Senja kembali menyapa. Kabut di lereng Sismeni menyapu hingga kampung kecilku. Saat kabut tiba kaum dalam komunitas tiada bergeming berhubung sudah terbiasa, tapi bayi-bayi mesti dihangatkan dengan pelukan kasih sayang mamanda masing-masing. Kehangatan sedang dikejar. Ia tidak lari menjauh berhubung ia terkurung di perapian segitiga batu. Di sela berjarak itu dahan dan ranting kering masukContinue reading "Senja Berkelamin"
Sangpiak Toraja Utara Kami Datang
Buku ini sudah terbit. Tidak lebih dari 50 halaman. Isinys kisah perjalanan dan pengetahuan tentang budaya orang Toraja dilihat dari kacamata seorang penulis mana suka yang datang ke sana dalam tugas keluarga. Maksudnya tugas keluarga di sini adalah mengurus legal standing perkawinan menurut hukum adat. Ketika tiba di Sangpiak, Toraja Utara, sebagai kebiasaan belaka, sayaContinue reading "Sangpiak Toraja Utara Kami Datang"
Merenda Senja di Ladang
Kabarku dari ladang dalam kompleks Pastorian Koro'oto. Rerumputan dan gulma pengganggu tanaman jagung tak dapat lagi untuk dihalaukan seutuhnya. Tiada kata untuk menggantikan tugas kecuali harus bekerja, memetik bulir-bulir jagung itu bila tak ingin hasilnya busuk diguyur tak henti dalam seminggu terakhir ini. Isteri dan satu anakku serta seseorang anggota majelis gereja menemani kami. BulirContinue reading "Merenda Senja di Ladang"
Pagi Merayap Tiba
Pagi ini aku berdiam diri sejenak. Hendak bertanya pada pepohonan, mereka sibuk menyibak guyuran dan limpahan keberkahan tanpa henti dari langit. Aku melirik hendak menemukan unggas kampung yang biasanya tiba di tiris pondokku, mereka melipat sayap di belakang pondok ini sambil saling menghimpit badan berdesakan. Rupanya merekapun rindu mendapatkan kehangatan. Aku bangun dari dudukku. KudekatiContinue reading "Pagi Merayap Tiba"
Angin Senja Berlalu
Duniaku senja ini tak lebih luas dari daun kelor. Di duniaku ini aku menggeser gosok saja layar. Di sana aku dapat menyaksikan kisah kesuksesan dari daur ulang suksesi demokrasi. Di sana ada kegemilangan dari kerlap-kerlipnya pentas bergelimang kemewahan sementara di kolong pentas merayap-rayap para pemulung mencari nafkah dari sisa kerlap-kerlip untuk daur ulang. Di sanaContinue reading "Angin Senja Berlalu"
Senja tanpa Tanda
Langit masih saja sendu wajahnya. Rasanya ia belum rela menerima salam dengan suara paling lantang dari kaum penikmat udara segar. Para peladang pergi buru-buru pada pagi hari, dan pulangnya sambil kuyup pada petang. Cerita dari ladang menggemaskan. Ibu rumah tangga cemas pada situasi persediaan di lumbung yang tak seberapa luasnya di loteng dapur yang biasanyaContinue reading "Senja tanpa Tanda"
Rean Fauk?
Ketika merenungkan kata yang tepat untuk menulis judul pada artikel pendek ini, saya mesti berpikir ulang. Bolehkah saya memasang judul dalam bahasa daerah? Saya akhirnya memberi judul seperti dua kata pendek di atas. Kedua kata itu memang dalam bahasa daerah saya, Bahasa Amarasi. Tulisan tentang Rean telah mengantar saya pernah menjadi pemateri di dua KonferensiContinue reading "Rean Fauk?"
Mencari yang khas Timor
Hari-hari menyenangkan dan menggalaukan hati mengikuti International Conference on Languages Documentation an Conservation di Manoa University Hawaii. Bukan saja seminar dan diskusi, tapi ada pula workshopnya. Saya memilih mengikuti pembuatan vidio pendidikan yang sederhana. Tapi belum satupun vidio saya sempat buat. Kenapa? Pengadaan perlengkapan (equipment to... ), selain mesti belajar lagi, berhubung telah dimakan waktu.Continue reading "Mencari yang khas Timor"
Dengan Kata
Dengan kata, lahir berbagai ujaran dan ucapan.Bahkan kamuspun makin bertumpuk timpukhingga ensiklopedia beragam rias menghias rak bukuliteratur berkitab-kitab berawal dari buku berbuku dan berkubusana-sini berjejer berima ritme artikel beropini terkini lalu melayang buang. Dengan kata nabi dan rasul mengantar suara Tuhanpetobat mengikuti sembari bersembunyi dari pedang penghujatpendakwah menggugah rasa berkeyakinan usang penginjil menabrak kepongahan imamContinue reading "Dengan Kata"
Entah Langit Menangis?
Berlalu hari bertambah hitungan, sebentar panas sebentar mendung. Antara cemas dengan gemas, makhluk berpanas merindukan kepuasan. Kabar tak kabur hujan mengguyur. Hutan menyerah banjir menggerayang makhluk menangis di tengah korona memohon Ilahi singkirkan bencana. Siapa tengadah pada tuan angkasa? Insan ber-Tuhan tentulah dia! Tapi mengapa Tuhan membisu? Tiadakah Tuhan mempunyai telinga? Kutanyakan pada langit semalamContinue reading "Entah Langit Menangis?"
You must be logged in to post a comment.