Ia belum benar-benar tiba di kampung itu. Kakinya masih berdiri di batas yang samar: antara jalan setapak dan halaman-halaman kehidupan. Di depannya, tanah merah terbuka seperti pintu yang belum sepenuhnya dipersilakan untuk dilewati. Beberapa pohon lontar berdiri berjajar, kurus dan tinggi, seperti penjaga yang diam namun awas. Ia berhenti. Angin membawa suara. Bukan suara hewan.ContinueContinue reading “Kampung Tak Bernama”