Tanpa Ribet

Sejak satu jam berlalu ketika terjadi pergantian hari baru, saya mencoba masuk ke dunia alfabet. Di sana tanda-tanda sebagai lambang bunyi sudi digeser-geser. Mereka tak tersinggung bahkan teramat senang dan mungkin bahagia. Mereka menjadi pembentuk suku kata hingga paragraf. Satuan-satuan paragraf telah mengalirkan kisah-kisah yang menjadi bacaan. Bacaan yang entah disukai atau malah dicaci.

Satu kisah saya catatkan di sana. Entah dibaca atau hanya sekedar mendapatkan lirikan, lalu digeser berlalu. Itu sudah tradisi dalam dunia maya. Hanya mereka yang peduli saja yang akan tiba pada menghentikan gerakan bola mata sambil menggumam di benak.

Senja tiba ketika dedaunan berterima kasih pada Ilahi. Mereka bagai menadahkan tangan menyambut siraman butiran air yang dicurahkan walau tak seberapa banyaknya. Ketika itu permukaan berdebu menggumpal bagai butiran pasir. Lalu bekas kaki ayam dan anjing di rumah ini bagai cap pertinggal.

Satu unit mobil parkir di halaman rumah ini ketika butiran air langit tercurah. Ia mesti menunggu beberapa saat sebelum menurunkan apa yang ditempatkan pada isi bodinya. Berat. Ya! Sejumlah persediaan untuk waktu yang biasanya hanya dua sampai tiga minggu. Persediaan untuk komunitas kami di sini. Mereka butuh persediaan itu untuk menghidupi rumah tangga dengan segenggam butiran putih bernama beras.

Saya mesti ikut memberi tenaga yang tak seberapa kuat karena sedang kurang enak badan. Seorang anak yang sedang sakit terpaksa harus membantu. Bersama si pengemudi kami menurunkan muatan sebanyak dua ton. Napas tersengal dan tersendat. Betapa hidup mesti begitu. Kerja keras. Bayangkanlah itu terjadi di pelabuhan.

Senja makin bergeser.

Dua teman guru berkunjung.Kami berbincang sebentar tentang berbgai situasi yang terjadi, khususnya dalam hal penanganan bencana non-alam ini pada anak/siswa. Dana BOS kami diskusikan untuk segera dikonsultasikan ke pihak terkait.

Masalah muncul, kapan sekolah dibuka kembali? Ini mestinya ribet. Tapi, ya, tanpa ribet saja.

Begitulah suasana hari ini hingga senja tiba dan berlalu.

Koro’oto, 12 Mei 2020

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

Design a site like this with WordPress.com
Get started