Tugas Belajar di dan dari Rumah

Sejak program nasional Bekerja, Belajar dan Beribadah di dan dari Rumah dicanangkan dan dilaksanan, di rumah, anak saya yang bungsu sebagai salah satu siswa ikut merasakan hal belajar di dan dari rumah. Sepanjang hari-hari belajar di dan dari rumah, sesekali saya ditanyai oleh anak saya. Dominan ibunya yang ditanyai dan diskusi dengan bersumber pada buku-buku siswa yang dibagikan.

Saya merasakan hal berbeda memasuki tahun pelajaran baru. Anak saya kelihatan bingung dengan materi yang diterima setiap minggu. Mereka ke sekolah mengantar hasil belajar di rumah, dan kembali ke rumah dengan membawa tugas, tanpa kunjungan dari gurunya. Itu sudah kebijakan di sekolah dasar dimana anak saya menjadi siswa di sana.

Pagi ini, saya sudah bersiap ke sekolah. Saya melihat anak saya tergesa-gesa menulis tugasnya. Rupanya ia gelisah dengan tugas-tugas itu. Mengapa? Hari sebelumnya (17 Agustus 2020) ada upacara bendera di desa untuk tingkat kecamatan sehingga anak ikut menyaksikan upacara dan keramaian itu. Lalu, pagi ini ia tergesa-gesa hendak menyelesaikan tugas-tugas itu.

Sebagai orang tua yang profesinya guru (SD), saya minta untuk membantu. Dalam minggu ini saya turut membantu anak saya ini untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Materi yang diterima, sebagai guru (SD) bagi saya sebagai guru (SD), saya lihat itu sebagai hal yang wajar dan normal dalam pembelajaran yang secara spiralis meluas dan makin kompleks/rumit. Maka, mestinya para siswa mendapatkan penjelasan dari guru sebelum memberikan tugas. Itulah sebabnya pembelajaran jarak jauh di pedesaan tidak efektif. Belajar sendiri di rumah dengan bantuan orang tua pun kurang efektif, apalagi ini untuk siswa SD.

Satu masalah saya temukan pagi ini ketika harus membantu anak saya. Entah antara Buku Guru dan Buku Siswa ada kesesuaian atau tidak? Entah guru membaca kedua buku itu secara cermat atau tidak? Saya yang guru (SD) ini pun akhirnya kewalahan. Antara tugas yang diberikan dengan isi materi dalam buku, ternyata tidak ada. Saya makin bingung, maka saya menulis catatan dalam kertas kerja anak saya dan saya tandatangani.

Catatan saya itu berbunyi seperti ini, Tolong cek kembali kesesuaian antara Buku Guru dan Buku Siswa. Tugas ini tidak saya temukan dalam Buku Siswa… Terima kasih.

Sebagai Guru (SD) saya menyadari ada keterbatasan di sekolah di mana anak saya terdaftar sebagai siswa. Buku Siswa yang dibagikan kepada anak untuk menjadi sumber belajar di rumah, buku yang terbit terakhir tahun 2018.

Melihat hal ini, saya merasa perlu menulis seperti ini untuk mengingatkan saya sendiri, bahwa antara Buku Guru dan Buku Siswa jangan sampai pengadaannya berlainan edisi dan tahun terbit. Mengapa? Karena Buku-buku Guru dan Siswa selalu direvisi setiap edisinya. Saya pun perlu berefleksi di sekolah tempat saya bertugas bersama rekan-rekan guru.

Demikian pengalaman kami sebagai orang tua ketika anak Belajar di dan dari Rumah (BdR). Sementara di sekolah lain ada TKK (Titik Kumpul dan Kunjung), di sana guru dan siswa berinteraksi seperti di ruang kelas dengan keterbatasan. Hal ini sesuai petunjuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang, bahwa topografi Kabupaten Kupang yang sedemikian ini tak mungkin untuk dapat melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), dan BdR yang juga bersifat “semi online”. Maka kebijakannya adalah, TK (titik kumpul), yang oleh saya sebagai guru saya sebutkan menjadi TKK (titik kumpul dan kunjung).

TKK di sini dimaksudkan sebagai suatu tempat yang disepakati antara guru, siswa dan dalam pengetahuan orang tua. Di sana guru berkunjung kepada para siswa untuk proses belajar-mengajar dapat terjadi.

Terima kasih.

Koro’oto, 18 Agustus 2020

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: