Kampung Tak Bernama

Ia belum benar-benar tiba di kampung itu. Kakinya masih berdiri di batas yang samar: antara jalan setapak dan halaman-halaman kehidupan. Di depannya, tanah merah terbuka seperti pintu yang belum sepenuhnya dipersilakan untuk dilewati. Beberapa pohon lontar berdiri berjajar, kurus dan tinggi, seperti penjaga yang diam namun awas. Ia berhenti. Angin membawa suara. Bukan suara hewan.ContinueContinue reading “Kampung Tak Bernama”

Perjalanan tanpa Peta

sambungan kisah Arga Perjalanan Tanpa Peta Arga tidak tahu ke mana ia pergi. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak bisa tinggal. Ia berjalan menjauh dari kampungnya yang telah berubah menjadi tanah lumpur dan puing. Jalan tanah, jalan batu, jalan aspal—semuanya dilalui tanpa tujuan pasti. Terminal kecil. Pelabuhan. Pasar-pasar. Kota-kota yang tidak bernama baginya. Wajah-wajahContinueContinue reading “Perjalanan tanpa Peta”

Perjamuan di Bawah Atap yang Bocor

Pukul sepuluh pagi, dan aroma ayam bumbu penyedap rasa makanan sudah menjelajah seisi lingkungan SD Negeri Marjinal. Aroma itu menyusup melalui celah-celah jendela, melintas pula untuk tersimpan pada dinding yang retak, dan menghias bau apek dari plafon yang selalu merembes setiap kali hujan turun. Di depan kelas, Pak Damar sedang menjelaskan hukum kekekalan energi. KapurContinueContinue reading “Perjamuan di Bawah Atap yang Bocor”

Negeri Meja Panjang

Di sebuah negeri bernama Meja Panjang, raja memerintahkan setiap anak diberi roti dari dapur istana. Roti itu disebut Roti Kehidupan. Rakyat bersorak, karena kelaparan adalah luka lama yang diwariskan turun-temurun. Namun dapur istana terlalu besar, tungkunya terlalu banyak, juru masaknya terlalu jauh dari mata raja. Api menyala di mana-mana, tapi pengawasan tak pernah benar-benar sampai.ContinueContinue reading “Negeri Meja Panjang”

Design a site like this with WordPress.com
Get started