Sembuh Lagi

“Kau sakit lagi?” tanyaku padanya.

Ia membisu saja. Dengan kaki yang biasanya kupakai untuk menggenjot gagang mulutnya dan tangan yang memantik percakapan bunyi darinya. Beberapa kali kulakukan padanya.

“Bbmmm… Bbmmm… .” berkali-kali seperti itu. Kuputuskan untuk membawanya kembali ke rumah. Satu kepastian. Dia sakit lagi. Tidak ada dalam pengetahuanku jenis penyakitnya kali ini.

Dua orang yang lain mencoba menelisik. Pengamatan yang kelihatannya sangat teliti. Seorang memegang tubuh besarnya. Seorang lagi menggunakan pendekaan yang sama seperti yang sudah kulakukan.

“Bbmmmm…. Bbmmmm… !”

Demikian sesungguhnya yang terjadi. Mereka masih melakukan sesuatu padanya bagai ada pengetahuan dan sepenggal ketrampilan. Urat dan sel dipreteli. Cairan mengalir melalui bagian yang dipreteli itu. Lalu, menit berikutnya semua bagian itu dikembalikan ke posisi semula.

“Bbmmmm… Bbmmmm … !”

“Sudah! Biarkan dia beristirahat sejenak. Besok atau lusa, tolong bawa ke tempat dimana ia mendapat perhatian yang serius!” kataku.

Seminggu ia dibiarkan tanpa bicara. Selanjutnya ia dipindahkan ke tempat yang kiranya mendapatkan perhatian. Setibanya di sana, ia masih dibiarkan meradang dalam balutan dingin malam dan sengatan panas siang. Hari berikutnya datang kabar, “Sebentuk tulang elastis mesti diganti. Di tempat kami tidak ada. Mohon pengadaannya!” Pesan singkat itu masuk.

Segera para penolong mengusahakannya. Seharian tulang elastis itu belum ditemukan, hingga malam tiba. Kabar datang lagi dari arah barat, “Jemput tulang elastis di desa tetangga!”

Mereka berangkat. Tiga jam kemudian mereka kembali. Sudah sampai tengah malam. Sementara dia yang sakit tanpa erang suara di tempat perawatannya. Ia sama sekali tidak berteriak. Diam. Tiada selimut pembungkus kulit, tulang dan temali dalamnya. Bisu. Malam masih membungkus dirinya. Ia merenung, “Kapan tulang elastisku tiba agar aku segera mendapatkan cairan yang menghidupkan bibirku?”

Pagi tiba. Penolong segera mengantarkan tulang elastis itu. Di sana, pasien nampak masih murung walau telah terlihat tulang elastisnya. Ia tak menyapa tuannya. Sementara tuannya berdiri di kejauhan memandang saja entah apa yang dipikirkan. Sang perawat menerima tulang elastis itu. Ia tidak menjanjikan kapan selesai perawatan. Ia berpesan, “Tunggu saja kabar melalui aplikasi pada nomor yang sudah ada di henfon!”

Apakah dia akan berada di tangan perawat sehari lagi? Tidak. Sore tiba. Pesan singkat masuk lagi. Ia boleh kembali ke rumah. Ia sudah dapat berbicara. Ia bahkan dapat berjalan dan berlari.

Para penolongnya segera menjemputnya kembali ke rumah. Dari kejauhan suaranya sudah kedengaran. Ia mengabarkan bahwa tulang elastis yang digantikan itu telah cocok dan cairan penghantar ke dalam sistem yang menghidupkannya itu telah menjadikannya dapat meraung normal.

Ya. Ia telah sembul lagi. Ia siap untuk berteman denganku dan seisi rumahku.

Koro’oto, 5 Mei 2020
Heronimus Bani

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

Design a site like this with WordPress.com
Get started