Pengantar
Dalam dunia ini makhluk manusia merupakan satu-satunya makhluk sempurna karya cipta Tuhan. Padanya ditempatkanlah oleh Tuhan banyak potensi yang dibenamkan-Nya mendalam sedalam mungkin pada setiap individu. Kewajiban sang individu itu bersama lingkungan yang diakrabinya untuk mengetahui, apa yang dibenamkan Tuhan itu.
Satu di antaranya adalah emosi (perasaan). Maka lahirlah riset-riset yang menelorkan ilmu Psikologi dengan segala sub dan item psikologi itu. Perasaan selalu ada. Saya sempitkan saja dua di antaranya; senang dan sedih. Saya lebih sempitkan fokus artikel sederhana ini ke sedih.
Semua orang sudah pasti sangat mengetahui mengapa seseorang sebagai individu atau satu komunitas bersedih? Sedih, suatu hal yang wajar terjadi yang dapat diejawantah terlihat ketika orang menangis. Tangisan yang tanpa suara hingga bersuara, sangat kelihatan pada lelehan air mata pada orang yang sedang menangis. Tapi, ada pula individu yang bersedih tanpa tangisan. Mereka justru memendamnya. Sikap dan ronanya saja yang kira-kira harus menjadi perhatian untuk dibaca dan diwacanakan sebagai sedang sedih.
Mengapa Sedih?
Sedih, padanannya susah hati. Ya, sedih sebagai ekspresi suasana hati yang susah. Biasanya wajah atau rona individu atau komunitas yang kelihatan untuk menggambarkan suasana hati yang susah itu.
Berbagai alasan orang susah hati. Fakta yang paling nyata misalnya seperti yang saya mau sebutkan di antaranya:
- Kehilangan orang-orang yang dikasihi dan mengasihi. Siapa yang tidak sedih, susah hatinya ketika orang atau orang-orang yang dikasihi dan mengasihi pergi untuk selama-lamanya alias mati, meninggal, dan beberapa istilah dalam Bahasa Indonesia yang menaikkan derajat kematian individu.
- Empati pada situasi tertentu. Seseorang atau satu komunitas, bahkan suku bangsa dan bangsa, dapat menyatakan kesedihan atas suatu situasi yang menimpa seseorang, komunitas, suku bangsa dan bangsa. Kematian tokoh publik, selalu meninggalkan kesan kesedihan. Kematian atas terjadinya bencana alam. Biasanya korban bencana alam selalu mengundang simpati dan empati. Oleh karena itu orang secara spontan turut menyatakan kesedihan. Ada bencana non-alam seperti yang sedang terjadi saat ini pandemi covid-19. Simpati dan empati mengalir baik dalam tindakan nyata atau tindakan lain yang tidak sampai pada mereka yang terpapar. Maksud saya, tindakan lain itu seperti doa-doa. Orang yang berempati pada situasi ini, dalam doa-doanya akan menyebut situasi ini. Kecelakaan lalulintas di jalurnya; darat, laut, selat dan udara. Banyak situasi tertentu secara subjektif mendapat penilaian dari individu untuk merasa sedih.
- Kehilangan harta benda dan kepemilikan lainnya. Kerja keras seseorang bila memungkinkan untuk mengumpulkan harta sebagai kekayaan, mengantarkan orang merasa bangga dan senang. Sebaliknya orang itu akan merasa sangat sedih, bila jerih lelahnya itu habis dirampok, habis dimakan api dalam kebakaran yang tak dapat dipadamkan kobaran apinya, habis tenggelam dibawa arus banjir atau tanah longsor, dan lain-lain. Sedih sekali bila semua itu terjadi. Kepemilikan lain yang hilang seperti karya-karya yang dibajak untuk kepentingan dan keuntungan ekonomi dan politik dari pembajaknya.
Penutup
Tulisan pendek saya ini sesungguhnya saya mau menggambarkan rasa sedih yang sedang merayapi hati saya. Saya sedih, kita sedang terus berada di rumah saja. Sementara pihak lain seperti para petugas kesehatan dan anggota keluarga yang terpapar sedang berjuang mematikan dan memastikan bahwa pasien akan sembuh. Pemerintah, NGO, Institusi Keagamaan, Perusahaan dan perorangan tertentu terus menggalang upaya penyelamatan.
Dari-Mu, ya Tuhan
Karya terlahir dari kandungan inspirasi
Di sana Dikau Tuhanku menitikkan kejernihan ide
Di sana Dikau Tuhanku menempatkan setitik noktah
Di sana Dikau Tuhanku menata alur hidup dalam aliran olah pikir.
Lahirlah karya-karya pada orang-orang pilihan Tuhan
Bila ada yang mendompleng nama, tiadakah galau di hati pemiliknya?
Bila ada yang menduplikasi, tiadakah rona melukiskan suasana susah pemiliknya?
Rasa sedih ini hanya bisa saya gambarkan dengan menulis. Hanya ini dapat dapat saya lakukan untuk mengusir kejenuhan dan rasa sedih. Sambil saya dan keluarga dan komunitas se-kampung ini pun terus berdoa agar kiranya Tuhan berkenan pada usaha dan kerja keras semua pihak untuk memutus penyebaran virus korona ini.
Semoga.
Koro’oto, 7 Mei 2020
Heronimus Bani
Rasa sedih saja tidak cukup. Doa, airmata dan usaha agar kita tetap dalam kasih sayang-Nya. Tiada lelah untuk meyakinkan hati bahwa badai pasti berlalu
LikeLike
Mungkin sudah baca sampai paragraf terakhir. Terima kasih telah membaca dan memberi jejak di blog sepiku ini. haha…
LikeLike
Amin. Semoga kesedihan ini lekas terobati dengan kebahagiaan. Amin.
LikeLiked by 1 person
terima kasih telah mampir. Entah nanti akan mampir lagi? ha ha… You are blessed.
LikeLike