Pengantar
Kira-kira menurut pembaca, sejak kapan orang mulai berpolemik? Titik berangkat sejarah berpolemik itu terjadinya kapan, dan dimana? Mungkin ada yang dapat menjelaskannya. Saya mencoba mencari-cari mungkin ada yang disebut sejarah polemik, tapi belum menemukannya. Lalu saya mulai menyadari bahwa polemik terjadi ketika bahasa manusia saling berbeda, mereka sudah tidak lagi satu kata dan akta, satu sikap dan karakter, maka di sana ada polemik. Sebagai pembaca pasif kitab suci, saya ingat Kejadian pasal 11 dimana akhir dari pembangunan Menara dan kota besar Babel menyebabkan manusia berpencar atas alasan mereka tidak lagi satu bahasa adanya. Mereka sudah tidak lagi saling memahami bahasa itulah yang menjadikan mereka saling “bertengkar” atau mungkin lebih tepatnya berpolemik ala manusia purba zaman itu yang kira-kira dipimpin oleh seorang pemimpin handal, Nimrod. Walau demikian, itu pendapat individu saya. Entah nanti pembaca berpandangan berbeda atas “rumusan” saya di atas, tokh itu akan menjadi satu topik untuk berpolemik. Lalu, sebenarnya polemik itu sendiri apa? Saya kira tanpa penjelasan apapun pembaca sudah mengetahuinya secara tepat.
Kata polemik diambil dari bahasa Yunani polemikos (πολεμικως) yang artinya adalah “mirip perang”, namun perang yang dimaksudkan di sini tidak menggunakan senjata yang mematikan. Justru senjata dengan amunisi terampuhnya adalah olah pikir. Olah pikir menggerakkan indra yang dengannya terjadi “saling serang” dan “bertahan”.
Beberapa waktu ini terjadi polemik yang hebat di kalangan kaum agamawan. Mereka para pengajar dogma agama (dalam sebutan menurut agama masing-masing), sedang berpolemik secara luar biasa. Masing-masing teguh, kukuh pada pandangan yang disandarkan pada pandangan-pandangan terdahulu. Pandangan-pandangan terdahulu itu sendiri sudah teruji zaman sehingga dijadikanlah sandaran kokoh yang tak dapat digoyahkan sama sekali oleh siapapun dengan tingkat kecerdasan pada level manapun. Itulah sebabnya, mereka tidak puas berpolemik melalui media (sosial, mainstrim, audio, audi0-visual, teks, dan ujar), mereka bahkan sangat besar dorongan untuk saling bertemu. Sungguh suatu sikap yang dapat saja mendapat pujian atau mungkin sebaliknya, bergantung dari sisi mana orang memandangnya.
Polemik itu sendiri terjadi atas satu topik tertentu. Dapat saja berwujud kata, frase, kalimat, hingga satu bagian tulisan artikel dan vidio baik yang utuh maupun yang telah mengalami perubahan karena faktor editing. Semua itu telah dan akan terus terjadi di zaman ini yang makin mudah mengakses informasi.
Apakah orang lantas tidak boleh berpolemik? Tentu saja boleh! Apakah orang diwajibkan berpolemik? Relatif. Polemik bukanlah suatu keharusan, tapi suatu keniscayaan. Maka, polemik tidak mestinya terjadi setiap saat, tetapi pada suatu pokok tertentu yang menjadi titik “perpecahan” agar orang-orang yang berpolemik akhirnya tiba di titik temu, yang menyebabkan mereka saling berpelukan sebagai satu kesatuan
Polemik Dogma Intern Kaum Kristen
Ziarah panjang ajaran kasih telah dimulai bahkan sejak sebelum Yesus lahir. (sekali lagi saya mesti mengatakan, saya pembaca pasif kitab suci). Siapakah Mesias yang akan lahir dan sudah dinubuatkan, menjadi polemik para nabi dan rabi kaum Yahudi. Hingga akhirnya Ia lahir secara amat sangat berbeda dari kelahiran manusia umumnya, itupun diperdebatkan. Kisah kelahiran Yesus yang ditulis dalam kitab-kitab Injil terasa tidak cukup kuat untuk meyakinkan para pendebat, sehingga lahir tulisan-tulisan yang saling berbeda antara satu periset dan penulis dengan periset dan penulis lainnya.
Yesus sendiri, ketika hadir sebagai seorang pemuda yang diterima sebagai Rabi/Guru, Ia pun diperhadapkan dengan fakta “berdebat” atau berpolemik di depan para rabi dan orang-orang terpelajar di Bait Suci Yerusalem pada umur 12 tahun. Perdebatan yang kiranya mungkin menjadi cikal-bakal (pemanasan) dengan para pihak di dalam kaum Yahudi (mis.Zaduki, Farisi) sendiri. Ketika pandangan mereka saling berbeda, mereka tidak tinggal diam sebagai tanda “menyerah”. Mereka justru terus berusaha menemukan celah-celah baru sebagai alasan untuk mendebat Yesus ketika Ia sedang dalam proses pengajaran-Nya. Ia diintai di perjalanan, di Sinagoge, di Bait Suci Yerusalem, bahkan di tempat-tempat dimana Ia berdoa pun rasanya tidak jauh dari intaian.
Yesus sering menghindari polemik agar situasi menjadi aman dan kondusif. Tengoklah ketika Ia berada di tengah-tengah pengadilan Mahkamah Agama. Pernyataan yang dibuat-Nya sebagai jawaban, sesungguhnya mengulangi apa yang ditanyakan pada-Nya. Tetapi, jawaban itu dianggap sebagai hojatan pada Allah Yahwe. Itulah alasan paling kuat untuk mengeksekusi mati Yesus ketika mereka sudah berada di buku bambu, begitu kata orang Kupang. Tidak ada jalan lain kecuali menyerang secara membabibuta yang menyebabkan ketidaknyamanan pada pihak lain, lalu pihak yang menyerang merasa telah menang. Padahal, diam-diam mereka terus berusaha untuk menutupi kelemahan mereka dengan membangun wacana dan narasi baru yang disebarluaskan baik secara mulugram maupun teksgram. Mari mengingat kisah kebangkitan Yesus yang diplesetkan sebagai suatu kebohongan ketika para prajurit (yang bukan Yahudi) melaporkan peristiwa yang terjadi di kubur Yesus pada dinihari Minggu. Mereka, para prajurit justru disogok untuk menyebarkan berita bohong, hoax yang menjadikan polemik berkepanjangan tentang kebangkitan Yesus.
Polemik tidak berhenti setelah hoax tentang kebangkitan Yesus disebarluaskan. Kaum Yahudi tentu lebih percaya pada berita yang disebarkan dari sumber yang dianggap terpercaya, apatalah lagi bila sumber berita itu dari kalangan sendiri, yaitu para pemimpin mereka sendiri. Semakin akurat saja berita itu yang tidak dapat lagi dibantah. Mereka justru percaya pada berita itu dan bertahan ketika ada pandangan/pendapat yang berbeda dengan mereka.
Sejarah dan ziarah pemikiran-pemikiran Kristen telah ditulis oleh Alister E. McGrath (1998) dan Linwood Urban (1995) dan penulis lainnya. Semua tulisan itu berangkat dari perbedaan pandangan (polemik) pada satu atau beberapa topik/teman dalam rentang waktu yang lama sebelum orang mengambil kesimpulan untuk menerima atau menolak. Mereka yang menerima beriringan dalam ziarah kehidupan beragama mereka, sedangkan mereka yang menolak membentuk komunitas baru dengan ajaran yang mirip atau bahkan berbeda.
Tengoklah pula semisal penempatan kitab dalam Alkitab kaum Kristen. Para teolog Kristen, Katolik dan Kristen Ortodox akhirnya berbeda dalam jumlah kitab yang menjadi bagian-bagian dari satu Alkitab. Hal ini tentu bukan serta-merta terjadi. Mereka telah memperdebatkannya berabad lamanya sebelum akhirnya menempatkannya sebagai bagian dari kitab suci umat Kristen. Adanya kitab Tobit, Yudit, Yesus bin Sirakh, Barukh, 1,2 Makabe (Browning,1996). Kitab-kitab ini tidak terdapat pada alkitab yang diterima Kaum Kristen Reformasi. Bukankah ini suatu perdebatan (polemik) yang secara internal gereja am/katolik? Jika yang secara intern saja sudah terjadi perdebatan panjang bahkan berabad, maka hal yang sama terjadi secara eksternal dengan pihak lain. Itulah, mengapa ada semacam upaya “menyerang” dari pihak lain yang hendak membangun opini dan mengajak polemik di muka umum (media massa dalam seluruh variannya)?
Polemik antar para pemuka agama di Indonesia
Ketika orang menganut agama semawi atau agama Abrahamic: Yahudi, Kristen, dan Islam yang monoteis dan yang menyebut Sang Sumber Tertinggi itu menurut bahasa manusia, apapun bahasanya dari para penganut agama Abrahamic itu sendiri, pada saat itu terjadi pengakuan-pengakuan dan penyangkalan-penyakalan. Pengakuan akan adanya Tuhan itu sama, namun tak sebangun ketika mendeskripsikannya yang menjadikan para pemikirnya saling berpolemik.
Dalam dogma agama-agama Abrahamic (mungkin saja) tidak mengindoktrin penganutnya untuk menjadi attacker(s) di satu pihak dan pihak lainnya menjadi blocker(s). Tidak! Aspek moral dan etika yang bernilai tinggi sangat diprioritaskan pada dogma agama-agama Abrahamic, tidak terkecuali pula pada agama-agama non agama Abrahamic. Para penganut agama suku atau agama asli yang animis pun menganut aspek moral dan etika dalam tutur bermakna, sikap terpuji, akta bernilai dan tindakan berwujud karya mengagumkan. Esensi dogma agama manapun adalah kedamaian, kebahagiaan bagi segenap pemeluknya hingga seluruh alam raya.
Tapi, siapakah manusia yang berdiam diri ketika melihat, mendengar dan merasakan sesuatu yang terasa baginya untuk segera diresponi. Sikap merespon sesuatu objek (tema pembahasan) menjadikannya sebagai titik berangkat polemik. Maka tidak mengherankan bila ajaran agama yang sudah menjadi hukum tertinggi (dogma) pun masih dipolemikkan, sebagaimana yang terjadi pada hari-hari ini ketika NKRI sedang merayakan hari proklamasi. Dengung dan gaung euforia pesta kemerdekaan terasa tidak lebih daripada gaung dan aroma panas yang dibawa udara informasi di media sosial hingga akhirnya media televisipun turut menjadi pemberitanya. Organisasi keagamaan di Indonesia baik Islam maupun Kristen melalui para tokohnya telah mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kiranya dapat meneduhkan suasana hati para penganutnya. Apakah semua itu berakhir?
Tidak! Polemik terus terjadi, bahkan agak lebih “menggila” dengan tantangan-tantangan terbuka yang sifatnya provokatif. Media sosial telah menjadi sarana yang menyuburkan polemik pada tema yang kini menjadi fokus para calon pendebat. Sudah ada pihak yang hendak memfasilitas mereka agar menurunkan tensi polemik di media sosial, dan membawanya dalam ruang debat terbuka namun terbatas dalam ruang tertutup. Istilah keren pada zaman ini, kopdar (kopi darat). Dengan kopi darat semua persentuhan melalui media sosial, menjadi nyata di depan mata. Pertemuan yang nyata di depan mata akan memberi nuansa berbeda ketika memainkan “emosi” di layar monitor produk teknologi informasi komunikasi.
Polemik! Akankah kau berakhir? Tidak! Tema apapun: politik, sosial, budaya, agama, hankam, bahkan idiologi negara pun dipolemikkan seakan bagai tampi di tangan penampi untuk membuang yang tidak berguna di dalamnya, mengambil yang paling berguna dan bermanfaat bagi banyak orang.
Polemik. Bersantunlah. Tempatkan dan junjung Moral dan Etika dalam kata dan akta.
Koro’oto, 7 September 2019
Heronimus Bani
Tidak seberapa bagusnya pandangan seorang guru di kampung. Terima kasih.