Lelucon Kecil di Sekolah Kami

Sejak diberlakukannya Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (covid-19), tanggal 24 Maret 2020, sampai saat ini sekoah-sekolah telah memiliki budaya baru dalam proses belajar mengajar. Budaya baru itu disebut Belajar Dalam Jaringan (daring) atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Lantas diikuti dengan teknis atau pendekatan locusnya yaitu rumah dimana siswa tinggal.

Surat Edaran Nomor 4 tahun 2020 diikuti pula dengan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Surat Edaran ini dimaksudkan untuk memperkuat surat edaran sebelumnya (No.4/2020).

Sudah bukan rahasia lagi tentang PJJ/BdR yang dilaksanakan di berbagai daerah kabupaten/kota di Indonesia (khusus SD, SMP). Masalah yang mirip dan sama antardaerah dan antarsekolah. Pada sekolah-sekolah dengan tampilan mentereng, apakah mereka nyaman dengan PJJ/BdR? Tidak juga. Lantas, apakah sekolah-sekolah yang di pedesaan lebih sulit? Tentu saja, ya! Walau demikian, apakah sekolah-sekolahdi pedesaan terkendala untuk tidak melaksanakan pembelajaran? Tidaklah demikian. Solusi harus dapat ditemukan untuk menjalankan pembelajaran sesederhana apapun itu.

Para pakar dan pengamat, jurnalis dan blogger telah menyampaikan lisan dan tulisan tentang “kegagalan” dalam pendekatan pembelajaran di masa pandemi covid-19 ini. Masyarakat pendidikan khususnya orang tua siswa makin resah dengan pelaksanaan PJJ/BdR. Saya hanya mengulang saja apa yang sering saya tulis tentang faktor-faktor apa saja yang menjadi kendala pelaksanaan PJJ/BdR

  • Kesiapan sekolah. Sampai saat ini belum semua sekolah menyiapkan diri (atau disiapkan) untuk melaksanakan PJJ/BdR. Hal ini dapat didiskusikan lebih lanjut
  • Kesiapan guru menangani PJJ/BdR. Guru profesional mesti telah mantap pada Literasi tekonologi informasi dan komunikasi (hardware and software).
  • Dukungan orang tua siswa. Orang tua siswa manapun pasti sadar pentingnya pendidikan. Sayangnya, bila bersentuhan dengan nilai uang dalam jumlah tertentu, seringkali (mungkin juga selalu) hal ini menjadi beban.
  • Faktor ekternal lainnya yaitu dukungan jaringan telekomunikasi.

Dalam hal-hal yang demikian (yang dapat saya sebutkan karena kami mengalaminya), sekolah (dhi.guru dan siswa dengan dukungan orang tua siswa) kami terus menunaikan tugas.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan prioritas kebijakan, kendala dan solusi atas PJJ/BdR

“Prioritas utama pemerintah adalah untuk mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat secara umum, serta mempertimbangkan tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial dalam upaya pemenuhan layanan pendidikan selama pandemi COVID-19,” jelas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim dalam taklimat media Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19, di Jakarta, Jumat (07/08)

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200807192842-4-178345/menteri-nadiem-ungkap-kendala-pembelajaran-jarak-jauh

Apa saja kendala yang terlihat ketika PJJ/BdR ada dalam pelaksanaannya, kemudian terlihat oleh Mendikbud Nadiem Makarim. Ia menyatakan, bahwa Kurikulum menjadi beban para guru.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengungkapkan bahwa selama masa belajar jarak jauh yang sudah berjalan selama ini para guru terkesan sekadar mengejar tuntutan kurikulum saja. Sebenarnya ini juga bukan hal baru. Sebelum pandemi, dalam sistem belajar tatap muka pun keadaannya sudah begitu. Bagi saya, kurikulum itu sebuah ironi. Kita membuat kurikulum untuk memandu dan memudahkan kegiatan belajar mengajar. Tapi di lapangan, kurikulum justru menjadi beban bagi guru-guru dan murid-murid.

https://news.detik.com/kolom/d-5126667/mengatasi-kendala-pendidikan-jarak-jauh

Hal berikutnya yang disebutkan oleh Mendikbud sebagai kendala pelaksanaan PJJ/BdR, yaitu faktor siswa dan orang tuanya.

Kendala lain ada pada murid dan orangtua. Para guru mengajar dengan pola pikir tatap muka di kelas yang dipaksakan untuk disiarkan melalui jaringan. Murid yang terbiasa belajar dengan sistem tatap muka juga kelabakan dengan sistem baru ini. Apalagi para orangtua. Kebanyakan orangtua tidak terlibat dalam kegiatan belajar anak-anaknya. Kini mereka harus terlibat. Jangankan secara keterampilan, secara mental pun mereka tidak siap. Akibatnya, banyak orangtua yang stres, lalu berujung pada kekerasan terhadap anak.

https://news.detik.com/kolom/d-5126667/mengatasi-kendala-pendidikan-jarak-jauh

Lantas apakah dengan demikian kita tidak melaksanakan pembelajaran?

Terdapat 7 point solutif yang diberikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ketujuh hal itu saya urutkan sebagai berikut:

  • Keluar dari zona nyamam
  • Membagi kelas menjadi kelompok kecil
  • Mencoba project based learning
  • Mengalokasikan waktu lebih banyak bagi siswa tertinggal
  • Fokus kepada yang terpenting
  • Berbagi informasi sesama guru
  • Mengajar dengan senang hati

https://edukasi.kompas.com/read/2020/05/09/122341271/guru-ini-tips-pembelajaran-jarak-jauh-dari-mendikbud-nadiem-makarim/

Di sekolah tempat kami mengabdi, ada kebijakan yang kami coba tempuh setelah mendengarkan (membaca) arahan dari Dinas P & K Kabupaten Kupang melalui surat-surat dinas yang dikirimkan via aplikasi WhatApp.

Satu di antaranya yaitu, melaksanakan pertemuan dengan orang tua siswa untuk menentukan pendekatan pembelajaran yang tepat sesuai kondisi setempat. Jadilah kami mencoba menerapkan kebijakan menyelengarakan proses pembelajaran dengan pendekatan berbagi waktu (shift). Kelas 1,2,3 pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu; Kelas 4,5,6 pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Kami berharap untuk mengevaluasinya setelah sebulan pelaksanaan.

Evaluasi itu akhirnya batal karena adanya surat dari Dinas P & K Kabupaten Kupang agar penyelenggaraan proses bembelajaran kembali seperti situasi normal dengan memperhatikan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penyebaran virus korona.

Sayang sekali, hal ini tidak berlangsung lama. Belum sebulan pelaksanaannya, masalah muncul. Dua pejabat dan beberapa anggota masyarakat di Kabupaten Kupang terkena virus korona. Kasus ini menyebabkan pelaksanaan proses pembelaran dibatasi semula hanya untuk dua kecamatan yaitu Kecamaqtan Kupang Tengah dan Kupang Timur. Namun, pada kelanjutannya kebijakan Pemerintah Kabupaten Kupang melarang sekolah-sekolah dibuka, lalu kembali ke PJJ/BdR.

Pengambil kebijakan di Kabupaten Kupang khususnya di bidang pendidikan, (dhi Dinas P & K) telah secara gamblang melihat wilayah ini sebagai bakal klaster bila sekolah-sekolah terus dibuka untuk pembelajaran tatap muka. Padahal, bila kita menelusur ada syarat untuk membuka sekolah pada masa pandemi covid-19 ini. Saya boleh sebutkan 10 syarat itu.

  1. Peniadaan aktivitas ekstra kurukuler
  2. Peniadaan aktivitas pertemuan orang tua dan guru di lingkungan sekolah
  3. Penerapan wajib masker
  4. Menjaga jarak peserta didik 1,5 – 2 meter
  5. Pembatasan isi ruagan kelas (15 – 18 siswa)
  6. Ketersediaan fasilitas sanitasi kesehatan dan kebersihan
  7. Pembatasan jam belajar
  8. Kecukupan jumlah guru yang masuk batas usia dan tidak rentan
  9. Peniadaan aktivitas kantin sekolah
  10. Peniadaan aktivitas siswa berkumpul dan bermain di sekolah

Mari memperhatikan nomor 3 – 8. Tidak baikkah jika sekolah dasar dengan jumlah siswa di bawah 100 orang melaksanakan pembelajaran secara tatap muka?

Kini saya berangkat ke judul. Paling kurang ada 3 lelucon kecil di sekolah kami.

  • Sepasang suami-isteri rupanya telah bersepakat untuk mengeluarkan anaknya dari sekolah. Saya sudah menulis cerita ini di blog saya ini. Setelah saya melakukan pendekatan dengan orang tua siswa ini yang didampingi Ketua RW setempat, akhirnya siswa ini dikembalikan ke sekolah.
  • Ada orang tua yang rela mengantar anak ke sekolah, kemudian duduk menunggu di halaman sekolah. Anaknya belajar bersama teman-temannya selama kurun waktu kurang lebih 2 jam pelajaran (@40 menit). Tidak lucu-lucu amat, tetapi, ketikas aya tanyakan, justru karena anak tidak rindu lagi ke sekolah.
  • Guru semestinya ke sekolah terlebih dahulu sebelum ke lokasi belajar bersama yang kami namakan Titik Kumpul dan Kunjung (TKK). Ternyata ada guru yang tidak melakukan hal ini. Lalu terjadi salah paham antarguru dengan kepala sekolah, gegara gurunya ke TKK yang tidak diketahui Kepala Sekolah. Ketika Kepala Sekolah menuju ke TKK yang pernah diberitahukan, ternyata sang guru ke TKK baru berhubung ia menambah satu kelompok siswa. Lalu, sang guru merasa Kepala Sekolah hendak mencari-cari kesalahan pada gurunya. haha… Kepala sekolah justru hendak melakukan monitoring pelaksanaan pembelajaran di TKK.

Kini saya berharap bila saja suara ini terdengar. Bila saja Dinas P & K Kabupaten Kupang membuat penataan yang menggolongkan sekolah dalam rangka pembelajaran tatap muka di pedesaan berdasarkan banyaknya siswa, sebagai berikut:

  • Sekolah dengan jumlah siswa di bawah 100 orang dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka (normal)
  • Sekolah dengan jumlah siswa 101 – 200 orang melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan pembagian kelompok dan jadwal. Pengelompokan yang diizinkan dengan shift 1 dan 2 (mungkin 3)
  • Sekolah dengan jumlah siswa di atas 200 orang dengan jadwal seminggu 2 atau tiga kali pertemuan dalam kelompok shift.sebagaimana yang telah diizinkan dilakukan pada beberapa bulan yang lalu.

Maka, siswa tidak datang ke sekolah untuk menjemput dan mengantar tugas. Guru tidak pergi ke TKK untuk mengajar dengan kondisi yang tidak tentu menjamin kelangsungan pelaksanaan pembelajaran secara nyaman. TKK itu sendiri sesungguhnya hanya memindahkan ruang kelas ke rumah. Tapi, ada pengamat yang menyebutkan sama dengan apa yang saya sebutkan ini merupakan fakta di lapangan.

Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jimmy Paat mengungkapkan belajar dari rumah yang sudah berlangsung hampir satu bulan ini dinilai belum ideal. Guru seperti hanya memindahkan pelajaran di sekolah ke rumah masing-masing siswa.

 Terbukti guru, banyak proses belajar daring yang hanya pemberian tugas-tugas tanpa ada proses belajar mengajar. Padahal, kata Jimmy, itu merupakan satu kesatuan yang tidak dipisahkan.

https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/yNLG4RvK-pengamat-guru-hanya-memindahkan-pelajaran-dari-sekolah-ke-rumah

Akh…walau begitu, anggap saja hal ini hanya bualan seorang guru kampung.

Selamat belajar dengan pendekatan PJJ/BdR, dan TKK.


Koro’oto, 7 Oktober 2020

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

6 thoughts on “Lelucon Kecil di Sekolah Kami

  1. Di daerah kampung di sekolah kami protokol kesehatan seolah tak berlaku, yang terjadi kehidupan masyrakat biasa aja, aktivitas berjalan normal, kunjung mengunjungi antar tetangga, pasar pun seperti biasa, anak-anak justru berjalan-jalan entah kemana-mana.. Hanya aktivitas sekolah yang tidak biasa krn hanya datang sekali dalam seminggu perkelas…. Ada lelucon di masyarakat mereka mendoakan spy covid tetap ada, supaya mereka tetap mendapat bantuan dari pemerintah.. Sebuah ironi yang terjadi di lapangan., Semoga covid segera berlalu

    Like

    1. Ya, lelucon yang tidak lucu sebetulnya. Apakah ada situasi seperti itu di sekolah tempat dimana Ibu Ismi mengajar? Cobalah ceritakan. Terima kasih telah mampir di lapak ini. Mari Menulis

      Like

Comments are closed.

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: