Duta Rokok Negeri Plus Enam Dua
Di halaman sekolah yang baru saja disapu, sebatang puntung rokok beristirahat lebih tenang daripada nurani manusia. Asapnya menari pelan, seperti roh yang enggan pergi, mencari siapa yang paling suci untuk disalahkan.
Kepala sekolah datang, wajahnya bagai pisau kecil yang setiap saatnya diasah oleh disiplin dan ikutannya. Di hadapannya berdiri seorang siswa, tangan masih gemetar, mata menatap tanah seperti sedang membaca puisi penyesalan yang tak pernah ditulis.
Kepala Sekolah: “Kau merokok?”
“Tidak, Bu.” Jawabnya.
Kepala Sekolah melanjutkan, “Saya melihat kamu merokok dan dalam sekejab kamu telah membuangnya. Ayo ambil punting rokok itu?”
Siswanya menjawab dengan penjelasan, “Saya tidak merokok, Bu. Bila ibu melihat rokok dan asap, mungkin dari tetangga yang sedang mengepulkan asap rokok, Bu. Lagi pula, ketahuilah sampah pun terbakar, asapnya berkeliling sedang berkunjung dari rumah ke rumah.”
“Pandai sekali kamu, ini. Kamu telah berbohong!” Kepala Sekolah mengakhiri percakapan dengan mengayunkan tangannya yang bertenaga dan menempelkan tapaknya ke pelipis siswa perokok itu. “Plaaak!”
Keduanya berpisah.
Tamparan itu jatuh seperti bunyi penghapus karet yang terlepas dari tangan guru. Penghapus itu mengenai lantai, lalu serentak para siswa histeris tanda terkejut. Keterkejutan itu menggetarkan segala yang diam. Tapi bukan hanya pipi yang memerah, hati ratusan siswa ikut membara.
Dua hari kemudian, sekolah berubah jadi taman protes. Enam ratus tiga puluh pemakai seragam putih abu-abu duduk di rumah masing-masing. Android di tangan memainkan peran masing-masing. Mereka melambai-lambaikan tangan bagai mengangkat bendera perang yang dicuci dengan emosi solidaritas dan air mata. Sehelai spanduk terbentang di gerbang:
“KAMI TIDAK AKAN SEKOLAH SEBELUM KEPALA SEKOLAH DILENGSERKAN.”
Mogok Sekolah.
Di dunia maya, rakyat negeri plus enam dua berpesta. Ragam meme dan video TikTok bermunculan. Kecaman dan pujian beriringan. Pesta di udara komunikasi dan informasi. Ramai. Keramaian itu dibumbui pula oleh pemerintah sebagai penata dan pembina, pengayom dan pembijak. Bukannya meredam pesta dengan himbauan, mereka malah menambah bumbu penyedap rasa. Makin ramailah pesta komunikasi dan informasi itu. Keren dan luar biasa.
Kaum medsoholik bagai kecanduan: jemari tak hendak diam di tempatnya. Mata tak rela dikediptutupkan. Telinga tak sudi dipalangi sabut penyerap bunyi. Varian perasaan ditebarkan dan makin dibingkai dengan nada dan irama kesantunan, satir dan sarkas. Majas-majas beriringan menuju dua pintu masuk SMA Negeri yang satu itu dan Kantor tempat Sang Gubernur menempatkan dirinya berkuasa.
Kepala Sekolah dibuli dan dibela. Siswa perokok mendapatkan belarasa dalam bungkus politik adminstrasi. Kebijakan yang membela rakyat mendongkrak citra diri. Menempatkan asa agar atensi publik berpihak pada kebijakan. Bibir berbuih mengurai iman politik yang telah mewujud dalam barisan kalimat:
“Kepala Sekolah Dinon-aktifkan“.
Varian rasa yang ditebar tiba pada video penobatan Duta Rokok di Sekolah. Dalam video itu, sang siswa berdiri menerima piagam dari seorang guru Perempuan. Makhotanya terbuat dari batang-batang rokok. Penobatan itu ditandai pula dengan kepulan asap yang keluar dari makhota batang-batang rokok di kepalanya. Asap mengepul ke udara, wajah yang semula tersenyum manis dan indah berubah warna menjadi hitam legam. Mungkin sedang kecewa.
Sejumlah parodi dimainkan. Ruang-ruang publik dibanjiri video-video dan meme-meme yang sangat satire. Betapa ketrampilan dan kepakaran insan di negara plus enam dua.
Di rumah siswa itu, ibunya berkata dengan nada bangga yang samar:
“Kau lihat, Nak? Satu tamparan bisa menjatuhkan kekuasaan.”
Anaknya memberi satu frasa tanya, “Ibu, apa artinya kejujuran?”
“Nak, kejujuran itu tergantung siapa yang punya kamera, jemari yang lincah memainkan diksi, dan kemampuan komunikasi dengan acuan ranah hukum dan HAM.”
Kini sekolah kembali tenang. Asap telah terbang meninggalkan rasa yang rada mereda, namun aroma bakarannya tetap menempel di langit-langit ruang guru dan ruang kelas. Di dinding belakang, seseorang menulis dengan kapur putih:
“Di negeri ini, asap lebih cepat naik daripada nilai moral.”
Lalu, puntung rokok itu, telah dibingkai dalam kaca, diberi label kecil:
Peninggalan Sejarah: Bukti Bahwa Kejujuran Pernah Dihukum, dan Dusta Pernah Diarak Sebagai Juara.
Sementara di luar sana masih ada yang menempatkan nada dan irama dengan lirik-lirik satir, sarkas dan elegi dan drama. Semuanya sedang terus memainkannya dalam orkestrasi dalam simfoni minor yang akan mengukir sejarah pendidikan di negeri plus enam dua.
Heronimus Bani-Pemulung Aksara
So’e-TTS, 16 Oktober 2025