Berbaring

Sekejab saja bagai sekali kedip mata raga ini telah rontok. Ketinggian kurang dari 2 meter saja tapi berat tubuh yang tidak mencapai 60 kg menjadi pemberat yang mempercepat jatuhnya. Braaaak… . Sekedip mata .

Aku merayap mencari pertolongan. Kupanggil mereka yang terdekat untuk menolongku. Pertolongan tiba. Aku dipapah. Luka di kepala mengalirkan darah. Memar di belakang makin bengkak dan sangat nyeri.

Madu, kuning telur, dan minyak kelapa murni menjadi pertolongan pertama. Air hangat menjadi bagian yang turut disertakan untuk mencuci luka dan darah yang mulai mengering. Tangan-tangan terampil mengoles sebahagia besar permukaan tubuh dengan minyak kelapa murni yang dipadu air hangat. Akhirnya aku dapat duduk. Sebelumnya hanya telungkup saja

Pikap membawaku.ke puskesmas terdekat yang jaraknya mencapai 10 km. Jauh… Terasa dekat karena jalan beraspal sebahagian hotmix.

Perawat memintaku berbaring. Kembali luka dibersihkan dan diobati. Beberapa saran disampaikan seiring elusan tangannya pada bagian yang sakit dan terlihat bengkak. Akhirnya didaftarkan sebagai pasien di IGD Puskesmas sore ini. Tensi darah digital ditempatkan di lenganku. 146 katanya. Sejumlah obat kami baw pulang.

Tiba di rumah, para kerabat terdekat membezuk. Makanan, air hangat dan obat segera tiba ditelan. Bagian yang nyeri terasa berangsur membaik. Entah nanti malam ini.

Sepasang tangan terampil mengoleskan minyak kelapa murni dipadu air hangat. Angin pun keluar melalui lubang bagian akhir. Aku sudah dapat membalikkan badan dan sudah bisa ke kamar kecil melepas hajat depan.

Semoga

Koro’oto Pah Amarasi, 1 April 2022

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

Design a site like this with WordPress.com
Get started