Betapa hari ini kunikmati, antara kejenuhan dan keseruanantara kecemasan dan kegemasanantara kegeraman dan kegemaranantara pengajar dan terajarantara keram karam rona dan kalam dalan rinai. Betapa waktu ini bila dapat saja kurababila dapat saja kutangkapbila dapat saja kubisikkanbila dapat saja kami bersuabila dapat saja kududukkan bila dapat saja kutahan di sini. Betapa bodohnya aku bila diizinkanContinueContinue reading “Betapa … ?”
Monthly Archives: April 2020
Music in Midnight
Music in midnight, sengaja menggunakan kata-kata dalam Bahasa Inggris supaya ada kesan keren, padahal sungguh kere. Sebal juga. Sudah diganggu si pemabuk, dan bunyi dari perlengkapan listrik tukang kayu yang baru berhenti pukul 23-an tengah malam, sekarang musik tengah malam menjelang pagi. Suara para pemabuk lagi terdengar di sana. Mereka pesta miras. Suara musik dariContinueContinue reading “Music in Midnight”
Merdeka dalam Kamar
Kartini,namamu bergelar Raden Ayu,gelaran terhormat kaum bangsawan,bangsawan penegak hukum dan martabat,yang dijunjung lebih tinggi daripada harkat,dilakoni secara sadar dalam ketakberdayaan,walau luasan merdeka diberikan terbatas,bagai ternak mendapatkan kebebasan di kandang,kau jalani dengan roh dan raga seutuhnya,hingga tiba di titik pergolakan hati,manakala kau dinutrisi literatur mewah berkelas. Kartini,teramat belia kau menjunjung hukum dan martabat,untunglah kau punya saudaraContinueContinue reading “Merdeka dalam Kamar”
Cemas Gemas Belajar dari Rumah
Rapat para Kepala Sekolah se-wilayah kecamatan kami baru saja berakhir. Kami membahas situasi terkini khususnya proses belajar mengajar (pembelajaran) yang “dialihkan” dari sekolah ke rumah. Terminologi baru belajar dari rumah (BdR). Beda sekali bila guru berpesan pada anak, “Belajar di rumah, ya!” Situasi saat ini telah memberi nuansa yang sangat berbeda. Perbedaan terminologi yang menjadiContinueContinue reading “Cemas Gemas Belajar dari Rumah”
Kemarin
Kemarin Kemarin satu waktu berlalu, ia pergi membelakangiku, ia tak sudi sekedar menoleh padaku yang rindu memeluknya. Ia pergi membawa sebahagian ingatan dan kenangan. Aku di sini antara ingat dan lupa, entah kenangan mana yang akan tergenang di pelupuk. Entah ingatan mana yang kukenang di benak. Kemarin, kau telah menorehkan cerita cinta. Cinta kami padaContinueContinue reading “Kemarin”
R a g u?
Temaram senja merayapi mayapada,ibunda merayap megap-megap di ranah tugasnya,ananda merangkak mendenguskan nafas berlendir di lobang hidungnya,sejumlah ayam kampung telah tiba di peraduan mereka,masing-masing tiba di ranting kecil yang dipeluknya sepanjang malam. Temaram senja berlalu, malam menyapa ramah dalam bahasa manusia,”Selamat malam!”lucunya bila dialihbahasakan pada seorang bule,”Good night!”Si bule pikir akan menuju pembaringan,ia melirik jam diContinueContinue reading “R a g u?”
Terbang ke Awan
Malam makin larut seturut bergesernya rembulan penanda rindu. Kuangkat wajah ini dan kutengadahkan. Di ketinggian tak terukur, lambaian awan padaku. Mungkin di sana ada kesunyian, sementara aku di sini ada dalam kesepian dan himpitan di antara rindu pada kesibukan dan ketegasan protokol kesehatan. Aku duduk sebentar. Sepotong ranting kupilihkan yang dengannya kugunakan mencungkil bebatuan kecilContinueContinue reading “Terbang ke Awan”
Mentari Pagi pun Malu
Raja siang selalu tiada bergeser dari singgasananya. Bila rasa dan mata meyakini sang raja seperti bergeser, menurut para pakar, hal itu terjadi karena ada rotasi dan revolusi bumi padanya. Ia selalu mendapati makhluk manusia dalam kesibukan pada situasi manapun. Dulu sang mentari malu pada perempuan Timor. Mengapa? Bertahun-tahun lampau kaum Hawa di Timor selalu lebihContinueContinue reading “Mentari Pagi pun Malu”
destar tanpa ide
Aku tinggalkan ruang inspirasi. “Maaf lampu, kebetulan kau padam. Padamlah! Dan kau laptop, biar kau istirahat dari setrum dan pijitan jemariku! Kau android kecil, kau boleh tersenyum tak berbeban pagi ini!” Aku tiba di halaman belakang rumahku. Di sana aku sambangi pohon asam dan alpokat. Keduanya berbuah cukup banyak. Alpokat tersisa beberapa buah setelah rontokContinueContinue reading “destar tanpa ide”
ketika rinai memercik
Ketika Rinai Memercik Rinai memercik rerumputan manakala remang petang tiba.Lelehan satu titik bersambungan pada titik berikutnyaNampak bagai liur memercik keluar dari menganganya mulutdi sana, hendak terukir lukisan bernas pada lempengan kulit keemasan. Tersipu mengelus setitik rinai di permukaan ituJengah rasa ini mendekat ketika kerling menggodaRikuh menyodorkan satu belahan tapak tangan menyentuh arimonyos memerah wajah hendakContinueContinue reading “ketika rinai memercik”