Lelah

Lengang. Rasanya jangkrik pun telah tiba di liang istirahat. Tikus-tikus masih merayap hendak menemukan nutrisi malam. Kaum unggas antara lelap dan sadar berhubung sepoi-sepoi angin memainkan rerantingan dan dahan tempat bertengger. Aku belum mendengar suara makhluk malam. Baiklah itu tidak terjadi agar mitos tidak bergejolak di ritme kehidupan. Bila saja seekor burung hantu hendak memangsa, ia akan bersuara sebagai tandanya. Saat itu tikus-tikus berlarian menuju liangnya. Lalu lupa menutup pintu semu yang dibuatnya. Di sana sang terkutuk merayap dada telah menanti. Hap.

Jarum jam di dinding pondok ini menunjukkan pukul dua puluh. Terlihat beberapa pemuda menikmati sensasi kenikmatan kopi panas di emperan sambil bercerita tentang kehidupan bagai perjudian. Ya, bagi mereka ada hari yang memberi keberuntungan sebagai berkat, dan lebih banyak hari selalu sial dan apes.

Lelah. Ya, lelah dikejar-kejar kaum yang membagikan sukacita semalam karena adanya kedit. Kredit berbunga harian dengan setoran harian pula. Maka berjudi rasanya lebih tepat pada mereka yang bermimpi untuk segera melunasi kreditnya. Lelah. Bahkan para perempuan baya pun telah turut dalam perjudian itu.

Lelah. Para muda ini pun mengalihkan pokok percakapan pada guyuran hujan dan terpaan angin. Lalu mereka rindu untuk menikmati jalanan yang kering walau membutuhkan udara sejuk karena pepohonan tumbuh baik di bukit Sismeni yang ketinggiannya mencapai lebih dari 500 meter di atas permukaan laut.

Para muda ini berhenti dalam diskusi senja hingga malam. Diskusi ala kampung karena tidak perlu mendatangkan moderator berkelas. Mereka cukup sadar untuk saling mendengarkan ketika seorang mengutarakan opininya. Bantahan tidak diperlukan oleh mereka kecuali klarifikasi yang menyegarkan. Mereka akhirnya lelah pula dalam diskusi. Bubar. Bersama angin malam mereka akan berangkat ke peraduan. Di sana mereka akan merajut mimpi bahwa besok pagi mata mereka akan menyaksikan matahari terbit pada waktunya, dan mereka sendiri akan memulai tugas sebagai anggota keluarga yang turut menopang keberlangsungan hidup.

Koro’oto Pah Amarasi, 28 February 2022

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

Design a site like this with WordPress.com
Get started