Dalam nada Getir ini

Aku hendsk melewati malam yang disediakan Sang Khalik semesta dengan merebahkan raga. Saat itu desis alat komunikasiku terdengar. Lalu, kubangunkan raga dan menyalakan pelita tubuhku agar teranglah baris-baris kabar tertulis dan terurai. Baris-baris aksara itu bercerita sambil melepas air mata. Aku tertegun sejenak, selanjutnya larut dalam rasa duka yang dialami sahabat rasa saudara kandung. KamiContinueContinue reading “Dalam nada Getir ini”

Beda Nuansa ketika di Nunkolo

Ketika saya sedang berada di Nunkolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT dalam tugas lokakarya mini Bahasa Amanatun, https://infontt.com/2022/amanatun-sadar-bahasa-daerah/seorang rekan guru mengirim foto dari seorang rekan guru yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalulintas. Kami para guru di Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang berduka atas meninggalnya rekan guru ini. Saya sebagai salah satu pengurus PGRI di kecamatanContinueContinue reading “Beda Nuansa ketika di Nunkolo”

Sebaris Kenangan

Tiga hari beriringan telah aku lewati bersama masyarakat dan banyak pemangku kepentingan lainnya dari Kecamatan Amarasi. Pesta rakyat antara 13 – 17 Agustus 2022. Aku ada di sana antara 13 – 15 Agustus 2022 setiap malam. Tiga malam berturut-turut yang berkesan bersama 9 sahabat dalam tugas bidang lomba kesenian. Kami berbagi tugas, manajemen acara lomba,ContinueContinue reading “Sebaris Kenangan”

Merdeka Kita

Merdekaku,Merdekamu,Merdeka kita.Bebasku,Bebasmu,Bebas kita. Jika kita sudah merdeka,Jik kita sudah bebas,Jika kita sudah jauh dari terjajahAdakah nuansa penjajahan baru? Negara dan bangsa iniNegara Kesatuan Republik IndonesiaBerjalan makin jauhBerenang tak lengahBerpacu makin kuat. Pemiskinan,Pembodohan,Ketidakberdayaan,Ketimpangan,Keserakahan,Varian penyakit sosiallemah karakter bangsamenjadi kaum penjajah barudi zaman merdeka ini. Mari…Merdekakan bangsa ini,Bebaskan negara ininaikkan bendera martabatkibarkan karakter bangsanasionalisme, patriotisme, heroisme. Junjung danContinueContinue reading “Merdeka Kita”

Menoleh Pada Merdeka

Puisi dalam rangka Hari Proklamasi Kemerdekaan NKRI ke-77 Menoleh pada Merdeka Aku berdiri di siniPada titik waktu iniPada tanggal bersejarah kiniPada momentum keramat iniBangsa dan negara iniMasyarakat dan warganya kini Oh… Ketika aku menolehJauh di belakang sana tertorehUsaha dan kerja keras bersejarahBersama para pejuang berdarahBersemarak ragam pikir resahKoloni dan imperialis menjajahkaum lemah terjepit dan dijarahhinggaContinueContinue reading “Menoleh Pada Merdeka”

Puisi Tiga Untai

Malam baru saja tiba di sekitaran empat bagiannya. Seorang sahabat meminta agar saya menulis puisi dalam bahasa daerah untuk anak-anak diikuti terjemahannya. Saya belum menyanggupinya. Lalu kami bercerita pasal-pasal sesukanya, sampai lahir puisi pertama Dunia bukanlah akuaku duduk di sinimelihat dan mendengarmencicip dan merasaentah indah atau burukentah manis atau pedisberagam rasa ada di sanasepatasampahitasinentah adaContinueContinue reading “Puisi Tiga Untai”

Koreksi Puisi

Seorang sahabat menulis puisi pendek untuk mengenang anggota keluarga yang meninggal dunia. Ia mengirimkannya pada saya, kemudian meminta untuk mendapatkan koreksi. Puisi itu seperti ini: KakakkuTak pernah kudugaTak pernah kusangkaKepergianmu bgitu cepatTakdir menjemputMenghadap sang IlahiKasihmu sayangmuMelekat di sanubariSlamat jalan kakakku Setelah membaca saya mengoreksi dengan menambahkan seperti ini: Kakak,pikirku dan batinkumasa hidup bagi kita ituContinueContinue reading “Koreksi Puisi”

Di Titik Resahku

Seorang rekan guru menelepon saya. Kami berbincang santai sebagai sesama guru ketika kami ingat tugas pokok dan fungsi kami. Dalam perbincangan itu terasa begitu akrab bagai saudara yang sedang saling membagi kisah kenangan masa. Lalu pada titik waktu tawa dalam canda, secara tak saya sadari, saya ucapkan satu frasa seperti ini, “bagai sedang diredupkan.” SayaContinueContinue reading “Di Titik Resahku”

Teriakan

Teriakan di terik siang menggema, Irama tanpa nada berbiramaKeluar dari biara kaum terdidikYel yel disematkan pada bibirDi negeri kaum plesetan aktaDipenuhi minat pengubah ritmehendak menyemai benih baruagar disebut punya kekhasantinta warna-warni sejarah menorehMenanti nama disebutkan kelakhingga muncul organ pemeluk kuasa Koro’oto, 25 April 2022

Irama Fajar

Aku bukanlah biduan pengantar sukma bergema. Aku hanyalah penikmat irama dan nada fajar manakala seorang biduanita atau biduan melantunkannya. Aku meneduhkan diri di hadapan Ilahi bersyukur pada-Nya ketika irama fajar mendayu-dayu mengelus rasa dan membelai raga. Sungguh ketenangan dan kedamaian di hadirat Sang Khalik. Selamat pagi Sahabat. Koro’oto Pah Amarasi, 28 Maret 2022 herobani68@gmail.com

Design a site like this with WordPress.com
Get started