Ribet Dikebut Senin

Senin, hari terakhir ayah bersuara dalam nada serak berat. Ada keluh-kesah, gelisah dan cemas di wajahnya. Ia tak rela merepotkan anak dan cucu. Sekira jam 06.30 pagi, kudengar ayah berbicara dalam nada menyesal, ia telah merepotkan tiga anak yang menjagainya malam itu. Mereka harus mengurus “buangan” ayah di pagi itu. Suara serak ayah sungguh menyayatContinueContinue reading “Ribet Dikebut Senin”

Design a site like this with WordPress.com
Get started