Malam ini (15/06) dalam percakapan via WhatApp dengan seorang sahabat yang menetap di Jakarta, ia menyampaikan rasa was-was. Mengapa? Jakarta sebagai ibukota negara masih memberlakukan masa Transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar. Dalam masa transisi ini tempat-tempat yang biasanya dikunjungi secara massal di antaranya mal mulai dibuka.
Saya tanyakan pada sahabat saya ini, bagaimana keadaan Jakarta? Jawabannya, ya, begitu. Masih was-was cendrung takut, walau kami sempat melucu juga. Ya, melucu sebagai salah satu cara menepis kecemasan. Apa yang lucu?
Saya teringat kata karantina yang disampaikan sahabat saya ini. Kata itu, ketika tahun 1980-an kami bersekolah di kota Kupang, kata itu sudah sangat familiar dengan masyarakat kota Kupang bahkan mungkin se-antero pulau Timor. Jauh sebelum saya ke kota Kupang untuk melanjutkan sekolah (SMP). Kata itu dikenal luas karena para pedagang sapi antarpulau akan membawa sapi-sapi ke pelabuhan Tanjung Lontar Tenau. Sambil menunggu giliran pengangkutan dengan kapal hewan, sapi-sapi itu ditampung sementara. Tempat tampungan itu kemudian dikenal luas dengan istilah karantina.
Nah, ketika karantina dipakai pada masa pandemi korona, rasanya sesuatu amat begitu di telinga kami yang sudah di atas 50 tahun melewati masa hidup di kota Kupang dan sekitarnya. Kata karantina rasanya masih ada dalam pengetahuan para pedagang sapi antarpulau. Begitu menyebut karantina sontak pikiran mereka terarah ke satu lokasi dekat dermaga Tenau Kupang. Sapi-sapi itu mendapat pemeriksaan oleh para dokter hewan, yang memberikan keterangan sehat sebelum diangkut ke kapal.
Sebelum naik ke kapal, sapi-sapi itu ditambatkan di sana. Mendapatkan makanan yang sudah berbeda dari habitat sebelumnya. Jika sebelumnya sapi-sapi itu datang dari Amarasi dimana masyarakat peternak sapi memberi pakan hijauan, di karantina, sapi-sapi itu mendapat rumput atau batang padi kering.
Nah, sangat jauh berbeda dengan karantina yang sekarang ini familiar pada masa pandemi korona. Kata ini dipakai untuk “mengurung” orang-orang, anggota masyarakat yang diduga atau apapun istilah yang dipakai akhir-akhir ini dalam kerangka pencegahan menyebarnya virus korona.
Manusia tentulah bukan sapi. Mereka yang dikarantina pasti diperlakukan sebaik-baiknya sebagai manusia terhormat. Mereka akan dikembalikan ke rumah dan keluarganya bila tidak terpapar virus korona. Bila ada indikasi, dilanjutkan dari karantina ke rumah sakit untuk penanganan selanjunya. (Maaf) Bila meninggal dunia diberangkatkan dari rumah sakit (ruang jenazah) ke tempat penguburan tanpa upacara sebagaimana situasi normal.
Nah, saya tidak menulis panjang tentang karantina manusia dalam pandemi korona ini. Saya hanya melucu dengan sahabat saya itu agar ia kiranya dapat tersenyum menjelang tidur malamnya. Biarlah ia bermimpi bukan seperti sapi-sapi yang dikarantina, bukan juga seperti orang-orang yang dikarantina oleh karena mungkin ada gejala terpapar korona. Biarlah ia bermimpi sebagai orang sehat yang mobile ke mana-mana secara leluasa dalam tugas-tugasnya untuk menjadi manusia yang produktif.
Begitu saja cerita saya malam ini.
Terima kasih sahabat saya yang selalu sudi membaca blog ini.
Ya,…karantina juga di sini mengarah ke hewan he he. Sekarang istilah juga untuk.manusia.
LikeLiked by 1 person
terima kasih, walau sendiri memberi komentar, saya patut bersyukur. Inilah yang disebut komunikasi penulis-pembaca.
LikeLike