Berbaring

Sekejab saja bagai sekali kedip mata raga ini telah rontok. Ketinggian kurang dari 2 meter saja tapi berat tubuh yang tidak mencapai 60 kg menjadi pemberat yang mempercepat jatuhnya. Braaaak... . Sekedip mata . Aku merayap mencari pertolongan. Kupanggil mereka yang terdekat untuk menolongku. Pertolongan tiba. Aku dipapah. Luka di kepala mengalirkan darah. Memar diContinue reading "Berbaring"

Rinai Pemulihan

Kata-kata saja tidak cukup untuk pemulihan manakala air mata menggenang, mengalir hingga kering. Untaian ujar bertuah pun bagai polesan bibir belaka manakala suara di tenggorokan sudah serak terhalang. Akta Ilahi menyejukkan hati dan memulihkan rasa duka berpedih terselip di antara kata dan ujar bernas dari bibir-bibir kerabat dan sahabat. Kata bermakhota penenang gejolak yang dilantunkanContinue reading "Rinai Pemulihan"

Hening Dinihari

Gubuk kecil di lereng bukit itu hening. Wajah-wajah layu hendak menitikkan air mata akhirnya meledak pula suara dari bibir-bibir bergetar memecah hening dinihari. Sang ibu pergi untuk selama-lamanya. Anak-anak mengitari jasadnya, ditangisi dan diratapi. Kapankah akan bersua dengannya lagi? Dalam hal daur hidup, kematian itu suatu kepastian, kelahiran itu suatu keniscayaan. Kehidupan dengan segala trik-intrik,Continue reading "Hening Dinihari"

Akta Kata

Berjubel kata di hari-hari berlalu, hingga bagai sesak di benak dan otak pengolah data. Mereka menabrak sel-sel penerima hingga terbersit rasa walau harus ada dalam sistem penataan pada penyimpanan yang fail kesan. Ketika dimunculkan akan tersusun kata baru bermakna tunggal atau ganda. Dapatkah hari ini semangat berkata menuju akta baru? Koro'oto Pah Amarasi, 29 MaretContinue reading "Akta Kata"

Irama Fajar

Aku bukanlah biduan pengantar sukma bergema. Aku hanyalah penikmat irama dan nada fajar manakala seorang biduanita atau biduan melantunkannya. Aku meneduhkan diri di hadapan Ilahi bersyukur pada-Nya ketika irama fajar mendayu-dayu mengelus rasa dan membelai raga. Sungguh ketenangan dan kedamaian di hadirat Sang Khalik. Selamat pagi Sahabat. Koro'oto Pah Amarasi, 28 Maret 2022 herobani68@gmail.com

Meredupkan Fajar Menerbitkan Terang

Saudaraku,Pernahkah ada dalam refleksimu polemik agitatif peretas kegaduhan publik?Pernahkah ada dalam opinimu nuansa defensif religi sambil mengelus mesra seterumu?Adakah ketenangan dan keteduhan di hatimu ketika dunia sekitarmu mencaci dan mencemooh kemurnian dan kesucian ajaran keimananmu?Adakah kedamaian dan kebahagiaan manakala ibadahmu diterabas dan dibabat kaum saleh yang tampil elit dan alim kesemuan? Yesusku...Junjunganku...Fajar Harapan segala kaumKelembutanContinue reading "Meredupkan Fajar Menerbitkan Terang"

Kaburkah Nuansa?

Ketika fajar menyapa mayapada kabut pagi malu-malu hendak menepi. Fajar pagi menyapa begitu ramah dengan senyuman keemasannya. Kokok ayam bersahutan ditingkahi irama dan nada yang dimainkan burung yang bertengger di pohon kersen. Aku menengok ke arah Timur, fajar pagi terus secara perlahan tanpa upaya berhenti sejenak. Sementara kabut mulai kabur secara senyap pergi sambil melambaiContinue reading "Kaburkah Nuansa?"

Canda Kembang Pagi

Aku baru saja melirik pada setangkai bunga pagi ini. Rona wajahnya ceria berwarna jingga dibaur merah keputihan. Dedaunannya bergoyang melenggak-lenggok bagai penari teunraen Pah Amarasi. Kususuri sekelilingnya, ia tegar berdiri pada batangnya yang berisi cairan belaka. Mengagumi keindahan pagi ini, Sang Bunga pun bercanda, "Hai insan ber-Tuhan, bersyukurlah atas anugerah keindahanku, walau kusadari kau lebihContinue reading "Canda Kembang Pagi"

Rerumputan Bersemi

Aku baru saja menyapa rerumputan, mereka tersenyum sambil berayun-ayun dalam permainan bersama butiran embun bercahaya disiram surya pagi yang temaran dibungkus kabut. Sebarisan semut berjejeran dalam barisan temu cium pelukMelangkah maju tanpa beban kekuatiran hari ini.Himpunan rerumputan bersemi nyaman,hendak melewati pagi dengan bisikan bayu belum bernada. semoga hariku demikian adanya.

Gembira Senja

Senja tiba, hari siang akan segera berlalu, irama pengiring senja dimainkan anak-anak memeriahkan hilangnya Raja siang. Keramaian irama senja diwarnai bunyi plak, plak, plak bertalu-talu dari tubrukan gasing anak-anak. Aku duduk di sini, memandang keramaian irama yang dimainkan anak-anak desa. Indah tanpa polesan. Polos dan lugu, tiada keresahan dan kegalauan. Anak-anak desa di dusun yangContinue reading "Gembira Senja"

Design a site like this with WordPress.com
Get started