Hari baru terbit ketika 1965 kau memulainya, manakala bintang kau gantung di langit membiruDi sana ia tak sedang berkedip belaka, namun terus memberi cahayanya walau hari sedang terangLangkah kau geser maju dalam kepastian, sambil menjunjung harkat kemanusiaan menggandeng keadilan, kejujuran dan kesederhanaan.Senyum kau kulum ketika kau beberkan kalam dengan urai kesantunanmuJemari memainkan pena bertinta denganContinueContinue reading “Pertiwi Tersenyum sambil Menangis”