Topeng

Sejenis serangga yang sudah dalam pengetahuan umum, kupu-kupu hinggap di depanku. Aku tak mengetahuinya sampai saat dia mendesis. Apakah ia sedang mencari perhatianku? Tentu saja bukan. Aku membelalakkan bola mataku padanya. Ia bagaikan hendak menantangku. Tapi, rupanya ia bagai memakai topeng.

Ya. Topeng. Aku ingat kata penyanyi kondang Ahmad Albar, dunia ini panggung sandiwara. Para pelaku sandiwara melakonkan sesuatu yang bukan sifat dirinya. Ia bertopeng. Membungkus kebodohan dan kepongahan dengan kemunafikan semu. Lalu tersenyum dan tertawalah penontonnya. Pada kesempatan berikut kisah sandiwara itu berganti, maka meringis dan menagislah para penontonya. Apakah pelaku bertopeng itu sedang menangis? Tangisan ekonomi.

Waktu terus bergulir manakala sandiwara terus dimainkan. Siapakah yang berperan di balik panggung dunia ini?

Manusia bertopeng. Merekalah yang berperan di balik panggung sandiwara dunia ini. Aku menepi seperti kupu-kupu kecil di hadapanku. Aku mendengar desis dan desir angin perbukitan di sini. Angin itu menjadi jembatan bersama gelombang elektro di udara yang tak dapat dikerangkeng. Mereka menjadi saksi atas sejumlah besar sandiwara makhluk Tuhan.

Siapa yang tidak mengaku sebagai makhluk Tuhan? Insan sempurna anggota tubuh yang dilengkapi nafas dan roh. Mereka menghadap Tuhannya sambil menadahkan tangan. Ketika itu air mata mengalir deras tanda penyesalan bila mengharapkan sesuatu pada-Nya. Tuhanpun tak sesegera itu mengabulkan harapan mereka. Ia bagai mengulur waktu pada para pemohon yang berkali-kali membanjirkan air mata. Adakah yang salah pada pikiran Tuhan hingga Ia tak sudi segera memberi harapan berwujud pada pemohon yang adalah milik-Nya karena ciptaan-Nya? Mungkin Tuhan melihat ada topeng di wajah mereka. Sambil bertopeng mereka menadahkan tangan dengan harapan semoga berisi emas.

Topengmu. Aku sungguh tak hendak bertopeng. Tapi bagaimana mungkin hidup tanpa topeng? Setiap orang pasti melintas di pentas kemunafikan. Rumah mewah dengan hiasan kendaraan bermerk. Ketika padanya datang bantuan langsung tunai tanpa tanda, ia menerimanya. Lalu babak berikutnya ditempelkan label penerima be el te, ia berdiri di depan kamera televisi dan berkoar, “Aku malu! Berikan pada yang paling pantas menerimanya. Aku dan seisi rumahku sudah hidup layak!” Bergegaslah petugas meninggalkan rumahnya. Ketika itu ia berkata, “Gegara label di pintu rumah, hilanglah be el te. Sial!”

Topengmu. Pemuka agama tak rela dirinya bertopeng. Ia pun tak sudi umat pengikutnya bertopeng. Ya. Siapaun pemuka agama rindu kesalehan tanpa kesalahan. Bersih badan dan dandanan. Bersih hati tanpa utak-atik. Apik nan artistik pada aksesori keagamaan. Semua itu hendak memberi nuansa kesalehan. Dapatkah itu benar-benar nyata?

Di sekolah, pada masa pandemi covid-19 siapa yang benar-benar melaksanakan tugas belajar dari rumah secara luar biasa? Seorang rekan dalam suatu diskusi berkata, tidak ada definisi operasional dan indikator serta alat ukur yang dapat digunakan sebagai panduan belajar di rumah. Saya sangat khawatir akan efektivitas implementasi belajar di rumah. Apalagi bila ditelusuri banyak guru sedang berlibur di kota.

Jika pernyataan rekan saya ini dapat dibenarkan, maka laporan-laporan WFH yang dikirimkan dapatkah dipercaya?

Apakah pembelajaran seperti itu bukan merupakan “topeng” di dunia pendidikan yang menyertakan kemunafikan?

Aih… Saya kira banyak guru bekerja secara baik, tetapi perlu juga untuk mengadakan evaluasi secara menyeluruh pada proses apa yang disebut WFH. Lebih baik bekerja secara normal lalu melaporkan secara normal tanpa topeng, dibandingkan dengan apa yang sedang terjadi saat ini dimana pandemi covid-19 menjauhkan kita.

Koro’oto, 9 Juni 2020
Heronimus Bani

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

Design a site like this with WordPress.com
Get started