Angin pagi menyibak mega. Suasana pagi di desa masih seperti kemarin. Pepohonan berdaun hijau ditimpa cahaya mentari pagi keemasan. Kemilau indah manakala menubruk berkas-berkas embun di rerumputan. Aku masih berdiam durja. Gerangan apa yang hendak dapat kuperbuat saat ini? Lambat…! Aku terlambat bangun. Pagi telah lebih dahulu tiba di titik awalnya.Ia mengerlingkan mata sambil menyunggingContinueContinue reading “pagi yang lambat”