Digadang Ke Gelanggang Hina

Namanya melejit, naik, naik dan naik.Ia naik didampingi kekasih yang tersenyum sambil melambai bercitra Dipuja kaum terpinggirkan, disanjung media hingga tokoh bertampang gagah dan gegabahIa mendapatkan nama baik, terbaik bak bintang kejora di fajar pagi dan senja hari.Ia disandingkan dengan tokoh beken bergelar ketika disematkan padanya pin bercahaya Tidak banyak diketahui bila itu bagai zebraContinueContinue reading “Digadang Ke Gelanggang Hina”

Dua Puisi Beda Nuansa

Ketika berada di So’e, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan dalam suatu tugas keagamaan, saya terus mengikuti perkembangan informasi dan berita-berita terutama dalam media daring. Saya tidak secara khusus berlangganan media cetak, tetapi di sekolah kami berlangganan satu surat kabar yang terbit lokal, berita-berita daerah dan nasional saya baca juga di sana. Di tengah kesibukan tugasContinueContinue reading “Dua Puisi Beda Nuansa”

Cerita si Merah dalam Perjalanan ke Wilayah Utara Kabupaten Kupang

Antar Kata Awal Sebagai satu unit kendaraan roda dua, aku disematkan nama sebagai si Merah, padahal dari pabrik sana aku dinamai Revo. Terserah tuanku. Aku telah bersama tuanku sejak Maret 2008. Bayangkan sudah 12 tahun. Pengalaman perjalanan tidak jauh-jauh untuk banyak tempat. Kampung terjauh yang pernah dikunjungi bernama Bijapunu’ di Molo Kabupaten Timor Tengah Selatan,ContinueContinue reading “Cerita si Merah dalam Perjalanan ke Wilayah Utara Kabupaten Kupang”

Puisi pada 21 November 2019 Berkisah

Pagi ini telah kami lewati dengan candaan ringan ala kami di rumah. Sementara itu saya mencoba melirik monitor Android. Mendengarkan suara kitab suci, Roma 2 dan 3 dalam Bahasa Amarasi. Saya katakan mendengarkan karena sudah ada Alkitab Bersuara dalam seribuan bahasa, dimana Bahasa Amarasi salah satunya. Sesudah mendengarkan, saya sentuh layar Facebook. Ternyata Managemen FacebookContinueContinue reading “Puisi pada 21 November 2019 Berkisah”

Menulis Puisi sebagai Sambutan pada Acara Resepsi Pernikahan

Entah alur ide ini datang dari mana? Saya memulainya begitu saja ketika diminta berbicara dalam beberapa kesempatan resepsi pernikahan. Kira-kira 3 tahun terakhir saya suka mengucapkan kalimat-kalimat puitis belaka ketika diminta berbicara menyampaikan sesuatu sehubungan dengan pengesahan sepasang kekasih memasuki rumah tangga, dan hidup sebagai sepasang suami-isteri. Seringnya berpuisi dalam satu dua bait pendek, akhirnyaContinueContinue reading “Menulis Puisi sebagai Sambutan pada Acara Resepsi Pernikahan”

Pergi untuk Selamanya

Pergi untuk Selamanya Kawan Seorang rekan Guru (pensiunan) telah pergi untuk selama-lamanya. Kisah kehidupan telah diukir di atas loh-loh berbenak. Ia pun melukis di kanvas berlumuran kisah edukatif. Alex Nepa Bureni. Selamat jalan, KawanSiapa menduga akhir hidup lebih awal daripada kehendak hidup lebih lama?Siapa menyangka di titik ini kita tak sempat saling menyapa? Di sudutContinueContinue reading “Pergi untuk Selamanya”

Hai Kekasih… .

Puisi di bawah ini saya tulis untuk menyampaikan bahwa saya turut menjadi bagian dalam acara sukacita sepasang kekasih. Mereka mengirim undangan melalui anggota keluarga mereka di kampung dimana saya tinggal. Puisi ini kemudian dibacakan dan vidionya dikirimkan pada saya. Ada keseleo dalam satu baris, namun secara keseluruhan pembacanya telah melakukan tugasnya secara baik ketika resepsiContinueContinue reading “Hai Kekasih… .”

Negeri Bagai Tanpa Humor

Republik Indonesia menyematkan nama resmi, Negara Kesatuan Republik IndonesiaIa mempunyai sejarah panjang sebelum tiba pada nama resmi seperti itu.Iamerupakan suatu negara yang terintegrasikan dari negara-negara kecil berdaulat di nusantara.Ia berhasil menyatukan jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam bingkai kesatua itu.Ia sukses mengantar tanah-air, jiwa-raga dalam satu ideologi bernama Pancasila.Ia menjunjung kehormatan dengan lambang negara Burung GarudaContinueContinue reading “Negeri Bagai Tanpa Humor”

Design a site like this with WordPress.com
Get started