Bukan hal baru di negeri beribu nusa dan pulau ini yang dihubungkan selat dan laut. Di sana tanjung dan labuhan melambai ayun tangan bersetangan pada kekasih bila ada yang pergi. Tetes air mata mengiringi kepergian ketika ufuk menelan layar, sementara kekasih masih berdiri di bibir pantai mengais pasir menanti tenggelamnya raja siang. Ketika itu, tangisContinue reading "Mudik yang Medok"
Beku Saja Malam ini
Kusaksikan dalam diamku, ketika layar televisi memamerkan drama satu keluarga guru dengan romantika dan problematika mereka. Kusadari betapa keluarga guru mestinya menjadi yang digugu dan ditiru. Kusadari pula betapa anak-anak mesti lebih baik dari orang tuanya yang berprofesi guru. Kusadari pada saat yang sama, guru punya keterbatasan sebagai manusia. Jadi, bila bermimpi anak menjadi lebihContinue reading "Beku Saja Malam ini"
Neraca Manusia dan Tuhan
Sudah ada dalam pengetahuan umum, manusia memberi pujian dan menerima pujian manusia memberi hadiah dan menerima hadiah ada yang menobatkan lebih tinggi kedudukan hingga menerima sanjungan dengan decak kagum lalu diagungkan dengan makhota kemuliaan. Sudah ada dalam pengetahuan umum, manusia menerima cerca dan mengantar makian manusia menerima cambuk dan mengantar comberan manusia menerima rajaman danContinue reading "Neraca Manusia dan Tuhan"
Betapa … ?
Betapa hari ini kunikmati, antara kejenuhan dan keseruanantara kecemasan dan kegemasanantara kegeraman dan kegemaranantara pengajar dan terajarantara keram karam rona dan kalam dalan rinai. Betapa waktu ini bila dapat saja kurababila dapat saja kutangkapbila dapat saja kubisikkanbila dapat saja kami bersuabila dapat saja kududukkan bila dapat saja kutahan di sini. Betapa bodohnya aku bila diizinkanContinue reading "Betapa … ?"
Music in Midnight
Music in midnight, sengaja menggunakan kata-kata dalam Bahasa Inggris supaya ada kesan keren, padahal sungguh kere. Sebal juga. Sudah diganggu si pemabuk, dan bunyi dari perlengkapan listrik tukang kayu yang baru berhenti pukul 23-an tengah malam, sekarang musik tengah malam menjelang pagi. Suara para pemabuk lagi terdengar di sana. Mereka pesta miras. Suara musik dariContinue reading "Music in Midnight"
Merdeka dalam Kamar
Kartini,namamu bergelar Raden Ayu,gelaran terhormat kaum bangsawan,bangsawan penegak hukum dan martabat,yang dijunjung lebih tinggi daripada harkat,dilakoni secara sadar dalam ketakberdayaan,walau luasan merdeka diberikan terbatas,bagai ternak mendapatkan kebebasan di kandang,kau jalani dengan roh dan raga seutuhnya,hingga tiba di titik pergolakan hati,manakala kau dinutrisi literatur mewah berkelas. Kartini,teramat belia kau menjunjung hukum dan martabat,untunglah kau punya saudaraContinue reading "Merdeka dalam Kamar"
Cemas Gemas Belajar dari Rumah
Rapat para Kepala Sekolah se-wilayah kecamatan kami baru saja berakhir. Kami membahas situasi terkini khususnya proses belajar mengajar (pembelajaran) yang "dialihkan" dari sekolah ke rumah. Terminologi baru belajar dari rumah (BdR). Beda sekali bila guru berpesan pada anak, "Belajar di rumah, ya!" Situasi saat ini telah memberi nuansa yang sangat berbeda. Perbedaan terminologi yang menjadiContinue reading "Cemas Gemas Belajar dari Rumah"
Kemarin
Kemarin Kemarin satu waktu berlalu, ia pergi membelakangiku, ia tak sudi sekedar menoleh padaku yang rindu memeluknya. Ia pergi membawa sebahagian ingatan dan kenangan. Aku di sini antara ingat dan lupa, entah kenangan mana yang akan tergenang di pelupuk. Entah ingatan mana yang kukenang di benak. Kemarin, kau telah menorehkan cerita cinta. Cinta kami padaContinue reading "Kemarin"
R a g u?
Temaram senja merayapi mayapada,ibunda merayap megap-megap di ranah tugasnya,ananda merangkak mendenguskan nafas berlendir di lobang hidungnya,sejumlah ayam kampung telah tiba di peraduan mereka,masing-masing tiba di ranting kecil yang dipeluknya sepanjang malam. Temaram senja berlalu, malam menyapa ramah dalam bahasa manusia,"Selamat malam!"lucunya bila dialihbahasakan pada seorang bule,"Good night!"Si bule pikir akan menuju pembaringan,ia melirik jam diContinue reading "R a g u?"
Terbang ke Awan
Malam makin larut seturut bergesernya rembulan penanda rindu. Kuangkat wajah ini dan kutengadahkan. Di ketinggian tak terukur, lambaian awan padaku. Mungkin di sana ada kesunyian, sementara aku di sini ada dalam kesepian dan himpitan di antara rindu pada kesibukan dan ketegasan protokol kesehatan. Aku duduk sebentar. Sepotong ranting kupilihkan yang dengannya kugunakan mencungkil bebatuan kecilContinue reading "Terbang ke Awan"