Ia belum benar-benar tiba di kampung itu. Kakinya masih berdiri di batas yang samar: antara jalan setapak dan halaman-halaman kehidupan. Di depannya, tanah merah terbuka seperti pintu yang belum sepenuhnya dipersilakan untuk dilewati. Beberapa pohon lontar berdiri berjajar, kurus dan tinggi, seperti penjaga yang diam namun awas. Ia berhenti. Angin membawa suara. Bukan suara hewan.ContinueContinue reading “Kampung Tak Bernama”
Monthly Archives: February 2026
Perjalanan tanpa Peta
sambungan kisah Arga Perjalanan Tanpa Peta Arga tidak tahu ke mana ia pergi. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak bisa tinggal. Ia berjalan menjauh dari kampungnya yang telah berubah menjadi tanah lumpur dan puing. Jalan tanah, jalan batu, jalan aspal—semuanya dilalui tanpa tujuan pasti. Terminal kecil. Pelabuhan. Pasar-pasar. Kota-kota yang tidak bernama baginya. Wajah-wajahContinueContinue reading “Perjalanan tanpa Peta”
Perjamuan di Bawah Atap yang Bocor
Pukul sepuluh pagi, dan aroma ayam bumbu penyedap rasa makanan sudah menjelajah seisi lingkungan SD Negeri Marjinal. Aroma itu menyusup melalui celah-celah jendela, melintas pula untuk tersimpan pada dinding yang retak, dan menghias bau apek dari plafon yang selalu merembes setiap kali hujan turun. Di depan kelas, Pak Damar sedang menjelaskan hukum kekekalan energi. KapurContinueContinue reading “Perjamuan di Bawah Atap yang Bocor”
Negeri Meja Panjang
Di sebuah negeri bernama Meja Panjang, raja memerintahkan setiap anak diberi roti dari dapur istana. Roti itu disebut Roti Kehidupan. Rakyat bersorak, karena kelaparan adalah luka lama yang diwariskan turun-temurun. Namun dapur istana terlalu besar, tungkunya terlalu banyak, juru masaknya terlalu jauh dari mata raja. Api menyala di mana-mana, tapi pengawasan tak pernah benar-benar sampai.ContinueContinue reading “Negeri Meja Panjang”
Sungai yang Marah
Sungai yang Marah Sungai itu dulu tidak pernah marah. Ia mengalir pelan, tenang, membawa daun-daun gugur, lumpur halus, dan cerita kecil dari hulu. Anak-anak mandi di sana setiap sore. Perempuan mencuci pakaian di bebatuan datar. Lelaki menurunkan jala dan bubu, berharap ikan kecil yang cukup untuk makan malam. Airnya bukan sekadar air, ia adalah nadiContinueContinue reading “Sungai yang Marah”