Dua Nada Minor

Seorang bapak mengidap penyakit ginjal sehingga paramedis memutuskan untuk melakukan terapi cuci darah. Cuci darah membantu menggantikan fungsi ginjal agar tubuh tetap memiliki keseimbangan fungsi. Itulah sebabnya bapak yang satu ini selalu harus ke rumah sakit untuk melakukan terapi itu. Ia selalu didampingi isteri dan anggota keluarga yang bergantian membantunya. Empat bulan berselang proses itu terus dilakukan, sampai pada titik waktu dimana sang bapak sebagai pasien kembali ke rumah sakit. Ketika tiba di sana, ia diperiksa dengan pendekatan yang kini sedang naik daun di tengah pandemi. Rapid test antigen dan PCR. Hasilnya bapak ini dinyatakan positif terinfeksi virus korona. Ia dirawat, dan besoknya dinyatakan meninggal dunia.

Keluarga meminta pihak rumah sakit agar jenazahnya tidak dikuburkan di TPU yang ada di sekitar kota Kupang. Pihak rumah sakit menyampaikan kepada Satgas covid-19. Setelah melalui perundingan disepakati agar jenazah dikuburkan di kampung halaman keluarga ini, dengan catatan tetap mematuhi protokol dan prosedur penguburan jenazah terpapar virus korona. Keluarga menyetujui dan menyanggupi untuk menyediakan kuburan.

Akhirnya jenazah tiba di kampung halaman, namun tidak dibawa ke rumah. Jenazah dikawal secara ketat oleh petugas dari Satgas Covid-19. Pemuka agama Kristen yang dihadirkan untuk melakukan upacara ini. Setelah doa lubang kubur ditutup sebagaimana biasanya dilakukan oleh masyarakat di desa ini.

Saya terinspirasi untuk menulis satu puisi. Isinya seperti ini.

Matahari Duka Telah Terbenam


Ketika matahari menuju ufuk di senja ini,
warna kuning keemasan dipancarkannya
pertanda ia meninggalkan kesan terindah pada satu satuan hari
Lalu, ia segera berada di seberang sana bagai ditelan belahan bumi
Gelap membungkus mayapada dan keheningan segera merayapi raga
Di sana mentari bagai sendirian melakoni gayanya.
Keteduhan dan keheningan malam menghentikan langkah
Letih badan dihadapkan kepada Sang Khalik
.

Ketika kabut kelam kematian menyelimuti
Hati galau dan cemas
Perih dan sedih
Tangis saja tak cukup
Ratap pun tak mengantar rasa itu berakhir
Maka…Keikhlasan melepas kepergian kekasih
Akan menjadi butiran obat penenang hati dan jiwa
Lantas yang pergi akan menikmati ketenangan
dalam langkah jalan menuju nirwana abadi
Di sana Sang Khalik menyapa ramah
Seraya memeluk bagai Ayah pada anak yang dikasihi-Nya.

By; Heronimus Bani
Koro’oto, 30 Juli 2021

Tersebutlah seorang ibu menyerahkan sebahagian harta kekayaan kepada pemerintah untuk membantu penanganan pandemi covid-19. Ia menyerahkan harta itu secara non tunai atas nama ayahandanya yang sudah meninggal dunia 12 tahun lampau. Masyarakat yang mengetahui kabar ini tersentak. Masyarakat pun memberi apresiasi walau mungkin ada di antaranya yang tidak percaya.

Kabar-kabar berlanjut di dunia medsos. Di sana pujian dan buli berlangsung. Lalu pada titik waktu berikutnya terjadi hal yang mencengangkan. Ternyata tindakan itu bagai langkah lelucon belaka (prank). Itulah sebabnya saya mencoba menulis puisi ini, dan berharap masalah ini akan segera selesai untuk tidak menimbulkan berbagai asumsi yang saling bertolak belakang tanpa solusi di tengah kerja keras pemerintah dalam rangka penanganan virus korona dengan varian-variannya yang mematikan.

Celah Aib pada Harkat Kemanusiaan

Suatu masa telah terjadi
Seseorang menyatakan cintanya pada negerinya
Cinta yang teramat tulus
Cinta yang dibarengi bukti
Cinta yang dinyatakan sebagai bakti
Cinta yang disodorkan dalam kemasan apikT
Tepuk tangan sorak-sorai menggema di se-antero negeri
Kaum pesolek daya dan gaya tak dapat menahan rasa hati
Genderang pujian ditabuh hingga menghentak sikap anak negeri
.

……….
……….

Kini kabar baru terdengar
Deteksi daya dan gaya menelisik hingga relung kemunafikan
Ditemukanlah prank kebohongan
Komunitas terhormat dikibuli
Komunitas tersudut dan terjepit situasi pandemi covid-19 dikaburkan harapannya

………
……..

Kini
Komunitas penata pesona aksara
Merayap membuka halaman-halaman kamus
Hendak menemukan kata bernas yang lain
Di sana akan ada pembenahan dan pembenaran
Walau tak kurang jua pembelajaran
Agar tak mudah jatuh pada cinta bergincu.
Berhubung cela aib telah menodai harkat kemanusiaan.

Koro’oto, 3 Agustus 2021

Demikianlah dua nada minor yang saya pikirkan. Keduanya bagai lagu yang dinyanyikan dengan nada yang hanya dimainkan oleh mereka yang mampu melakukannya. Rasanya nikmat pada artisnya; sementara pendengarnya memberi apresiasi secara beragam.

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

2 thoughts on “Dua Nada Minor

Comments are closed.

Design a site like this with WordPress.com
Get started