Lukisan Pagi di Desa

Pagi di desa adalah lukisan hidup yang baru dibuka. Langit yang masih malu-malu menampakkan diri, perlahan menyibakkan tirai gelap malam dengan jari-jari sinar matahari yang hangat dan lembut. Setiap tetes embun menjadi kunci rahasia yang membuka napas bumi, menghembuskan udara sejuk yang meresap ke dalam pori-pori daun dan tanah. Kicau burung adalah simfoni alam yangContinueContinue reading “Lukisan Pagi di Desa”

Musibah dan Kepedulian

Catatan ini ditulis sesaat seorang rekan guru mengirim foto sebagaimana yang ditempatkan di sini. Kiriman foto itu disertai keterangan bahwa ada dua orang siswa yang terdampak musibah kebakaran. Guru dan siswa menggalang dana sedapat-dapatnya, lalu mereka mendatangi dua siswa itu dan orang tuanya untuk menyerahkan santunan. Di bawah langit biru yang menyimpan duka, Desa ManusakContinueContinue reading “Musibah dan Kepedulian”

Senja di Tanjung Kupang

Foto: Ansel Bani Lelaki itu berdiri di tepian tanjung, memandang jauh ke arah perbukitan yang menjura bagai tangan raksasa. Ia membelakangi tanjung sebagai muara dari aliran sungai yang dikenal dengan sebutan Talmanu’ (Tarmanu/Termanu). Pesisir yang mengarah ke arah Barat dari Amfoang Barat Laut, Amfoang Barat Daya, Fatule’u Barat dan Sulamu, Semua tempat yang disebutkan ituContinueContinue reading “Senja di Tanjung Kupang”

Pasrah sebagai Ruang Hampa untuk Elit

Ilustrasi: Chatgpt Di negeri ini, kata “pasrah” kerap dijual sebagai kebajikan. Ia dibungkus rapi dengan idiom religius—“ikhlas menerima takdir”, “bersyukur meski sederhana”, atau “percaya pada rencana yang lebih besar”. Namun, dalam realitas politik Indonesia, pasrah lebih sering tampil sebagai ruang kosong: sebuah panggung sunyi yang dibiarkan terbuka, tempat para elit memainkan lakon eksploitatifnya. Bayangkan sebuahContinueContinue reading “Pasrah sebagai Ruang Hampa untuk Elit”

Buku dan Anakan Pinang

Tanda Kenangan dengan Buku dan Anakan Pinang Pengantar Dalam beberapa tahun terakhir ini rasanya dunia literasi, khususnya menulis di blog dan berbagai media sosial telah amat sangat marak. Di antara para Blogger tentulah ada manfaat yang dipetiknya, demikian pula pemanfaatan aplikasi media sosial. Literasi yang demikian telah “menaikkan” pamor para pemakainya, entah sekadar suka untukContinueContinue reading “Buku dan Anakan Pinang”

Beda Nuansa ketika di Nunkolo

Ketika saya sedang berada di Nunkolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT dalam tugas lokakarya mini Bahasa Amanatun, https://infontt.com/2022/amanatun-sadar-bahasa-daerah/seorang rekan guru mengirim foto dari seorang rekan guru yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalulintas. Kami para guru di Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang berduka atas meninggalnya rekan guru ini. Saya sebagai salah satu pengurus PGRI di kecamatanContinueContinue reading “Beda Nuansa ketika di Nunkolo”

Merdeka Kita

Merdekaku,Merdekamu,Merdeka kita.Bebasku,Bebasmu,Bebas kita. Jika kita sudah merdeka,Jik kita sudah bebas,Jika kita sudah jauh dari terjajahAdakah nuansa penjajahan baru? Negara dan bangsa iniNegara Kesatuan Republik IndonesiaBerjalan makin jauhBerenang tak lengahBerpacu makin kuat. Pemiskinan,Pembodohan,Ketidakberdayaan,Ketimpangan,Keserakahan,Varian penyakit sosiallemah karakter bangsamenjadi kaum penjajah barudi zaman merdeka ini. Mari…Merdekakan bangsa ini,Bebaskan negara ininaikkan bendera martabatkibarkan karakter bangsanasionalisme, patriotisme, heroisme. Junjung danContinueContinue reading “Merdeka Kita”

Irama Kata

Tanpa blatiada blanihil blablokir hakmututup rasamupalang senyummu Irama kataAku Penguasakau tak lebihkau tak bolehkau tak benarkau tak cerdaskau tak becuskau tak …kau tak …kau tak …kau tak … jantung berdebardarah mendesirpsikis terseraksenyum pagi hilangsinar mata sayupada kami kaum reseh Singgasana dan takhtakuasa dan palucemeti dan cambukkata dan aktahumaniskah?Demokrasi ??Otokrasi ??Oligarki ??Theokrasi ?? Penguasatuangkan untai kataContinueContinue reading “Irama Kata”

Pagi Senyap

Kokok ayam dan kicau burung, warna dan rasa renyah pagi ini, langkah cepat berjarak pendek, ayunan tangan berirama reggae, gaung lonceng berbarengan lolong anjing, anak babi mendengkur di kehangatan badan induknya. Semua berlalu tanpa bebunyian mesin modern pengganggu Indra beresonansi. Umi Nii Baki, 24 Juli 2022 herobani68@gmail.com

Design a site like this with WordPress.com
Get started