Ilustrasi: Chatgpt Di negeri ini, kata “pasrah” kerap dijual sebagai kebajikan. Ia dibungkus rapi dengan idiom religius—“ikhlas menerima takdir”, “bersyukur meski sederhana”, atau “percaya pada rencana yang lebih besar”. Namun, dalam realitas politik Indonesia, pasrah lebih sering tampil sebagai ruang kosong: sebuah panggung sunyi yang dibiarkan terbuka, tempat para elit memainkan lakon eksploitatifnya. Bayangkan sebuahContinueContinue reading “Pasrah sebagai Ruang Hampa untuk Elit”