Entah siapa yang lebih dahulu menggunakan istilah ini, Majelis Sinode GMIT atau Majelis Klasis Amarasi Timur. Faktanya ada kebaktian perhadapan dan pengutusan Calon Vikaris (cavik) di Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto Klasis Amarasi Timur pada 3 Maret 2019. Sepuluh orang cavik diperhadapkan dan diutus ke sepuluh jemaat di dalam Klasis Amarasi Timur.
Kesepuluh orang cavik itu adalah, Joni Kono, S.Th, di Fatufuaf, Patric Nawa Kota, S.Th, di Rium, Desy Seubelan, di Pakupetas, Ryan Therik,M.Si dan Nuke Laning, M.Si di Kaisarea Haubesi, Anita Fobia, S.Th di Oemoro, Desna Benu, S.Th di Oemathoni di s Bkait, Martin Sinamohina, S.Th di Ebenhaezer Bimous, Kosfita Mullik, S.Th di Betel Sonraen dan Deni Ariance Ora, S.Th di Koro’oto.
Tugas mereka menyerupai para presbiter (pendeta, penatua, diaken, pengajar). Memimpin ibadah di rayon, memimpin kebaktian utama, mengajar katekisasi sidi, mengajar di sekolah minggu dan lain-lain lagi tugas-tugas gerejawi, kecuali mereka tidak diperkenankan melayani sakramen baptisan kudus dan perjamuan kudus.
Dari tugas yang diembankan kepada Cavik ini, terasa cavik mendekati tupoksi di gereja (GMIT). Tapi cavik belum atau bukan jabatan pelayanan dalam gereja (GMIT). Cavik berlaku sebagai jabatan magang. Magang dipahami sebagai latihan kerja. Saya pahami magang sebagai belajar dalam praktik dan sebaliknya praktik sambil belajar mempersiapkan diri menuju tugas yang sesungguhnya kelak.
Saya berasumsi bahwa jabatan apapun mungkin sebenarnya harus dimulai dengan magang agar orang mempersiapkan diri dengan belajar dari yang nyata/riil pada tugas yang akan dipanggulnya kelak itu. Mereka yang sudah memanggul jabatan itu sekalipun, mestinya terus belajar agar memberi nuansa plus pada jabatan dan tupoksi itu.
Cavik belumlah atau bukan jabatan yang diciptakan oleh gereja (GMIT). Walau hanya masa magang menuju masa vikariat, ia.a tak dapat dipandang ringan. Dia harus dipahami sebagai tugas dan tanggung jawab menuju kematangan diri pada waktunya.
Dalam rentang waktu menjalani masa cavik/magang, para pihak: pendeta, penatua, diaken, pengajar, dan cavik sendiri berada dalam satu barisan yang sama: Badan Pelayanan. Dalam badan pelayanan yang sama ini tingkat pendidikan saling berbeda. Perbedaan ini mesti saling melengkapi. Mereka yang memanggul jabatan-jabatan dalam badan pelayanan ini saling: mengingatkan, menasihati, menegur, dan membangun.
Kebersamaan yang demikian akan memberi dampak pada kualitas pelayanan itu sendiri. Kualitas pelayanan itu akan nampak pada pandangan mata orang baik dari dalam maupun dari luar organisasi gereja.
Klasis Amarasi Timur telah memulai. Saya mencoba menelusur di dunia digital medos. Di sana ada satu grup cavik beranggotakan 371 orang. Mereka menyatu di sana untuk saling menguatkan agar menanti dalam kesabaran tinggi menuju masa yang mereka harapkan tiba secara bersama. Cavik, kiranya memberi nuansa berbeda pada pendekatan pelayanan di jemaat-jemaat dimana mereka berada sebagai yang diutus sekalipun kedudukan formalnya belum ada.
Tuhan Yesus Kepala Gereja memberkati.
Koro’oto, 2 Juni 2019