Sadisnya Sedih

Malam makin larut, kampungku makin sepi. Jalan beraspal lape tak lagi disentuh tapak-tapak bertelanjang kaki atau beralas sekadarnya saja. Semuanya telah tiba di pelukan malam dan mungkin sudah mendengkur, tersenyum hingga tertawa dalam tidur telentang, atau malah berbicara tak karuan yang tak disadarinya. Akh… imajinasi semu belaka. Aku masih duduk di sini di berhadapan denganContinueContinue reading “Sadisnya Sedih”

Menyapa Senja

Aku baru saja menyaksikan semut-semut berbaris menuju liang yang disiapkan demi kenyamanan mereka. Sementara kudengar kicau burung memberi salam pada Sang Surya yang akan segera pergi. Lalu beberapa jenis dedaunan melipat diri pertanda mereka akan merajut mimpi di malam ini. Anak-anak masih bergurau ketika menyaksikan bulan setengah muncul di ufuk baratπŸŒ™. Lampu-lampu listrik dinyalakan sementaraContinueContinue reading “Menyapa Senja”

Entah Apa Itu

Entah sulit atau mudah, entah rumit, ribet atau sederhana, entah bingung atau tegang, entah cemas atau gemas, entah berpikir atau berzikir, entah takut atau kalut, entah bangga atau bimbang, entah berani atau berahi, entah sudah dipalu atau akan dipaku, entah dan terus entah … . Kertas-kertas bertulisan dibacakan. Kritik-kritik berurutan diujarkan. Hoax berbulus dihujatkan. RuangContinueContinue reading “Entah Apa Itu”

Tiki-Taka

Kemarin dan kemarinnya lagi, kaum elit nan intelek ramai sibuk mengolah kata bagai satu tim kesebelasan menata Tiki-Taka menjebol gawang lawan. Titik-titik Tiki-Taka ramai di bibir dan langit-langit kebanggaan dan kemunafikan. Antara nilai keilmuan saitist dan kode etik berpengharapan, entah dimana letak kesetimbangan. Antara disertasi dan disemai aplikasi bernas, manakah yang lebih berpahala. Antara manfaatContinueContinue reading “Tiki-Taka”

Rinai Pemulihan

Kata-kata saja tidak cukup untuk pemulihan manakala air mata menggenang, mengalir hingga kering. Untaian ujar bertuah pun bagai polesan bibir belaka manakala suara di tenggorokan sudah serak terhalang. Akta Ilahi menyejukkan hati dan memulihkan rasa duka berpedih terselip di antara kata dan ujar bernas dari bibir-bibir kerabat dan sahabat. Kata bermakhota penenang gejolak yang dilantunkanContinueContinue reading “Rinai Pemulihan”

Hening Dinihari

Gubuk kecil di lereng bukit itu hening. Wajah-wajah layu hendak menitikkan air mata akhirnya meledak pula suara dari bibir-bibir bergetar memecah hening dinihari. Sang ibu pergi untuk selama-lamanya. Anak-anak mengitari jasadnya, ditangisi dan diratapi. Kapankah akan bersua dengannya lagi? Dalam hal daur hidup, kematian itu suatu kepastian, kelahiran itu suatu keniscayaan. Kehidupan dengan segala trik-intrik,ContinueContinue reading “Hening Dinihari”

Canda Kembang Pagi

Aku baru saja melirik pada setangkai bunga pagi ini. Rona wajahnya ceria berwarna jingga dibaur merah keputihan. Dedaunannya bergoyang melenggak-lenggok bagai penari teunraen Pah Amarasi. Kususuri sekelilingnya, ia tegar berdiri pada batangnya yang berisi cairan belaka. Mengagumi keindahan pagi ini, Sang Bunga pun bercanda, “Hai insan ber-Tuhan, bersyukurlah atas anugerah keindahanku, walau kusadari kau lebihContinueContinue reading “Canda Kembang Pagi”

Jalan Beraspal ini

Kususuri jalan beraspal kasar di depan rumahku. Kerikil masih saling berpelukan akibat direkateratkan kerasnya perekat panas. Mereka sudah saling menyatu dalam satuan waktu tiga menjelang empat tahun ini. Bebatuan karang yang menjadi alas mereka di bawahnya tak terlihat. Lumpur telah digeser ke tepian menyisakan semak dan rerumputan bila tidak dijamah tangan berakhlak mulia untuk menyingkirkanContinueContinue reading “Jalan Beraspal ini”

Kupu, Ayam dan Jangkrik

Sumber Gambar: Istimewa dari Ruang Publik Tiada kupu-kupu yang menyaringkan suaranya manakala ia berhasil keluar dari bungkusan kepompong yang kasar jasadnya, namun keindahan dirinya dikagumi manakala ia terbang meliuk di bebungaan. Seekor ayam betina bertelur sebutir di sarangnya lalu mengepakkan sayapnya, terbang turun ke sekeliling sambil menggemakan suaranya. Saat itu pejantan tangguh pun ikut terperangahContinueContinue reading “Kupu, Ayam dan Jangkrik”

Berbeda dari Kebiasaan Menulis

Aku terbangun dari percintaanku. Kusaksikan petani anggur bercinta dengan tanaman anggur pujaannya. Kudekati agar kiranya dapat kurengkuhi nikmatnya buah anggur segar di tangkainya bagai merengkuh dan merebut cinta kekasih. Buah anggur  baru disebutkan sebagai buah anggur manakala rambatan gairah hidup melalui batang coklatnya dan hijau dedaunannya. Pada pohon anggur itu ditetesi secara perlahan cairan pelembabContinueContinue reading “Berbeda dari Kebiasaan Menulis”

Design a site like this with WordPress.com
Get started