Senja menyapa saat angin senja menerpa ari. Kaum muda di desa kembali dari pertaruhan tugas di ladang dan kandang. Hal yang sama pada kaum paruh baya laki-laki karena merekalah yang menjadi patron pada kaum mudanya. Kaum perempuan baik yang uzur, baya dan pemudinya mirip dalam ritme fungsi sebagai bagian dari kehidupan keluarga dan komunitas di pedesaan. Ladang dan kandang pada kaum lelaki. Gerbang tampilan dan irama dapur milik kaum perempuan. Tidak sedikit pula keduanya berkolaborasi pada zaman ini. Sementara mereka yang tergolong pelajar merindukan berada dalam arus zaman digitalisasi.
Ketika malam mulai merayap turun, lampu listrik memancarkan cahayanya, kiranya bukan sekadar demonstratif. Sangat sering padam berjam nyaris setiap harinya. Listrik bukan lagi kemewahan di desa-desa gaya baru dalam masyarakat Pah Amarasi, namun kecemasan sangat sering mengganggu. Semoga Normal lagi sesudah diterpa angin dan derasnya hujan dalam minggu terakhir Februari 2022 ini.
Terdengar ciap-ciap beberapa ekor anak ayam yang dipandu induknya menuju ruang istirahat di rumah tetangga. Suara itu ditingkahi bebunyian pekerja kayu yang menghasilkan mebel bernilai.
Ketika layar televisi menyiarkan berbagai berita, di sana ada rasa trenyuh, banjir meluap menggenangi perkampungan dan membawa material yang mengancam nyawa. Mungkinkah alam sedang murka? Sejumlah kabar menggemaskan disiarkan atas hasil kerja jurnalistik pada media audio-visual ini.
Aku menikmati kopi senja dengan ditemani pisang goreng. Catatan Senja ini aku tutup sampai di sini.
Koro’oto Pah Amarasi, 1 Maret 2022