Retret: Pejabat Pemprov NTT Menista Kemiskinan

Masyarakat pedesaan di bibir jalan lux di atasnya mobil mewah; Ilustrator: Meta AI Ketika satu unit kapal besar bernama Nusa Tenggara Timur hendak berlayar, nakhoda dan para perwiranya memilih singgah sejenak di dermaga nyaman, membakar 1,6 miliar lilin untuk beristirahat. Di sisi lain, buritan kapal masih bocor, layar terkoyak, dan awak kapal di geladak berjuangContinueContinue reading “Retret: Pejabat Pemprov NTT Menista Kemiskinan”

Musibah dan Kepedulian

Catatan ini ditulis sesaat seorang rekan guru mengirim foto sebagaimana yang ditempatkan di sini. Kiriman foto itu disertai keterangan bahwa ada dua orang siswa yang terdampak musibah kebakaran. Guru dan siswa menggalang dana sedapat-dapatnya, lalu mereka mendatangi dua siswa itu dan orang tuanya untuk menyerahkan santunan. Di bawah langit biru yang menyimpan duka, Desa ManusakContinueContinue reading “Musibah dan Kepedulian”

Perpisahan dan Penyambutan

Foto: Panitia Pisah-Sambut Dua orang pelayan GMIT di Klasis Amarasi Timur bertemu di Jemaat Rehobot Neke desa Apren Kecamatan Amarasi. Pelayan (pendeta) pertama akan bertugas ke jemaat berikutnya, sementara pendeta kedua akan memasuki area pelayanan di Rehobot Neke ini. Keduanya dipertemukan dalam satu ibadah yang disebut Pengutusan dan Perhadapan Pelayan GMIT dalam Klasis Amarasi TimurContinueContinue reading “Perpisahan dan Penyambutan”

Senja di Tanjung Kupang

Foto: Ansel Bani Lelaki itu berdiri di tepian tanjung, memandang jauh ke arah perbukitan yang menjura bagai tangan raksasa. Ia membelakangi tanjung sebagai muara dari aliran sungai yang dikenal dengan sebutan Talmanu’ (Tarmanu/Termanu). Pesisir yang mengarah ke arah Barat dari Amfoang Barat Laut, Amfoang Barat Daya, Fatule’u Barat dan Sulamu, Semua tempat yang disebutkan ituContinueContinue reading “Senja di Tanjung Kupang”

Pasrah sebagai Ruang Hampa untuk Elit

Ilustrasi: Chatgpt Di negeri ini, kata “pasrah” kerap dijual sebagai kebajikan. Ia dibungkus rapi dengan idiom religius—“ikhlas menerima takdir”, “bersyukur meski sederhana”, atau “percaya pada rencana yang lebih besar”. Namun, dalam realitas politik Indonesia, pasrah lebih sering tampil sebagai ruang kosong: sebuah panggung sunyi yang dibiarkan terbuka, tempat para elit memainkan lakon eksploitatifnya. Bayangkan sebuahContinueContinue reading “Pasrah sebagai Ruang Hampa untuk Elit”

Design a site like this with WordPress.com
Get started