Management FB Mengingatkan

Sesungguhnya saya sudah lupa pada puisi yang saya tulis dua tahun lampau ketika kami berada di Chiang Mai, Thailand. Saat itu kami mengikuti suatu workshop dalam rangka menyiapkan materi ajar pada anak-anak PAUD dan TK berbasis budaya dan bahasa daerah. Workshop ini diadakan oleh Universitas Payap. Kami pergi sebagai utusan dari Unit Bahasa dan Budaya GMIT.

Berikut ini puisi yang saya tulis dua tahun lampau itu.

Pagiku Retak

Tuhan…
Aku menyapa kemuliaan-Mu
Aku menghatur di hadirat-Mu
Aku bersujud melipat lutut di depan-Mu
Tak kuasa aku menengadah pada-Mu.
Aku berterima kasih,
Lagi aku bersyukur atas kasih
Dengannya kami saling memberi kasih
Hingga kami berlimpah kasih
Bila tak mau berbagi kasih
Mungkin pula miskinkah kasih?

Tuhan…
Aku teringat raga yang Kau bangun
Sungguh satu kompleksitas terkagum
Tampilan indah Kau rekatkan
Hingga kami saling memuji
Ketika memandang raga berpolesan
Dan menempatkan rasa berpelukan
Tapi pula.saling mengejek
Ketika memandang ras berwarna
Yang melintas dalam rupa, rupa-rupa.

Tuhan….
Aku ingat isi dari bangunan sempurna maha karya-Mu
Ada organ terbungkus dalam paket tubuh berjuta sel temali pengikat
Ada tulang kekar penegak bangun
Ada pula yang lemah pelentur lincah
Pada mereka kau alirkan darah pelumas

Tuhan…
Kau sediakan pori tak kasat mata
Lalu lobang terlihat pandang mata
Di sana ada yang melintas masuk secara sadar
Ada pula yang keluar tanpa disadari
Lagi ada yang keluar bila waktunya tiba.

Tuhan…
Berjuta kata tak cukup untuk maha karya-Mu
Satu lagi menggangguku dalam tanya:
Mengapa Kau ciptakan hati?
Sesungguhnya apa yang hendak Kau tempatkan di sana?
Kuketahui organ tempat Kau menaruh angin-Mu yang menggerakkan bangun.
Tapi masih ada satu yang Kau taruh di sana.
Ada sebutan padanya, hati
Lalu makhluk berakhlak berkata, hati-hati!
Setiap saat aku dengarkan, hati-hati!
Oh…
Bila aku sakit hati…
Katanya aku sedang disakiti orang.
Lalu organ itu tersakiti?
Bila aku memberi rasa hati,
Katanya aku sedang jatuh cinta…??
Lalu organ itu jatuh?

Tuhan…
Bilakah aku menikmati kesetimbangan di hati?
Hatiku tersimpan rasa
Rasa retak
Retak. …

Entah aku harus melukis rasa
Atau aku mesti menulis sara
Bila aku tak dapat menggores suasana sore
Izinkan aku menarik garis baru hari esok

Aku mendekat pada-Mu
Pulihkanlah,
ya Tuanku, Tuhanku dan Allahku.

Akh…

Chiang Mai, 26 Juli 2019

Selanjutnya, hari ini saya mencoba menggambarkan suasana yang saya alami dengan bait puisi ini. Ketika bermain voli ala kampung di depan rumah bersama anak-anak, saya pun boleh dapat inspirasi untuk menulis puisi ini.

Petang Bergirang

Seharian girang tanpa warna pirang.
Ketika garang sang surya menyapa.
Makhluk mulia insan ber-Tuhan.
Berkarya dalam kata dan akta prasasti meniti prestise.
Manakala pintu harapan berharga kemuliaan dan kehormatan.
Lalu benak menata ide cemerlang nan kreatif,
dan tangan trampil nan cekatan berayun-ayun bagai penari.
Sementara kaki bergerak memindahkan raga seutuhnya.
Sang Khalik dipuja dalam sujud syukur.

Kaum berkarya di lini profesi.
Menanam ritme profesionalisme
Menyiangi dan menyiasati rima bergairah mendulang berkah
Memetik bunga dan buah sukses hingga menebar senyuman kebahagiaan.
Di antara mereka ada bagai tanpa noda dosa di meja biro.
Memasuki ruang karya dengan gaya pongah.
Senyuman ditebar beraroma jelus.
Bagai kaum peretas teka-teki jenius.
Mereka puas setelah dibabat bingkisan peneduh.
Sang peneduh pulang membawa galau yang menyelimuti hati.

Anak kampung bergirang petang hari
Mengantar irama berdinamika suka
Sehat jasmani di sela pandemi
Walau zona berwarna-warni
Mereka tetap menari di altar alam kampung.

Koro’oto, 26 Juli 2021

Demikian deskripsi nuansa suasana hari ini sepulangnya saya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang.

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

8 thoughts on “Management FB Mengingatkan

Comments are closed.

Design a site like this with WordPress.com
Get started