Gemas Pagi

Awan pagi bergeser memberi celah pada alur pikir.
Cahaya tak rela membiarkan alur pikir berderak di antara bebunyian kendaraan di pedesaan.
Produk teknologi merambah hingga kolong pembaringan rusak sekalipun
di sana dibuanglah bangkai rakitan tak terpakai.

Bayu berhembus menyela dedaunan nyiur yang hancur dikerat hama.
Pepohonan itu telah lama menderita virus yang tak pernah ada vaksinnya.
Walau buahnya tetap diambil dan dinikmati tanpa peduli pada kesehatan.
Meranalah nyiur mengobati diri bagi kemuliaan makhluk bermartabat.

Suasana kampung bergeser nian manakala korona menyapa tanpa suara.
Sejumlah ritme menggoyang emosi dan rasa berperikemanusiaan.
Kampung mengaku teratur dalam barisan para jerigen berisi air mingguan
Tiada orang mencuci tangan berhubung air barang langka di lereng Sismeni’.

Pos penjagaan perbatasan bagai piket serdadu
menghalang rintang perjalanan sebentar saja dengan tanya yang tak perlu.
Lalu berujar kata tanpa nada bersahabat pada pengguna jalan di desa.
Sungguh korona menambal sifat pada manusia berakhlak super.

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

Design a site like this with WordPress.com
Get started