Puisi pada 21 November 2019 Berkisah

Pagi ini telah kami lewati dengan candaan ringan ala kami di rumah. Sementara itu saya mencoba melirik monitor Android. Mendengarkan suara kitab suci, Roma 2 dan 3 dalam Bahasa Amarasi. Saya katakan mendengarkan karena sudah ada Alkitab Bersuara dalam seribuan bahasa, dimana Bahasa Amarasi salah satunya. Sesudah mendengarkan, saya sentuh layar Facebook. Ternyata Managemen Facebook mengingatkan saya pada beberapa hal yang terjadi setahun lampau, di antaranya 3 puisi yang kiranya saya kutipkan kembali dan tempatkan di sini.

Saya lirik pula cerita di titik waktu yang terlewati pada November 2019. Saat itu kami sedang mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Penguatan Kepala Sekolah. Beberapa catatan ada di dalam titik-titik waktu itu. Saya membaca sambil lalu saja, kemudian saya teringat pada rekan-rekan guru (kepala sekolah) yang mengikuti Diklat PKS itu. Keseriusan, kecemasan dan kegemasan ada pada kami.

Baiklah saya kutipkan puisi-puisi itu.

Puisi Pertama

Kisah Pagi ini

Keramahan dan kemurahan di pagi ini, keceriaan dan kecantikan menyambut fajar pagi,

ketulusan dan keikhlasan menyapa santun dan ramah,

indahnya hidup dalam ketenangan dan kedamaian.

Nikmatnya cinta berbalut kemesraan berdegub jantung.

Sendunya orkestra pengiring nyanyian dan kicauan burung ditingkah tiupan angin menerpa dahan dan ranting kecil berbunyi dalam sentuhan.

Siapakah yang dapat tahan rasa pada kemurnian yang natural?

Patutlah menghadap sang Khalik dengan membawa rasa.

Layakkah diriku menyapa Tuhan ketika nada yang kumainkan mengotori udara?

Haruskah aku menghadap kemuliaan-Nya ketika biramaku bertalu alu di kulit bunda penyedia rahim mengandung?

Oh… d o s a
Pada lingkungan alam yang menyapa pagi dalam keceriaan,
Ketika mentari hendak menari, justru sang tercipta sempurna menaruh noda padanya.

Kiranya bertobat celah kemenangan
Di sana alam hendak terus menyapa ramah.

Kupang, 21 November 2019

Puisi Kedua

Kota Berpagar Kesalehan

Siang telah tiba, kota sedang terbakar teriknya raja siang. Penghuni kota berkeluh-kesah sambil menunaikan tugas di ruang ber-AC, ditingkahi desingan dan deru mesin yang beroperasi.

Terdengar nada mendayu dan dentingan musik menghentak yang bersumber dari candi-candi megah para saleh. Di sana para saleh sedang mengunggah rasa keimanan pada sang Kuasa Pencipta dan Pemelihara. Kepada Dia segala madah dilantunkan dan dihunjukkan.

Di kota ini, penghuninya memagari dengan candi kesalehan. Sebahagian penghuninya nampak saleh di ruang-ruang refleksi yang berisik. Sementara lainnya menebar pesona keteledoran di area mutilasi bencana.

Anak-anak berteriak menadahkan tangan, berharap beningnya air segar masuk melalui saluran kehidupan mereka. Di sana para remaja menunjuk-nunjuk bidang kecemasan sambil bermain gadget. Teruna dan gadis-gadis kota memoles wajah bertakhtakan kemewahan ketika melenggak di permukaan gaya. Tetua dan pinisepuh hendak menggertakkan gigi ketika mereka tak berdaya mengangkat tangan.

Kesalehan sedang dan terus berada di panggung kehidupan.
Kesalehan sedang dan terus memunggungi makluk berTuhan

Saat itu kota makin terpuruk bukan karena kesalehan
Saat itu kota kotor dikotori para pengagum kesalehan.
Di sana mereka menenteng kitab suci, di bibir, mereka mengucapkan kealiman lalu di luar sana bertindak zalim pada alam.

Ketika alam menghentak rasa, di sana mereka berteriak pada Tuhan.

akh…

ha ha…

Sedang mengantuk ini….

Kupang, 21 November 2019

Puisi Ketiga

Cerita pada Malam

Malam.
Mari kuajak bercerita!
Siang telah berlalu, kau sebab-musababnya.
Kesibukan hendak berhenti, kau gegaranya.

Malam,
Tahukah kau jika hari siang terisi dengan kesibukan?
Di sana ada semangat bin senang
Tak pula boleh loyo binti layu

Malam
Tahukah kau jika jemariku bergoyang bagai penari likurai?
Di sana ada ketukan dan hentakan
Tak pula boleh mengantuk lagi menggoda

Malam,
Mari kuajak mendekat
Bungkuslah ragaku sekejap di sini
Dan biarkan rasa ini digerogoti ragi siang
Agar aku berkembang bila kehangatan berlalu.

By : Heronimus Bani

Halo
Selamat berdendang riang dengan tugas-tugas

Kupang, 21 November 2019 (20:15)

Selain tiga puisi yang saya tulis pada pagi, siang dan malam tanggal 21 November 2019 itu, masih ada pada hari sebelumnya, dan sesudahnya. Saya kutipkan kembali di sini.

Puisi berikut ini saya tulis pada tanggal 20 November 2019

Bumi tak bersahabat?

Bumi makin tak berniat bersahabat denganku,
Ia menguapkan gas panas yang membakar kulitku.
Aku menengadah dan menadahkan tangan.
Langit tak sudi melepas tambatan titik air
Hingga awanpun tak rela mendekat di sekelilingku.

P a n a s!
P a n a s!

Kuteriakkan pada siang hari.
Kugelombangkan pada malam hari.
Detik berganti hingga pada pembaruan hari.
Di sana umpat menghias bibir tertuju pada matahari.

Padahal… .

Kutelusuri masa berlalu.
Kutelisik sisik waktu yang terlewatkan.
Kutemukan gelembung dosa insan bernoda.
Mengeruk untung meninggalkan buntung
Pada bunda sang bumi bunting menggoda.

Kupang, 20 November 2019

Puisi berikut ini, saya tulis pada tanggal 22 November 2019. Inspirasinya datang dari seorang rekan peserta Diklat PKS yang sedang menunggu kelahiran anaknya di salah satu rumah sakit di Kota Kupang. Setelah kelahiran itu terjadi, ia kembali ke ruang Diklat. Ketika itu saya mengusulkan nama pada anaknya, Fajar. Mengapa? Karena waktu kelahiran tepat di fajar menyingsing pagi. Teman guru ini setuju, tapi, apakah nama itu dilekatkan untuk dimiliki anak tersebut hingga kekal? Saya tidak mengetahuinya.

Tersenyum di Tengah Himpitan

Kelelahan,
Kegundahan,
Kecemasan,
berbaur dalam satu mimpi
akan menjadi lebih baik di hari besok kelak.

Di tengah himpitan emosi yang melelahkan
Kabar baik menghampiri rekanku

Berlarian ia menyongsong cintanya
Memapah sang cinta menuju ruang pertolongan
Di sana menunggu tangan Tuhan
Di sana sigap hamba-hamba terlatih

Sang cinta meringis sakit
Sementara bundelan bernafas menendang terjang
Sang cinta mengerang-erang garang
Bundelan bernafas terus mencari pintu menuju dunia luas

Para penolong sigap beramai dalam alur protap
hingga menyambut buah cinta di pagi ini.
Rekanku tersenyum di tengah himpitan tugas..

Akh…

Selamat kawan
Biarlah buah cintamu membuatmu berbangga kini dan kelak
Dan cinta sejatimu terus tumbuh dan berkembang elok
Hingga butirannya jatuh bersemai semi pada buah hatimu.

Kepada teman yang sedang menunggu kelahiran baru, dan sedang meminta izin untuk terlambat.

wao

Kupang, 22 November 2019

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

6 thoughts on “Puisi pada 21 November 2019 Berkisah

    1. Itu acara tahun lalu pak Wijaya. Saya kutip kembali dari akun FB Tateut Pah Meto’ lalu tambah “bumbu penyedap” rasa sedikit, jadilah seperti itu. Terima kasih telah membaca dan berkomentar.

      Like

Comments are closed.

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: