Sequence Pictures

Chiang Mai-Thailand, teresnews.com (24/07/19). Pembaca jangan terjebak dengan judul yang tertulis seakan-akan penulisnya seseorang yang sudah sangat mahir berbahasa asing. haha… Terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia, gambar urutan atau gambar berurutan. Lho… ada apa koq pagi-pagi mau menulis artikel tentang gambar berurutan (sequence pictures)?

Ya, daripada bengong menunggu jadwal lokakarya (workshop) hari ketiga yang akan dimulai pada pukul 09.00 waktu Chiang Mai-Thailand, baiknya saya manfaatkan kesempatan ini untuk berbagi. Boleh bukan?

Mengajak anak untuk belajar secara menyenangkan pada masa golden age khususnya umur 1 – 5 tahun (boleh juga 6 – 8 tahun), tentu pendekatan pembelajarannya harus dikemas secara berbeda. Mulailah dari apa yang paling dominan diketahui anak. Pengetahuan tentang diri dan lingkungan terdekatnya. Jangan pikirkan hal-hal yang teramat jauh darinya.

Di Indonesia, Kurikulum 2013 (K-13) pada tahun pertama murid Sekolah Dasar memulainya dengan tema, keluargaku. Tentulah hal ini sangat dekat dengan anak. Namun, apakah ada yang kurang atau keliru dalam penerapannya? Menurut saya masih ada yang harus dibenahi agar guru tidak terjebak dengan rutinitas belaka yaitu mempersiapkan diri membaca buku guru, lalu melihat buku siswa untuk sekedar memberikan tugas. Guru justru harus kreatif menyiapkan media penunjang proses belajar yang aktif dan menyenangkan.

Kembali ke sequence pictures yang disasarkan pada anak berumur 1 – 7 tahun. Tugas orang dewasa dalam hal ini, orang tua dan guru, menyediakan media gambar. Misalkan kebiasaan yang sudah lazim pada anak yaitu bermain bola. Setiap hari anak-anak bermain bola. Siapkan seperti gambar bola, lapangan sepakbola, dan anak dengan bola.

Langkah pembelajarannya adalah:

Pertama, tunjukkan gambar-gambar itu pada anak. Tanyakan padanya, apa nama gambar ini? Biarkan dia berimajinasi untuk menyebutkan/memberi pendapat tentang gambar yang dilihatnya.

Kedua, setelah gambar-gambar itu ditunjukkan, minimal 3 – 4 (atau lebih maksimal 6). Guru mengacak gambar-gambar itu. Mintalah anak mengurutkan gambar-gambar itu agar saling berkait bila dicertakan. Dalam mengurutkan, biarkan anak berimajinasi tentang posisi yang tepat pada gambar-gambar itu. Bila ia sudah selesai (sekalipun keliru misalnya), mintalah anak bercerita tentang gambar itu. Jangan menyalahkan anak yang keliru. Biarkan dia memperbaiki sendiri posisi gambar bila ia merasa keliru ketika dia mulai bercerita.

Ketiga, Guru meminta anak memperbaiki posisi gambar sesuai urutan yang benar. Bila sudah benar, biarkan dia bercerita.

Keempat, mintakan anak menyusun gambar-gambar itu secara berbeda, namun bila diceritakan akan logis. Langkah terakhir ini akan di luar dugaan guru bila guru sendiri tidak mempersiapkannya. Artinya, guru sudah harus mencobanya terlebih dahulu.

Bila semua ini dapat dilakukan tentu orang tua dan anak, guru dan murid akan berkomunikasi secara lancar, tanpa sekat yang canggung, tanpa rasa takut salah, kuatir akan dibentak atau diberi sanksi dan lain-lain. Akan terjadi proses imajinatif pada otak anak untuk berkreasi lagi.

Lalu masalah muncul, bagaimana menggambar? Jawabannya, ajak teman yang dapat menggambar, atau orang yang tahu menggambar yang ada di sekitar anda (guru, orang tua atau anakmu yang lain). Cara lain, lihat petunjuk menggambar pada mereka yang suka menggambar di youtube. Ikuti cara mereka menggambar. Jangan mimpikan gambar yang luar biasa, sebab anda bukanlah pelukis profesional. Lihat gambar-gambar yang saya unggah di sini. Saya baru saja menggambarnya. Tidak rapih, tidak indah, mungkin juga secara artistik tidak indah. Tapi, cukuplah untuk memberi nuansa dapat dibaca oleh anak, anak akan terpancing untuk berbicara dan aktif melakukan sesuatu.

Baiklah, selamat mencoba. Mungkin anda mau berdiskusi dengan saya? Saya pastikan ada yang lebih punya pengalaman. Selamat mencoba, good be try…

Chiang Mai, 24 Juli 2019

Heronimus Bani

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

Design a site like this with WordPress.com
Get started