Di Tangga Emosi

Sepasang unggas berkejaran tanpa peduli ancaman kecelakaan. Pejantan tangguh merebut canda kebahagiaan ketika Sang betina merundukkan rasa rindu. Canda keduanya berhenti sejenak. Kebahagiaan dibawa pada etalase semesta. Bayu mencium pasangan kekasih itu dan meneruskan lajunya. Ia tiada Sudi melirik walau sebentar saja. Sementara semak sekitar menari dipermainkan Sang Bayu. Dedaunan beterbangan menuju area tak terkira.ContinueContinue reading “Di Tangga Emosi”

Girang Merana

Suara itu sementara bersabda. “Dengarlah hai umat-Ku. Jadilah umat yang membawa sukacita dan kegirangan pada dunia!” Sabda itu diperdengarkan amat merdu ditingkahi redupnya rasa ketika dibungkus selaput kecemasan. Hujan diselingi angin. Angin menggelora bagai sedang menunjukkan emosi jiwanya. Pepohonan semak hingga rerumputan patuh pada perintahnya. Mereka meliuk-liukkan tubuh. Ada di antaranya yang merasa perlu berjungkirContinueContinue reading “Girang Merana”

Pagi yang Murung

Fajar pagi telah menghalau gulita malam. Ia tidak peduli pada pelukan eratnya. Gulita malam pun beranjak sambil meninggalkan selaput kedinginan. Bayu menggoda ari. Buku kuduk berdiri tak terhitung jumlahnya. Pori merapatkan bibir menghindari kecemasan. Fajar tersenyum di ufuk. Makin lebar senyumnya walau terhalang Mega bertimpukan dimana bayu pun hanya mampu menyapa tanpa menyapu. Semuanya berlangsungContinueContinue reading “Pagi yang Murung”

Design a site like this with WordPress.com
Get started