh bergelar akademik mencengangkan dan sebutan agamis alim nan saleh kesohor. Dimana dia berada di sudut kampung, menyemut lagi berlebahgantung kaum merebak rebut duduk terdepan. Takjub berkeheranan tiada tara. Bengong binti bingung kaum papa tak terpelajar di bibir panggung kecemasan ketika para pemuka tertawa dan bertepuk

Ketika Kunti melangkah, tatapan dan sorot matanya tajam bening tak bernoktah, beraroma karsa berkarya. Tangannya menyapa lambai belaka. Menyapa salam cukuplah di ujung jemari agar kesalehan tak ternodakan kaum najis pelanggar hukum-hukum keagamaan.

“Kunti… Kunti … Kunti … !” dikagumi selat dan tanjung hingga daratan.

Ketika Kunti menyodorkan tongkatnya, kata bertuah berjembatan padanya. Pengemis mendekat menjamah ujung tongkat berharap mendapatkan berkah sedekah dari dermawan saleh. Tawa kaum bergigi emas diderai sambil menjulur lidah menggoyang badan. Sementara kaum papa terpaksa turut menggemakan dan melambungkan dogma bertuah di cakrawala keagungan Kunti dan para pesohor bawaannya.

“Kunti … Kunti … Kunti …!” bebukitan hingga gunung batu bagai hendak menunduk padanya.

Hari telah berlalu, Kunti makin kencang larinya di darat, makin kencang moncong di samudra membelah ombak gelombang. Makin tajam menusuk langit berawan hitam bermuatan listrik tegangan tinggi. Menembus langit berlangit, daratan berhutan dan berpadang sabana, bukit gundul dan gunung berbatu.

Kunti, idola dan pujaan.

Dalam istirahatnya, Kunti menegakkan jidat dalam judi kesalehan. Kunti hendak terbang dengan sayap fajarnya ketika aroma pesit terbawa angin pantai. Kunti merayap di lobang tikus bersua cacing dan jangkrik, ketika menuju sarang burung, di sana ada capung dan lebah menyapa.

Kunti memilih metamorfosis, Kuntilanak Kampung. Lengking suaranya menusuk lubang pendengaran tak lagi merinding bulu kuduk.

by: Heronimus Bani

Pengumuman Hukuman

Andalan

Dalam dua minggu terakhir saya temukan dua papan pengumuman yang nada ancaman sebagai hukuman cukup membuat jantung berdebar.

Satu papan pertama berada di pedalaman Timor Tengah Selatan, dan satunya lagi di Jalan Timor Raya, bibir Jembaran Noelbaki III.

Kedua papan tertulis dalam Bahasa Indonesia yang mudah dipahami. Sayangnya, saya tidak menemukan siapa yang bertanggung jawab atas isi atau kandungan kata-kata bernada ancaman itu. Saya sudah pernah menulis bahwa papan pengumuman bernada ancaman hukuman seperti ini pasti cukup berdampak. Tetapi, siapakah yang akan duduk di meja persidangan untuk menyidangkan pelanggaran atas bunyi papan pengumuman ini?

Kedua papan pengumuman itu nadanya dapat dikategorikan sebagai hukum positif, tetapi lebih dominan hukum adat yang bersifat lisan lalu diwujudkan dalam bentuk tertulis. Maka saya tidak heran kalau tidak ada yang bertanggung jawab atas isi pengumuman itu dan sekaligus tidak jelas dari institusi mana?

Walau begitu, patut diapresiasi bahwa ada yang peduli pada keseimbangan ekosistem di dalam hutan, dan kesehatan lingkungan khususnya pada aliran sungai.

Noenoni-Oenino

Andalan

Tak pernah terpikirkan untuk sampai di desa ini, salah satu desa yang masuk dalam kecamatan pemekaran Amanuban Tengah, dimana Oenino menjadi salah satu kecamatannya. Di sana ada desa Noenoni yang berada di daerah landai, berdekatan dengan bendungan Pene-Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Menurut Googlemaps, jarak dari kota So’e ke Noenoni 25,4 kilometer yang hanya ditempuh dalam waktu satu jam saja. Namun, ternyata tidaklah demikian. Kami melewati kecamatan Molo Tengah yang menurut informasi lebih dekat. Faktanya memang demikian, lebih dekat, namun karena kami baru pertama kali ke tempat itu, maka terasa jauh dan lama.

Kami harus melewati jalanan beraspal yang tidak seberapa lebarnya, yang menyebabkan tingkat kewaspadaan tinggi pada dua sopir. Kewaspadaan pada lalulintas dari arah Kapan ke So’e dan sebaliknya. Ketika kami tiba di pertigaan Sakteo, jalanan makin sempit, kendaraan yang kami jumpai atau yang mengikuti kami sudah berkurang amat jauh. Hanya satu dua kendaraan roda dua yang kami temui, sampai akhirnya jalanan beraspal pecah-pecah itu berakhir. Kami mendapati jalanan yang sementara dikerjakan yang dimulai dengan pembuatan tembok penahan jalan dan got. Jalan yang baru dibuka menggunakan alat-alat berat membelah beberapa bukit yang kiranya kami anggap cukup beresiko.

Melewati semua itu, sopir harus menghentikan kendaraan untuk mendapatkan informasi lokasi yang kami tuju. Sekitar tiga kali kami harus bertanya-tanya dimana letak desa Noenoni, kami bertanya di pertigaan Sakteo. Padang sabana yang tidak seberapa luasnya telah dikapling-kapling. Semakin ke dalam kami menyaksikan kekeringan dan gersang, pepohonan bagai menadahkan tangan meminta air, sementara tangan-tangan sudah menebang mereka dan bahkan telah membakarnya menjadi lahan siap tanam. Debu menutupi dahan dan dedaunan bahkan pada manusia yang berpapasan dengan dua kendaraan roda empat yang kami tumpangi. Miris, tapi apa yang dapat saya katakan tentang semua ini?

Oh …

Melewati gapura perbatasan kecamatan yang sementara dibangun, kami berhenti dan bertanya pada seorang ibu yang dengan senang hati memberikan informasi itu. Kami beranjak dari sana, saya sempat melihat satu papan pengumuman yang tidak biasanya dibuat di desa-desa di tempat saya (Amarasi Raya). Di sana ditempatkan peringatan keras untuk tidak membunuh babi hutan dan menebang pohon cendana. Sanksi berat dikenakan pada mereka yang tertangkap tangan yaitu, denda sebesar Rp500.000, ditambah seekor babi dan beras lima puluh kilogram.

Kami meneruskan perjalanan. Sekitar dua kilometer kami berpapasan dengan dua pengendara sepeda motor. Sopir menghentikan mereka dan bertanya, dan mereka pun menunjukkan jalan yang ternyata tidak jauh lagi. Kami hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit, lalu kami tiba di lokasi yang dituju, Sekolah Dasar GMIT Noenoni. Di sini kami disambut oleh Kepala Desa Noenino, Ketua Majelis Jemaat GMIT Eklesia Noenoni, para guru SD GMIT Noenoni, siswa dan beberapa orang tua siswa.

Setelah basa-basi di luar halaman, kami dijemput ke dalam aula. Di sana kami duduk menanti beberapa saat. Kami tidak mengetahui ada alasan apa kami harus menunggu kira-kira lebih dari 30 menit sebelum acara dimulai. Kami yang duduk di barisan depan: Ketua Majelis Jemaat Eklesia Noenoni (note; tidak sempat tulis namanya), Bagian Perpustakaan Kantor Sinode GMIT, Pdt. Yes Dae,S.Th, Ketua BPP Pendidikan Sinode GMIT, Pdt. Elisa Maplani, S.Th, Ketua Yapenkris Agape Kabupaten TTS, Drs. Yan Tanaem, dan dari UBB, Dr. Barbara Dix Grimes, Ph.D, dan Heronimus Bani, MM. Kami didampingi Kepala Desa Noenoni, S. S. Y. Nenohai dan mantan Kepala SD GMIT Noenoni, Jonathan Seko.

Sambil menunggu saya mengambilkan air minum untuk saya sendiri dari Dr. Barbara D. Grimes. Saya buat beberapa foto, dan bertanya-tanya pada Kepala Desa Noenoni serta mantan Kepala SD GMIT Noenoni. Keduanya bercerita tentang SD GMIT Noenoni yang dalam dua tahun terakhir terjadi kevakuman kepemimpinan. Kepala Desa Noenoni ketika ditanyai, apakah ia alumni dari SD GMIT Noenoni? Ternyata, bukan. Tetapi, ia sangat peduli pada pendidikan di desa yang dipimpinnya itu setelah mendapat kepercayaan masyarakat dalam dua tahun ini. Ia baru menjabat pada Juni 2017.

Sementara itu Jonathan Seko sempat melontarkan bahwa sekolah ini mengalami kemandegan akibat kevakuman kepemimpinan. “Seret pelayanan proses pembelajaran dan hal lainnya, pak!” demikian katanya.

Percakapan kami terhenti berhubung pemandu acara mempersilahkan semua tetamu dan para guru, orang tua siswa yang sempat datang dan para tokoh mengambil tempat duduk di Aula yang merupakan dua ruang kelas yang disekat, sekatnya dibuka. Acara dimulai dengan sambutan adat. Begitu disebutkan sambutan adat, dua orang guru perempuan muda (nampaknya usia muda, tapi sudah berkeluarga) mengambil tempat paling depan memegang “baki yang ditenun” berisi beberapa helai kain tenunan yang khas Amanuban. Satu rombongan kecil para orang tua berdiri mengelompok dipimpin Yesua Na’at (48 tahun). Ia menjadi pemandu natoni yang disebutkan oleh pemandu acara sebagai sambutan adat.

Natoni dilantunkan dalam waktu kurang dari satu menit. Kemudian kedua guru muda tadi maju, seorang mengambil kain tenunan dari “baki yang ditenun” itu, lalu mengalungkan pada para tamu yang hadir, dimulai dari Pdt. Yes Dae, S.Th, Pdt. Elisa Maplani, S.Th, Drs. Yan Tanaem, Dr. Barbara Dix Grimes, Ph.D dan di ujung meja saya. Semula saya berpikir tidak kebagian oleh karena saya bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Saya hanyalah teman dalam perjalanan ke SD GMIT Noenoni ini. Namun, rupanya tuan dan puan rumah di SD GMIT Noenoni mempunyai persepsi berbeda. Saya pun kebagian sehelai selendang kecil di leher. Ha ha, terima kasih sudah diberi.

Doa dimadahkan oleh Ketua Majelis Jemaat Eklesia. Sambutan diurai dari Kepala Desa Noenoni, Ketua Yapenkris Agape, Ketua BPP Pendidikan Sinode GMIT yang berbarengan dengan Dr. Barbara Dix Grimes, Ph.D dari Unit Bahasa dan Budaya GMIT Kupang. Ketika sapaan dari Dr. Barbara, saya dipersilahkan bertemu dengan para siswa, berhubung waktu belajar reguler telah usai. Para siswa akan segera kembali ke rumah masing-masing, sementara salah satu tujuan kedatangan tim beranggotakan 5 orang (tambah dua orang pengemudi menjadi 7 orang), adalah bertemu dan berinteraksi dengan para siswa, terutama kelas 4, 5, dan 6.

Percakapan/diskusi antara orang tua siswa, Kepala Desa Noenoni dan perangkatnya yang hadir, Tim Pengembang Sekolah, pihak gereja (GMIT), para tokoh dan guru dipandu Ketua Yapenkris Agape TTS, Drs. Yan Tanaem. Topik utama yang dibahas adalah menemukan sosok yang tepat untuk ditetapkan sebagai Kepala SD GMIT Noenoni.

Ketua Yapenkris Agape TTS menyampaikan bahwa usulan dan lamaran sudah ada di mejanya. Akan tetapi, ia lebih cenderung untuk bertemu, bertatap muka, berdiskusi dari hati ke hati (tamolok nok neek muti’), sesudahnya akan ditetapkan seseorang sebagai kepala sekolah. Ia mencontohkan proses di instansi yang dipimpinnya ketika masih aktif sebagai birokrat di Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kaderisasi. Kira-kira istilah itu tepat ketika ia mengusulkan agar mantan Kepala SD GMIT Noenoni bersedia diangkat kembali dalam jabatan itu. Pengangkatan dilakukan oleh Yapenkris Agape TTS sebagai institusi induk pembina sekolah-sekolah GMIT di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Melalui mekanisme diskusi yang alot, akhirnya didapatkan dua nama yang makin menguat. Setelah dikompilasikan dengan aturan yang berlaku, ditetapkanlah Asael Nenobais, S.Pd.K sebagai Kepala SD GMIT Noenoni menggantikan Jonathan Seko. Surat Keputusan Yapenkris Agape TTS akan segera terbit untuk selanjutnya diadakan seremoni pelantikan. Walau begitu, rapat itu telah memutuskan sehingga Asael Nenobais telah resmi sebagai kepala sekolah.

Jonathan Seko dan Asael Nenobais,S.Pd.K

Kami, sebelum kembali ke Kupang via So’e, kami mampir beberapa saat di pastori Jemaat Eklesia Noenoni. Kami disarankan untuk kembali lewat jalan semula, jalan dimana kami masuk ke desa itu. Jika kami perlu mencari jalan licin dan bagus, maka perjalanan akan menempuh jarak sekitar lima puluhan kilometer sebelum tiba di kota So’e. Kami akhirnya kembali melewati jalur semula dengan konsekuensi bemandikan debu, namun memanjakan mata oleh karena pemandangan alam yang luar biasa gersang, walau di sana-sini ada pepohonan berdaun hijau dalam jumlah terbatas.

Beberapa tanjakan dan turunan beresiko kami harus lewati dengan dibungkus debu tebal. Pemotor yang bertemu dengan kami walau di tanjakan atau turunan terpaksa harus berhenti, berhubung tebalnya debu. Sedikit menguras adrenalin ketika satu unit sepeda motor ditumpangi tiga orang berpapasan dengan kami persis di tikungan menurun sementara kami mendaki. Aih …

Sepeda motor rupanya menjadi alat transportasi primadona. Banyak yang kami temui atau berpapasan selalu ditumpangi tiga orang (bonceng tiga).

Di dalam mobil dalam perjalanan baik pergi maupun pulang, saya dan Dr. Barbara Dix Grimes berdiskusi banyak hal, terutama masa depan penerjemahan khususnya dalam klaster Uab Meto’. Personil yang berkompeten dengan kualifikasi tertentu kami butuhkan yang mesti berkarakter dan punya etos kerja yang baik. Ia tidak sekedar mencari dan menemukan pekerjaan, tetapi harus benar-benar berada dan jika perlu mesti larut dalam tugas itu. Dengan begitu, tugas penerjemahan di UBB pada masa yang akan datang akan makin banyak bahasa daerah yang dijangkau. Pada saat yang sama, ada institusi khusus yang secara teknis peduli pada penerjemahan alkitab, tetapi mereka lebih fokus pada rekaman. Kerinduan mereka untuk merekam seluruh Perjanjian Baru dalam bahasa-bahasa daerah yang sudah siap.

Diskusi kami menarik. Saya tidak dapat memberikan solusi terbaik. Saya selalu menurut apa yang kiranya dapat dilakukan dan sesekali memberikan ide solutif bila diperlukan dan jika itu tepat sesuai permasalahan yang sedang dihadapi.

Kami akhirnya tiba di kota So’e. Kami mampir di satu rumah makan di kota itu. Menikmati makan siang (sudah sore). Sesudahnya, Ketua Yapenkris Agape TTS berpamitan. Kami melanjutkan perjalanan kembali ke kota Kupang. Di Batuputih sebelum Jembatan Noelmina’, kami mampir sebentar menikmati jagung muda yang sudah direbus. Pdt. Elisa Maplani beristirahat sejenak berhubung kelelahan dalam perjalanan ini. Pukul 18.00 waktu setempat kami melanjutkan perjalanan. Di Oesao, kami berpisah. Dua mobil membawa tim ke kota Kupang, sementara saya kembali ke Koro’oto di Nekmese’ Amarasi Selatan.

Sekitar pukul 19.30 Pengojek yang telah menanti saya “menyepak” gagang starter sepeda motor. Kami menuju ke selatan, mendaki hingga tiba di puncak Sismeni. Lalu menuruni lereng Sismeni hingga tiba di rumah saya. Ya. Perjalanan sehari yang melelahkan, mencemaskan namun melegakan.

Koro’oto, 3 Oktober 2019

Andalan

Aku Menjerit dalam Diam

Suara! Itu salah satu modal yang Tuhan berikan padaku. Suara itu menjadi milikku. Aku sungguh menyadari bahwa suara itu untuk kemuliaan Dia yang memberikannya. Aku sungguh rindu dan terus berkerinduan untuk memuliakan nama-Nya dan kasih-Nya. Dia yang memberikan suara itu tidak menuntut keindahan lagi merdunya, karena Dia mengetahui bahwa ada padaku keterbatasan dan kelemahan. Suara itu, menurut mereka yang paham, ada warnanya. Warna suaraku rupanya hitam pekat. Ketika aku keluarkan, terasa di telinga yang lain sebagai tidak berkenan. Mungkin Dia yang memberikannya merasakan ketidakperkenanan itu?

Suara! Kau modal terbaik milikku. Aku sedih ketika berkali-kali sudah suaraku tak berkenan pada telinga orang. Suaraku benar-benar tak layak rupanya untuk memuliakan nama-Nya dan kasih-Nya.

Suara! Kau dibantu perlengkapan yang menggaungkanmu baik di dalam ruang tertutup maupun arena terbuka. Segala perlengkapan bantuan itu sesungguhnya akan sangat menolong dan menyenangkan telinga pendengarnya, walau tak jarang juga akan memekakkan telinga orang di sekitar, Suara yang kumiliki yang selalu kupakai untuk memuliakan nama-Nya dan kasih-Nya melalui perlengkapan, selalu tidak berkenan pada orang-orang terdekatku. Di lingkungan terdekatku aku tak dapat bersuara secara utuh.

? ? ? ?

Selalu saja aku mendapat tanda berwarna merah hingga hitam untuk tidak boleh bersuara dengan bantuan perlengkapan dalam nada-nada indah karya cipta komponis amatir sekalipun, apalagi profesional.

? ? ?

Pagi ini, suaraku ini kembali mendapat nilai berwarna hitam. Aku terpaksa meninggalkan ruang maha kudus untuk tidak bersuara dalam nada-nada itu. Aku selalu tidak diterima ketika menggunakan perlengkapan bantuan suara. Aku harus diam dan bungkam. Lebih baik bagiku untuk meninggalkan ruangan itu daripada aku menjerit putus asa di hadapan Tuhanku yang memberikan suara itu padaku.

Tuhanku dan Tuanku.

Ampunilah hamba-Mu ini yang tidak becus menata suara pemberian-Mu. Aku sungguh-sungguh merindukan pelataran dan altar kudus-Mu dengan membawa lagu pujian syukur dan terima kasih sebagai persembahanku pada-Mu. Warna dan nada suara pemberian-Mu memekakkan telinga. Berilah padaku hikmatmu agar aku mampu menata pita suaraku hanya untuk diri sendiri dan untuk-Mu saja. Aku menyadari kini bahwa pemberian-Mu padaku rupanya hanya untuk diriku saja dan Diri-Mu. Tidak pada mereka di sekitarku.

Tuhanku dan Tuanku.

Terima kasih telah memberikan pita suara dan resonansinya yang tak dapat kutatakelola untuk memuliakan nama-Mu. Ketika kubawakan persembahan pujian aku selalu merasa tak layak di samping mereka yang mendengarkanku oleh karena keseringannya aku mendapatkan tanda-tanda berwarna merah hingga hitam dari rona dan raut yang tak menyukaiku menggunakan sejumlah perlengkapan pemberian-Mu.

Terima kasih.

Koro’oto, 29 September 2019

Rintihanku di hari Minggu ini.

Untukmu Amfo’an

Andalan

Amfo’an

Kabarmu kemarin,

Sungaimu mengular memanjakan indra.

Bukit dan padang rumput menghijau meninabobokan rasa.

Bebatuan menggunung menghalau pandang di balik bukit dan lembah.

Alam asri nan apik aksesori indah belahan utara pulau Timor.

Amfo’an

Katanya hari ini,

Sungai-sungaimu akan menjunjung jembatan,

Bukit dan padang rumput akan dipunggungi jalanan berhotmix

Bersisianlah mereka dengan bangunan megah bertaraf internasional.

Bebatuan menggunung mungkin tak lagi menjadi penghalang pandang.

Dapatkah alam asri nan apik artistik tetap terpelihara?

Amfo’an

Mimpimu besok dan esok.

Katanya nanti dan kelak kau akan dipercantik semakin ayu bersolek.

Sekitaran sungai-sungaimu akan tumbuh lahan ekonomi subur berelok.

Area perbukitan akan menghijau dan berbintik ternak produktif.

Lahan berbatu akan menghasilkan emas kilauan pengumpul kemewahan?

Di sana kemakmuran menanti sebagai mitos kaum milenial kelak.

Amfo’an

Pini sepuh dan sesepuhmu

Telah membuka dan menakar kisah ziarah di permukaan sejarah.

Taruna dan tarunimu,

Marilah mengukir dan melukis di padang dan lembahnya,

Pandanglah dan raihlah langit berawan yang menitikkan beningnya embun.

Berilah tanganmu melenggakkan karya kebanggaan.

Tempatkan kakimu menarikan karsa berjunjungan.

Bawalah ragamu dalam haribaan negeri  madu dan lilin.

Jadilah berjaya.

Koro’oto, 11 September 2019

Foto: diambil dari https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/timor-2/raja-of-amfoan/

Kesia-siaan

Andalan

Kesia-siaan

Duduk memandang sejauh mata suka memandang.
Samudera luas tak terbendung
Lautan lepas tak terjangkau pandang mata ujungnya
Bagaimana memeluk bila berniat?

Kesia-siaan…

Menelusur di antara gelombang
Menelisik di celah deburan ombak
Menyisir di serpihan dan pecahan riak
Senyum memekar
Tawa membahana
Desir angin pantai mengganggu daun telinga
Terik surya siang memicingkan biji dan kelopak mata.

Kesia-siaan…

Pantai berpasir putih hendak dirambah
Kaki tak dapat berjejak walau sehari saja
Tangan tak dapat bertapak walau semalam saja
Bukit hendak didaki hingga puncak berangin sejuk
Awan putih hendak digapai agar dapat dirasa.

Kesia-siaan saja

By: Heronimus Bani

Sang Guru telah Uzur

Andalan

Halo para Sahabat, minggu kemarin saya berada di satu tempat yang cukup terkenal di pulau Timor. Nama tempat itu Kolbano di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Saya menulis empat artikel pendek. Saya unggah pagi ini di sini. Boleh bukan? Ini cerita seorang guru yang telah pensiun sejak tahun 1995.

Cerita dari Kolbano(1)

Aku, Ham Neolaka, cucu dari Pehe Neolaka. Aku telah berumur hampir 90 tahun. Telah meninggalkan tugas sebagai guru (PNS) sejak tahun 1995. Salah seorang putraku Rizal Neolaka, puji Tuhan, dia menjadi guru (PNS) di Oebobo Kecamatan Batuputih-TTS.
Di kampung kelahiranku ini, Kolbano, aku hidup bersama istriku terkasih dan seorang anakku yang ditugasi menjaga situs Perang Kolbano.
Kami bersyukur, sekalipun dalam masa tua ini, kami tidak kuat lagi melewati hari hidup ini, tapi kami terus menjalaninya. Sekalipun anak-anak kami jauh dari kami karena tugas pengabdian pada negara (dan keluarga), kami nikmati sisa-sisa masa hidup ini dengan semangat gaya kami yang sudah uzur.

Sesungguhnya kami berharap anak kami Rizal Neolaka dapat dimutasi oleh Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (dhi. Dinas PK) ke salah satu sekolah dasar di Kecamatan Kolbano. Bila itu terjadi, akan menjadi nutrisi yang menguatkan raga dan roh

Istriku, dia telah berumur 71 tahun. Dia mengalami gangguan kesehatan juga. Sakit gula. Puji Tuhan sudah mulai ada perubahan setelah perawatan rutin.

Hari Tua

Di hari tua ini
Kami bagai matahari hendak terbenam
Kami ditunggui hanya oleh rasa belaka
Kami dihampiri hanya oleh roh semata
Kami dikunjungi hanya oleh untaian kata dalam doa

Di hari tua ini
Agaknya masa lampau pun tak dapat kukisahkan
Agaknya masa lampau pun tak dapat diajukan ke altar pujian
Agaknya masa lampau hanya genangan kisah.
Agaknya tak ada yang mau menimba.

Di hari tua imi
Kami masih ingin hidup bersama
Kami ingin memeluk cucu
Kami ingin mencium menantu
Kami ingin menggandeng kaum

Di hari tua ini.

Oh…

Kolbano, 15 September 2019
By: Heronimus Bani

Andalan

Seri Tulisan tentang Hukum Adat

Hukum Adat a-la Atoin’ Meto’ Amarasi Raya

(1)

Heronimus Bani

Pengantar

Hari Minggu, (8/9/19), seorang mahasiswa sekolah tinggi hokum mendatangi saya untuk berdiskusi setelah semalam sebelumnya ia mengirim pesan melalui aplikasi WhatsApp. Kami berdiskusi tidak seberapa lama berhubung kami mengalami kebingungan tentang materi yang ia bawa sebagai tugas dari dosen yang menugaskan. Menariknya diskusi yang tidak berapa lama ini jatuh pada permintaan sang dosen untuk mencatat dan mengurai sepuluh hokum adat yang berlaku di tengah-tengah kehidupan bersama. Saya agak merasa geli saja, berhubung terminology sepuluh hokum seperti Dasa Titah dalam Taurat/Torah.

Kami berdiskusi. Hasil diskusi yang tidak seberapa itu saya minta untuk ditulis. Sementara saya sendiri mesti menulis yang sudah saya sampaikan dengan ulasan yang kiranya menjadi materi belajar pada diri sendiri dan komunitas pembaca yang mau membaca artikel ini.

Pertanyaan muncul ketika harus menulis bagian ini adalah:

·         Ada berapa banyak hukum adat di Amarasi Raya yang diakui dan diberlakukan dalam kehidupan untuk menjaga ketertiban hidup bersama?

·         Sebagaimana satu produk hukum tertulis, apakah hukum adat yang bersifat lisan terdapat di dalamnya hak dan kewajiban dan sanksi-sanksi, serta apa wujud dari pemberian sanksi?

Menjawab paling kurang dua pertanyaan di atas, saya akan mencoba menulis secara berseri beberapa hukum adat yang berlaku di dalam masyarakat adat Amarasi Raya.

Tulisan ini tentu tidak menjawab keseluruhan permasalahan hukum adat, namun dapat memicu dan menginspirasi sehingga sekiranya dapat ada yang suka untuk memperkaya.

Hukum Adat Perkawinan (Rais Matsaos, Rais Mafe’e-Mamone’)

Bila berbicara tentang hukum adat, ingatan dan imajinasi audiens sangat cepat terarah kepada : 1) Hukum adat perkawinan, dan 2) Pakaian tradisional yang lebih keren menggunakan istilah pakaian adat. Dua hal ini selalu amat cepat orang mengingatnya. Sementara orang Amarasi Raya akan mengingat pada dua hal yang umum disebut noon reko – noon re’uf(hal baik – hal buruk). Dalam hal baik, orang pun ingat pada pesta sukacita, dan dalam hal buruk orang ingat pada upacara subat (penguburan orang mati). Itulah sebabnya, ketika ada perpisahan, selalu ada pesan, noon reko – noon re’uf te, atmatean nok beno(biarlah kiranya kita saling berjumpa dalam hal baik dan buruk).

Berikut ini beberapa hal yang sudah saya tulis dan jelaskan secara ringkas pada tulisan saya di https://uminiibaki.blogspot.com/2017/08/beragam-istilah-mengurus-perkawinan.html. Dalam hal mengurus perkawinan di Amarasi Raya, seringkali antara kaum Ro’is dan Kotos terdapat perbedaan istilah, namun secara prinsip sama. Puah-Manus merupakan istilah umum yang dipakai untuk menghadapkan orang tua dua pihak yang berhubungan dengan urusan perkawinan sepasang mempelai adat. Dalam hal Puah-Manus unsur-unsur yang patut dipenuhi secara prioritas adalah, puah kninu’-manu kninu’, haot-fatis, noni-bijae dan nonoheu’ (sea’ dan saeb).

·         Tahapan menuju Puah Kninu’-Manu Kninu’

Mengurus perkawinan menurut hukum adat perkawinan pada masyarakat adat Amarasi Raya (Pah Amarasi), tahapannya yang sekaligus menjadi hukum bagi para pemangku kepentingan dalam urusan itu, dapat dilihat sebagai berikut.

ü  Atoin’ Mese’

Seorang pemuda memperkenalkan diri pada orang tua kekasihnya. Pada saat ini, orang tua kekasihnya bertanya tentang maksud perkenalannya. Ia memastikan bahwa ada seorang gadis yang dicintainya di tempat dimana ia memperkenalkan diri. Selanjutnya, orang tua gadis mengirim seseorang membawa kabar kepada orang tua dari sang pemuda. Orang yang dikirim ini disebut, atoin’ mese’. Tugasnya, mengabarkan bahwa seorang pemuda telah memperkenalkan diri pada orang tua dari kekasihnya.

Kalimat metaphor yang sering dipakai adalah, hai asu nheek naan a’bibi mese’ nbi hai rene. Hai miskau he mkoen om meu, reko te mihiin hi ‘marak ma hetis.Terjemahan secara harfiah, anjing (pemburu) milik kami telah menangkap seekor kambing di ladang milik kami. Kami menjemput (kiranya) datanglah ke tempat kami, baiklah untuk mengenali tanda yang terdapat padanya.

Dalam hal orang tua pihak pemuda berhalangan sehingga tidak datang secara sengaja dan sadar, maka hal ini dicatat (diingat) sebagai satu sikap dan tindak yang patut disanksi.

ü  Ta’kini’ Asu-Fafi

Ketika atoin’ mese’ sudah membawa kabar sebagaimana disebutkan di atas, selanjutnya, orang tua pihak pemuda datang bertemu dengan orang tua pihak gadis.

Ada dua istilah yang digunakan dalam acara ini, ta’kini’ asu-fafi dan puah ruum-ruum maun ruum-ruum, atau sering juga disebut puah nesif-maun nesif. Acara ini dihadiri oleh orang tua kandung dua pihak dan beberapa orang yang sifatnya intern sebelum menyampaikan hal in kepada pihak lain secara lebih meluas.

Istilah ta’kini’ asu-fafi, dimaksudkan sebagai cara untuk mendiamkan suara-suara sumbang bila si pemuda selalu datang bertemu dengan gadisnya. Orang-orang di sekitar tidak perlu memperguncingkan kunjungan rutin si pemuda, pertemuan dan pertemanannya dengan si gadis.

Dalam hal puah ruum-ruum maun ruum-ruum atau puah nesif-maun nesif, orang tua kandung dari pemuda memberikan tanda-tanda kesungguhan melalui tempat sirih-pinang. Isi tempat sirih-pinang itu bernilai nominal tertentu yang tidak ditentukan. Sesudah acara ini, dipercakapkan tahapan lanjutannya mengenai waktu dan kesiapan menuju acara puncak mengurus perkawinan menurut hukum adat.

ü  Puah kninu’-manu kninu’

Dalam hal ini istilah yang dipakai untuk sangat bervariasi. Saya memilih puah kninu’-manu kninu’ (harfiah: pinang-sirih bersih). Maksudnya, pada pertemuan ini seluruh pemangku kepentingan dihadirkan:

o   Tua-tua adat (mnais harat)

o   Perangkat Pemerintah desa (Ketua RT, Ketua RW, Kepala Dusun, Sekretariat Desa, dan Kepala Desa)

o   Orang tua kandung dan pihak terkait (Paman, Om, saudara laki-laki, kakak-adik perempuan)

o   Keluarga Besar dari dua pihak, terutama pihak Gadis

o   Pemangku keagamaan (mis. dari pihak Gereja lokal)

Seremoni ini dilakukan dengan menempatkan tempat sirih-pinang berkali-kali pada pasal-pasal aturan yang berubah-ubah tidak menentu. Semua yang disebutkan di atas mendapat jatah tempat sirih-pinang yang isinya bernilai nominal. Setiap tempat sirih-pinang yang bernilai uang dalam jumlah tertentu itu disertai pernyataan dari mafefa’ (juru bicara) pihak keluarga laki-laki. Pernyataan itu bersifat mapua’ dan etus-tonas (mapua’ ~ memberi sirih-pinang untuk dimakan bersama-sama, dan etus-tonas, pemberitahuan tentang sesuatu maksud).

Pada jabatan tertentu seperti Kepala Dusun, Sekretariat Desa dan Kepala Desa, tidak bersifat mapua’ dan etus-tonas, tetapi bersifat penghormatan dan pamitan. Nilai penghormatan sudah makin besar. Seringkali hal ini menjadi pemicu ketidakberesan urusan oleh karena para pemangku kepentingan di desa (pemerintah desa) mengambil hak yang berlebihan daripada orang tua kandung dan pemangku kepentingan yang sesungguhnya. Atas alasan mereka membantu memperlancar urusan, maka nilai yang diberikan kepada mereka ditentukan sendiri oleh Pemerintah Desa, bahkan melalui Peraturan (keputusan kepala desa, peraturan kepala desa atau Peraturan Desa).

Hal-hal yang diminta dari pemerintah desa berupa:

o   Punu’-atu’ (biaya administrasi). Sekalipun ada biaya administrasi tersebut, namun bila mengurus salah satu persyaratan untuk pendaftaran pencatatan sipil, pasangan calon mempelai masih dibebani biaya administrasi rutin.

o   Mapua’ Sukif-Toraf Ama’ ‘Nakaf (Staf Kepala Desa)

o   Eek mepu-ranan (pamit)

o   Mapua’ mnais harat (biasanya mencapai 4 – 6 orang)

o   Hae ma’kaaf – ‘Niim ma’kaaf (membuat kaki-tangan ringan). Maksudnya agar kepala desa dan jajarannya membantu seluruh urusan perkawinan ini sampai tuntas.

Orang tua kandung keluarga mendapat empat bagian:

o   Haot Fatis (ada pula yang menyebut Suus Oef atau Oe maputu’ – Ai marara’)

o   Atoin Mone’ dan kakak-adik perempuan (jika ada)

o   Sea’nonoheu’

o   Mapua’ nonot-asar (keluarga)

Seluruh seremoni ini biasanya diakhiri pula dengan apa yang disebut mapua’ bebas, nenit-sabat, maro-pono, tekar asik ma skuku’.

o   Mapua’ bebas, dimaksudkan untuk menyampaikan tempat sirih-pinang pada orang tertentu yang hadir pada saat itu atas petunjuk dari keluarga pihak gadis.

o   Nenit-sabat dan maro-pono, dimaksudkan untuk masing-masing  keluarga dua pihak menyediakan sebotol arak/tuak untuk diminum bersama-sama dan saling memberi tembakau dan daun lontar muda kering yang dipakai sebagai pembungkus tembakau untuk merokok. Dalam hal nenit-sabat, sudah mengalami pergeseran dimana orang tidak selalu menempatkan dua botol tuak di depan umum, tetapi diganti dengan do’a untuk makan bersama sesudah seluruh seremoni itu berakhir.

o   Tekar asik ma skuku’, adalah acara bersenang-senang.

Seluruh tempat sirih-pinang yang disodorkan tidak terhitung di dalamnya biaya pesta perkawinan. Biaya pesta perkawinan dihitung tersendiri, dan diserahkan bukan pada seremoni pelaksanaan Puah Kninu’-Manu Kninu’.

Dalam hal sanksi, biasanya terjadi bila salah kata, sikap dan tindakan. Para tua (mnais harat) yang menilai apakah satu pernyataan yang dibuat kedua pihak yang duduk dalam mengurus perkawinan itu keliru atau salah. Aneh bin ajaib, setiap kekeliruan dan kesalahan baik dilakukan oleh pihak keluarga gadis, sanksinya dibebankan kepada pihak keluarga pemuda. Lebih sakit lagi kalau yang keliru dan salah itu adalah dari pihak keluarga pemuda.

Sudah sangat jamak terjadi di kalangan orang Amarasi Raya dalam hal mengurus perkawinan. Tidak mengherankan, suatu urusan perkawinan akan selalu menjadi hantu bagi pihak keluarga pemuda. (bersambung)

Koro’oto, 8 September 2019

Andalan

Polemik

Pengantar

Kira-kira menurut pembaca, sejak kapan orang mulai berpolemik? Titik berangkat sejarah berpolemik itu terjadinya kapan, dan dimana? Mungkin ada yang dapat menjelaskannya. Saya mencoba mencari-cari mungkin ada yang disebut sejarah polemik, tapi belum menemukannya. Lalu saya mulai menyadari bahwa polemik terjadi ketika bahasa manusia saling berbeda, mereka sudah tidak lagi satu kata dan akta, satu sikap dan karakter, maka di sana ada polemik. Sebagai pembaca pasif kitab suci, saya ingat Kejadian pasal 11 dimana akhir dari pembangunan Menara dan kota besar Babel menyebabkan manusia berpencar atas alasan mereka tidak lagi satu bahasa adanya. Mereka sudah tidak lagi saling memahami bahasa itulah yang menjadikan mereka saling “bertengkar” atau mungkin lebih tepatnya berpolemik ala manusia purba zaman itu yang kira-kira dipimpin oleh seorang pemimpin handal, Nimrod. Walau demikian, itu pendapat individu saya. Entah nanti pembaca berpandangan berbeda atas “rumusan” saya di atas, tokh itu akan menjadi satu topik untuk berpolemik. Lalu, sebenarnya polemik itu sendiri apa? Saya kira tanpa penjelasan apapun pembaca sudah mengetahuinya secara tepat.

Kata polemik diambil dari bahasa Yunani polemikos (πολεμικως) yang artinya adalah “mirip perang”, namun perang yang dimaksudkan di sini tidak menggunakan senjata yang mematikan. Justru senjata dengan amunisi terampuhnya adalah olah pikir. Olah pikir menggerakkan indra yang dengannya terjadi “saling serang” dan “bertahan”.

Beberapa waktu ini terjadi polemik yang hebat di kalangan kaum agamawan. Mereka para pengajar dogma agama (dalam sebutan menurut agama masing-masing), sedang berpolemik secara luar biasa. Masing-masing teguh, kukuh pada pandangan yang disandarkan pada pandangan-pandangan terdahulu. Pandangan-pandangan terdahulu itu sendiri sudah teruji zaman sehingga dijadikanlah sandaran kokoh yang tak dapat digoyahkan sama sekali oleh siapapun dengan tingkat kecerdasan pada level manapun. Itulah sebabnya, mereka tidak puas berpolemik melalui media (sosial, mainstrim, audio, audi0-visual, teks, dan ujar), mereka bahkan sangat besar dorongan untuk saling bertemu. Sungguh suatu sikap yang dapat saja mendapat pujian atau mungkin sebaliknya, bergantung dari sisi mana orang memandangnya.

Polemik itu sendiri terjadi atas satu topik tertentu. Dapat saja berwujud kata, frase, kalimat, hingga satu bagian tulisan artikel dan vidio baik yang utuh maupun yang telah mengalami perubahan karena faktor editing. Semua itu telah dan akan terus terjadi di zaman ini yang makin mudah mengakses informasi.

Apakah orang lantas tidak boleh berpolemik? Tentu saja boleh! Apakah orang diwajibkan berpolemik? Relatif. Polemik bukanlah suatu keharusan, tapi suatu keniscayaan. Maka, polemik tidak mestinya terjadi setiap saat, tetapi pada suatu pokok tertentu yang menjadi titik “perpecahan” agar orang-orang yang berpolemik akhirnya tiba di titik temu, yang menyebabkan mereka saling berpelukan sebagai satu kesatuan

Polemik Dogma Intern Kaum Kristen

Ziarah panjang ajaran kasih telah dimulai bahkan sejak sebelum Yesus lahir. (sekali lagi saya mesti mengatakan, saya pembaca pasif kitab suci). Siapakah Mesias yang akan lahir dan sudah dinubuatkan, menjadi polemik para nabi dan rabi kaum Yahudi. Hingga akhirnya Ia lahir secara amat sangat berbeda dari kelahiran manusia umumnya, itupun diperdebatkan. Kisah kelahiran Yesus yang ditulis dalam kitab-kitab Injil terasa tidak cukup kuat untuk meyakinkan para pendebat, sehingga lahir tulisan-tulisan yang saling berbeda antara satu periset dan penulis dengan periset dan penulis lainnya.

Yesus sendiri, ketika hadir sebagai seorang pemuda yang diterima sebagai Rabi/Guru, Ia pun diperhadapkan dengan fakta “berdebat” atau berpolemik di depan para rabi dan orang-orang terpelajar di Bait Suci Yerusalem pada umur 12 tahun. Perdebatan yang kiranya mungkin menjadi cikal-bakal (pemanasan) dengan para pihak di dalam kaum Yahudi (mis.Zaduki, Farisi) sendiri. Ketika pandangan mereka saling berbeda, mereka tidak tinggal diam sebagai tanda “menyerah”. Mereka justru terus berusaha menemukan celah-celah baru sebagai alasan untuk mendebat Yesus ketika Ia sedang dalam proses pengajaran-Nya. Ia diintai di perjalanan, di Sinagoge, di Bait Suci Yerusalem, bahkan di tempat-tempat dimana Ia berdoa pun rasanya tidak jauh dari intaian.

Yesus sering menghindari polemik agar situasi menjadi aman dan kondusif. Tengoklah ketika Ia berada di tengah-tengah pengadilan Mahkamah Agama. Pernyataan yang dibuat-Nya sebagai jawaban, sesungguhnya mengulangi apa yang ditanyakan pada-Nya. Tetapi, jawaban itu dianggap sebagai hojatan pada Allah Yahwe. Itulah alasan paling kuat untuk mengeksekusi mati Yesus ketika mereka sudah berada di buku bambu, begitu kata orang Kupang. Tidak ada jalan lain kecuali menyerang secara membabibuta yang menyebabkan ketidaknyamanan pada pihak lain, lalu pihak yang menyerang merasa telah menang. Padahal, diam-diam mereka terus berusaha untuk menutupi kelemahan mereka dengan membangun wacana dan narasi baru yang disebarluaskan baik secara mulugram maupun teksgram. Mari mengingat kisah kebangkitan Yesus yang diplesetkan sebagai suatu kebohongan ketika para prajurit (yang bukan Yahudi) melaporkan peristiwa yang terjadi di kubur Yesus pada dinihari Minggu. Mereka, para prajurit justru disogok untuk menyebarkan berita bohong, hoax yang menjadikan polemik berkepanjangan tentang kebangkitan Yesus.

Polemik tidak berhenti setelah hoax tentang kebangkitan Yesus disebarluaskan. Kaum Yahudi tentu lebih percaya pada berita yang disebarkan dari sumber yang dianggap terpercaya, apatalah lagi bila sumber berita itu dari kalangan sendiri, yaitu para pemimpin mereka sendiri. Semakin akurat saja berita itu yang tidak dapat lagi dibantah. Mereka justru percaya pada berita itu dan bertahan ketika ada pandangan/pendapat yang berbeda dengan mereka.

Sejarah dan ziarah pemikiran-pemikiran Kristen telah ditulis oleh Alister E. McGrath (1998) dan Linwood Urban (1995) dan penulis lainnya. Semua tulisan itu berangkat dari perbedaan pandangan (polemik) pada satu atau beberapa topik/teman dalam rentang waktu yang lama sebelum orang mengambil kesimpulan untuk menerima atau menolak. Mereka yang menerima beriringan dalam ziarah kehidupan beragama mereka, sedangkan mereka yang menolak membentuk komunitas baru dengan ajaran yang mirip atau bahkan berbeda.

Tengoklah pula semisal penempatan kitab dalam Alkitab kaum Kristen. Para teolog Kristen, Katolik dan Kristen Ortodox akhirnya berbeda dalam jumlah kitab yang menjadi bagian-bagian dari satu Alkitab. Hal ini tentu bukan serta-merta terjadi. Mereka telah memperdebatkannya berabad lamanya sebelum akhirnya menempatkannya sebagai bagian dari kitab suci umat Kristen. Adanya kitab Tobit, Yudit, Yesus bin Sirakh, Barukh, 1,2 Makabe (Browning,1996). Kitab-kitab ini tidak terdapat pada alkitab yang diterima Kaum Kristen Reformasi. Bukankah ini suatu perdebatan (polemik) yang secara internal gereja am/katolik? Jika yang secara intern saja sudah terjadi perdebatan panjang bahkan berabad, maka hal yang sama terjadi secara eksternal dengan pihak lain. Itulah, mengapa ada semacam upaya “menyerang” dari pihak lain yang hendak membangun opini dan mengajak polemik di muka umum (media massa dalam seluruh variannya)?

Polemik antar para pemuka agama di Indonesia

Ketika orang menganut agama semawi atau agama Abrahamic: Yahudi, Kristen, dan Islam yang monoteis dan yang menyebut Sang Sumber Tertinggi itu menurut bahasa manusia, apapun bahasanya dari para penganut agama Abrahamic itu sendiri, pada saat itu terjadi pengakuan-pengakuan dan penyangkalan-penyakalan. Pengakuan akan adanya Tuhan itu sama, namun tak sebangun ketika mendeskripsikannya yang menjadikan para pemikirnya saling berpolemik.

Dalam dogma agama-agama Abrahamic (mungkin saja) tidak mengindoktrin penganutnya untuk menjadi attacker(s) di satu pihak dan pihak lainnya menjadi blocker(s). Tidak! Aspek moral dan etika yang bernilai tinggi sangat diprioritaskan pada dogma agama-agama Abrahamic, tidak terkecuali pula pada agama-agama non agama Abrahamic. Para penganut agama suku atau agama asli yang animis pun menganut aspek moral dan etika dalam tutur bermakna, sikap terpuji, akta bernilai dan tindakan berwujud karya mengagumkan. Esensi dogma agama manapun adalah kedamaian, kebahagiaan bagi segenap pemeluknya hingga seluruh alam raya.

Tapi, siapakah manusia yang berdiam diri ketika melihat, mendengar dan merasakan sesuatu yang terasa baginya untuk segera diresponi. Sikap merespon sesuatu objek (tema pembahasan) menjadikannya sebagai titik berangkat polemik. Maka tidak mengherankan bila ajaran agama yang sudah menjadi hukum tertinggi (dogma) pun masih dipolemikkan, sebagaimana yang terjadi pada hari-hari ini ketika NKRI sedang merayakan hari proklamasi. Dengung dan gaung euforia pesta kemerdekaan terasa tidak lebih daripada gaung dan aroma panas yang dibawa udara informasi di media sosial hingga akhirnya media televisipun turut menjadi pemberitanya. Organisasi keagamaan di Indonesia baik Islam maupun Kristen melalui para tokohnya telah mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kiranya dapat meneduhkan suasana hati para penganutnya. Apakah semua itu berakhir?

Tidak! Polemik terus terjadi, bahkan agak lebih “menggila” dengan tantangan-tantangan terbuka yang sifatnya provokatif. Media sosial telah menjadi sarana yang menyuburkan polemik pada tema yang kini menjadi fokus para calon pendebat. Sudah ada pihak yang hendak memfasilitas mereka agar menurunkan tensi polemik di media sosial, dan membawanya dalam ruang debat terbuka namun terbatas dalam ruang tertutup. Istilah keren pada zaman ini, kopdar (kopi darat). Dengan kopi darat semua persentuhan melalui media sosial, menjadi nyata di depan mata. Pertemuan yang nyata di depan mata akan memberi nuansa berbeda ketika memainkan “emosi” di layar monitor produk teknologi informasi komunikasi.

Polemik! Akankah kau berakhir? Tidak! Tema apapun: politik, sosial, budaya, agama, hankam, bahkan idiologi negara pun dipolemikkan seakan bagai tampi di tangan penampi untuk membuang yang tidak berguna di dalamnya, mengambil yang paling berguna dan bermanfaat bagi banyak orang.

Polemik. Bersantunlah. Tempatkan dan junjung Moral dan Etika dalam kata dan akta.

Koro’oto, 7 September 2019

Heronimus Bani

Tidak seberapa bagusnya pandangan seorang guru di kampung. Terima kasih.

Andalan

Sunyi

Sunyi… Bila kau berkunjung, … rasa hati… sunyi… sepi… hening…

Sunyi… Bila kau bertandang, … emosi jadi sumir… satir…

Sunyi… Bila kau bertamu, rona berkerut, rupa berawan gelap.

Sunyi… bila saja kau tak ada?

Koro’oto, 4 September 2019

By : Heronimus Bani

Mereka, They Are

Andalan

Mereka, They Are

Mereka berurut dan berturutan

Mereka duduk bertutur tuturan

Seorang demi seorang lalu dirunut

hingga lahir dalam runtutan.

Mereka kagum pada nilai bersama

Mereka kokoh pada satu persamaan

Mereka teguh pada dalil masa

mereka kuat di genggaman asa.

Mereka menengok tak berdiri di tikungan kumuh

Mereka berjalan maju sambil mengajak kaum

Mereka tak berlari kencang di depan kaum

Sayang

Di antaranya disukai golongan dibenci banci.

Begitulah

Mereka…

They are …

Koro’oto, 3 September 2019

Semalam di Pasar Malam

Andalan

Selamat pagi pembacaku. Aku hendak menceritakan sedikit pengalaman berada di pasar malam semalam. Tengoklah sebentar…

Kami (tim dari UBB) telah bersepakat untuk berkunjung ke pasar malam, salah satu pasar rakyat di kota Chiang Mai. Menurut informasi, pasar ini sangat ramai dikunjungi. Barang-barangnya murah meriah, bila berduit bisa borong-borongan.

Aku mengirim teks WhatsApp (WA) pada teman-teman sebelum berangkat, bunyinya begini: Karmana? Berkaki, bertaxi 3 roda atau bermobil buntiana balakang lobang? Artinya apa? Halo teman-teman kita akan ke pasar, apakah kita akan berjalan kaki atau menggunakan jasa motor tiga roda, atau dengan kendaraan angkutan yang berpintu di belakang?

Ketika kami bertemu di lobi hotel, satu anggota tim kami terpingkal atas teks WA yang kukirimkan. Lalu, leader kami memesan mobil sewaan, grab. Mobilnya muncul, kecil, ruangannya tidak menampung lima orang penumpang. Akhirnya kami berkaki sekitar seratusan meter untuk menemukan kendaraan lain. Jadilah kami berkendaraan dengan pintu di belakang (buntiana balakang lobang, istilah leluconku). Semakin luculah teman kami. Sebelum mendapatkan tempat duduk, leader kami menawar tarif. Rupanya pemerintah provinsi tidak mengatur tarif sehingga para penjaja jasa tranportasi di dalam kota ini boleh membawa penumpang setelah ada kesepakatan.

Kami tiba di pasar malam. Benar saja, amat ramai. Aku melukiskannya bagai berjalan di area padang berumput ilalang tinggi, ingatanku ketika aku dan para pemburu babi hutan di satu lokasi Australia Utara. Rerumputan lebih tinggi dari postur tubuhku. Ketika seekor babi diserang para anjing pemburu dan menciderainya, aku mengejar tanpa kecermatan karena terhalang rerumputan tinggi, lalu tiba-tiba babi yang sudah panik itu menyerangku. Untunglah aku masih bisa bergerak cepat untuk meloncat dan mencapai dahan salah satu pohon yang lumayan untuk dapat menghindari serangan si babi panik itu.

Akh… kembali ke cerita pasar malam.

Teman-teman ini rupanya hobi shopping. Aku sama sekali tidak ada minat shopping. Jadi aku berharap ada yang memberi jasanya padaku untuk memilihkan apa yang kira-kira tepat untuk aku dapatkan, lalu tugasku hanya membayar. Ternyata, aku tidak mendapatkannya. Masing-masing orang telah sibuk dan larut dalam alam pikir shopping. Kuputuskan membeli sendiri enam potong baju kaos. Lalu, memberitahu leader bahwa aku menunggu di pintu gerbang ketika masuk ke pasr ini.

Aku berbalik arah. Makin padat pengunjung di pasar malam ini. Para penjaja jasa nada dan irama menempati area tengah-tengah jalan. Lapak-lapak dipenuhi barang-barang souvenir. Pasar ini memang ditujukan kepada para wisatawan lokal dan mancanegara untuk souvenir. Setelah sekali berkeliling balik, kuputuskan untuk menuju pintu gerbang. Di sana, lautan manusia bergelombang menyeberang jalan. Polisi lalu lintas sibuk mengatur lalu lintas kendaraan dan orang. Benar-benar kesibukan yang melelahkan. Tumpahan manusia terjadi ketika kendaraan dihentikan agar manusia dapat menyeberang jalan. Dua sisi jalan seberang-menyeberang manusia di atasnya. Menarik tapi melelahkan karena aku tidak bisa berdiri lama di area itu.

Sejam kemudian…

Aku memilih pulang dengan resiko membayar agak mahal. Alat transportasi mobil tiga roda aku sewa setelah tawar-menawar sampai orang ketiga barulah aku mendapatkan satu yang bersedia mengantarku pulang.

Aku tiba di hotel. Membayar pada si pemilik kendaraan yang senang sekali menerima uang dari tanganku, walau agak terkejut karena dia harus memberi kembalian. Aku perhatikan raut wajahnya, yang kemungkinan sedang mereka-reka jumlah isi dompetnya. Mata uang yang aku sodorkan yang mungkin paling besar nilai nominalnya dari dompetku. Seribu Bath, dia harus mengembalikan sembilan ratus Bath.

Akh… kemahalan sekali aku harus membayar. Tapi, lebih baik demikian daripada aku menunggu para loving shoppier.

haha…

Chiang Mai, 29 Juli 2019

Heronimus Bani, tukang tulis sonde jalas.

Hal Baru

Andalan

Hari ini saya belajar hal baru. Saya pikir sesuatu yang sulit sedang saya hadapi. Setelah mencoba dengan pengetahuan terbatas, apa adanya, saya akhirnya membuat blog ini. Entah akan menjadi baik atau bagaimana, saya tetap harus mencobanya.

Saya ingin memastikan bahwa dunia digital ada manfaatnya. Persoalannya ada pada bagaimana: memulai, mengisinya, menanggapi bila ada yang merespon, dan pembiayaan.

Aih… hal baru

Cerita Desembermu, Forsia SMEAN 86

Alumni SMEA N Kupang dalam Forum Silaturahmi SMEA N Kupang 1986

Enam Desember Dua ribu sembilan belas. Kurang dari 30 orang anggota Forum Silaturahmi Alumni SMEA Negeri Kupang tahun 1986 bertemu. Pertemuan dikemas dalam satu acara terpadu reuni dan natal bersama. Ya, suatu masa yang panjang antara Juni 1986 – Desember 2019. Walau Desember 2019 ini sesungguhnya bukan satu-satunya momentum pada hari ini.

Diawali 11 Juli 2019, pada hari itu dibuatkan grup WhatsApp. Para alumni yang saling mengetahui nomor WhatsApp berkomunikasi walau saling berjauhan, bahkan seorang di antaranya belum merapat ke salah satu daratan di Indonesia, justru dia seorang admin grup.

Singkat cerita, pertemuan pertama menghasilkan Artikel Sulamandu. Selanjutnya ada pertemuan-pertemuan lainnya yang menghasilkan kesepakatan untuk reuni dipadukan natal pada Desember 2019 ini.

Panitia dibentuk. Yakobis Dethan (Ketua), Heronimus Bani (Sekretaris), Mathilda Kuhurima (Bendahara). Ada pula seksi-seksi yang mengatur acara, perlengkapan dan lain-lain yang sifatnya hendak mensuport keseluruhan niat ini. Setelah melewati serangkaian pertemuan, akhirnya disepakati, enam Desember sebagai waktu yang tepat untuk bereuni. Tempat yang dipilih, di rumah seorang anggota alumni di Kelurahan Lasiana Kota Kupang.

Menariknya, walau terkendala banyak hal, namun acara ini akhirnya dapat berlangsung. Ibadah natal terjadi, reuni terjalin. Cerita dan canda masa remaja, masa-masa SMA (SMEA) dimainkan oleh para reunion.

Reuni ini makin indah ketika mantan Kepala SMEA Negeri Kupang, Drs. Julius Riwu Kaho bersedia menghadirinya. Ia menepati janjinya, walau tidak sempat mengikuti ibadah berhubung ia masih ada kesibukan lain yang berhubungan langsung dengan tanggung jawabnya. Tapi, sang mantan Kepala Sekolah tetap memenuhi janjinya. (kisahnya diulas tersendiri).

Kisah, canda, foto mewarnai acara ini. Menikmati hidangan semeja sambil bercerita tentang tugas-tugas, keluarga dan rumah tangga, atau kenakalan masa remaja. Itulah yang terjadi pada enam Desember dua ribu sembilan belas ini, yang dilakoni oleh para alumni Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kupang tahun 1986.