Literasi Siswa SD Inpres Nekmese

Literasi adalah kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu, kemampuan individu dalam mengelola informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup http://Dkatadata.co.id

Dari pengertian di atas, dsn selanjutnya mengikuti trend literasi yang terjadi di dunia pendidikan dasar, maka unit-unit sekolah, khususnya Sekolah Dasar memiliki kewenangan sekaligus tugas pokok dan fungsi untuk memprosesbelajarkan ketrampilan dasar yang disebut calistung.

Calistung: membaca, menulis dan berhitung merupakan tiga kemampuan atau keterampilan dasar yang harus dapat dimiliki setiap sisw sekolah dasar. Pada saat menyelesaikan satu jenjang kelas, tiga ketrampilan dasar ini mesti makin naik dan naik kualitasnya sekaligus secara spiralis menambah pengetahuan dan kecakapan hidup seturut perkembangan psikologisnya.

Ketrampilan membaca yang dilalui anak-anak seturut perkembangan psikologisnya dan pertambahan umur,.dapat dicatat sebagai berikut:

  1. Pre-Reading (6 bulan – 6 tahun)
  2. Initial Reading and Decoding (6 – 7 tahun)
  3. Confirmation and fluency (7-8 tahun)
  4. Reading for Learning the New (9-14 tahun)
  5. Multiple Viewpoints (15-17 tahun)
  6. Construction and Reconstruction (18-ke atas)https://www.ef.co.id/englishfirst/kids/blog/6-tahap-perkembangan-membaca-pada-anak-dan-remaja/

Semua tahapan ini bila tidak dipaksakan pada anak, tetapi diprosesbelajarkan secara normal sambil memperhatikan keunikan pada anak tertentu,.maka guru akan mengetahui pendekatan dan metode pembelajaran membaca yang tepat pada anak.

Pendidikan Multi Bahasa (PMB) sebagai suatu pendekatan dalam praktik pembelajaran membaca permulaan Pre-Reading dan Initial Reading and Decoding. Guru memberikan kontribusi pembelajaran dengan modal berbahasa lokal pada anak, apalagi mendapatkan anak yang bilingual atau trilingual.

Faktor pengetahuan berbahasa lisan yang bilingual atau trilingual dapat terjadi pada komunitas masyarakat beragam etnis atau dampak perkawinan antar etnis. Faktor lain yang menjadi pemberi pengaruh anak berbahasa lisan lebih dari satu bahasa yakni intervensi dunia luar, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dengan segala perangkat lunak (software) dan kerasnya (hardware). Semua ini menjadi bagian yang mempengaruhi perkembangan berbahasa lisan pada anak.

Ketika memasuki dunia pendidikan formal, mereka dituntut untuk berbahasa formal, Bahasa Indonesia. Maka, langkah menuju Bahasa Indonesia yang dipakai yakni pendidikan multi bahasa (PMB – Multi Lingual Education-MLE).

Dalam pada itu Unit Bahasa dan Budaya GMIT telah merancang PMB-MLE dengan pendekatan Kombad, Konteks Multi Bahasa Daerah. Hal ini disebabkan banyaknya bahasa daerah dalam lingkungan pelayanan GMIT, sehingga diperlukan pendekatan yang tepat agar bahasa daerah dapat diprosesbelajarkan, ditulis, dibaca dan dilestarikan.

Siswa SD Inpres Nekmese telah memulainya dengan membaca Alkitab terjemahan ke dalam Bahasa Amarasi (Kotos). Bahwa sejatinya sudah harus menulis, namun prosedur yang baik untuk mendapatkan tata tulis Bahasa Amarasi (Kotos) ada dalam proses uji coba pada tahun 2021/2022 yang lalu pada 2 PAUD di dalam wilayah desa Nekmese. Hasilnya terlihat pada tahun ini ketika siswa Kelas 1 masuk, merek dapat membaca teks berbahasa Amarasi (Kotos) dan Bahasa Indonesia pada tataran sederhana.

Sampai di sini pengalaman pertama pendekatan Kombad yang akan diujicobakan lanjutannya di Sekolah Dasar Inpres Nekmese pada tahun depan.

Sambil menunggu proses pembuatan kurikulum pendidikan multi bahasa yang mendukung Kurikulum Merdeka, SD Inpres Nekmese akan memberdayakan sumberdaya yang tersedia yakni menerjemahkan buku-buku bacaan sederhana yang dikeluarkan oleh Summer Institute Linguistik (SIL) International melalui aplikasi Bloom Library.

Umi Nii Baki, 13 Agustus 2022

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

Design a site like this with WordPress.com
Get started