Syair Kebodohan (3)Menyimak yang TersimakMalam makin larut saja, sementara burung malam sedang bergiat-giatnya. Siraman ringan dari langit menggemaskan rasa. Riuh suara tetangga depan masih terdengar berhubung anak sedang sakit. Kucing belangku bengong saja berhadapan dengan tokek yang turun mengejar seekor laron.Suara mendayu-dayu seorang Instruktur berjedah setiap sepuluh detik. Komunikasi unik, penanya menulis, penjawab bersuara. MokContinueContinue reading “Menyimak yang Tersimak”
Monthly Archives: March 2020
Di Bibir Ranjang Pasien
Di Bibir Ranjang PasienAku duduk di bibir ranjang pasien bertanya nian pada sang ranjang, “Kapankah pasien diizinkan pulang?”Ia tersenyum ramah full hospitality lalu bergoyang bagai mengikuti irama manakala perawat tiba bertangan jarum pinalty mata jalang kuplototkan pada perawat gerangan apa ia injeksikan? Pasien bergumam berbalik badangeli tak tawa, lucu tak pingkal kudengar oceh dari bibirContinueContinue reading “Di Bibir Ranjang Pasien”
Syair Kebodohan
Syair KebodohanWahai kaumku, bila pagi ini tiba dan kamu sudah bisa tersenyum baiklah untuk lanjutkan dengan tawa berderai manakala itu harus terjadi dalam derai nadanya hingga kamu tiadalah punya beban menggelayut di dada cobalah menghadap kepada si dia pencerah pagi dan tanyakan apa gerangan kabar ia sebar pastilah ia memberi jawab padamu wahai kaumku “semilirContinueContinue reading “Syair Kebodohan”
Covid-19 Mengumpet Ilahi
Di kesibukan mayapada, covid-19 si maut bermakhota turun ke bumi. Ia berlari di belakang sang Khalik Ilahi. Tanpa pamit ia mengenakan makhota kematian di kepalanya. Menggelinding ketika tiba di atmosfer. Deburan angin meniup dia hingga tiba di sarang kalong penunggu malam. Bagai peronta ia masuk tertawan dalam raga kalong ketika mereka menuju tukik batang berbuahContinueContinue reading “Covid-19 Mengumpet Ilahi”
Si Badut Bergumam Saja (ratapan anak kampung)
Baiklah bangsa-bangsa merayap jika tidak hendak dimakan dia yang sedang merayap Dia tidak kelihatan sedang terbang dengan sayap Tapi dia terus menerjang dalam kegamangan kaum yang berdalih, beriman dan pongah gagah bertegap. Baiklah negeri-negeri merunduk jika tidak hendak ditekuk hingga menunduk Dia tidak menggunakan tombol penekuk lutut Tapi dia terus mengantar teror dalam kekalutan kaumContinueContinue reading “Si Badut Bergumam Saja (ratapan anak kampung)”
Berguguran Bunga di Taman Permai
Sumber: Baby and Children
Maut, Betapa Sombongnya Kau!
Maut, Betapa Sombongnya Kau! Maut… Pernahkah kau tengok kaum beriman? Sudah mampirkah kau di kemewahan si imam? Ketika kau tebar pesona garangnya teror Saat itu mereka lepas ceplos kepongahan iman. Maut.. rupanya kau asal suka tebang ? kau awali dengan membau lalu mungkin kau memeluk hingga merasuk dalam peluk dan menggendong tak berpeluh Maut… NamamuContinueContinue reading “Maut, Betapa Sombongnya Kau!”
Balada Kampung Hening
Kemarin kami riang dalam karsa dan karyaTadi kami garang dalam gersangnya alamMenit berlalu kami nikmati sukaDi sini kami ada pada titik, teror tertelor. Korona…menyebut namanya covid-19asing pula di telinga awam kampungteror terkabarkan dalam paparanancaman mencengangkan di muka datarbahaya mengangakan mulut siap menerjang, Seruan…Pemimpin kampung mulai berkoarPemangku keimanan menggaungkan hikmatDua bahkan berlipat kali koar berkobarLelah…Lunglai…Lemah…Roboh…Jatuh…Mati.Di titikContinueContinue reading “Balada Kampung Hening”
Di manakah Tuhan?
Di manakah Tuhan? Tuhan…Bolehkah aku bertanya hari ini,Di manakah Dirimu, Tuhan?Ketika dunia hiruk-pikuk dalam kepanikan,Ketika mayapada kacau dalam kegalauan,Ketika virus dan bakteri menebar terorKetika produksi kata terus bertelorKetika emosi tak hendak kendor. Tuhan…Bila kutanyakan pada penganut simbolikMereka akan menunjuk simbol-simbolBinatang berkaki empat, tempat hunian para rohPepohonan tinggi berbatas besar berakar kuatarena pesanggrahan roh leluhurBebatuan danContinueContinue reading “Di manakah Tuhan?”
Kalong pun Tersenyum saja
Senja tibasaat yang tepat meninggalkan sarangwaktu yang tak boleh dapat ditahan-tahanmanakala hidup mesti dimulaiitu bagian dari alur naturaltelah diatur sang Khalik. Suara tajam kulengkingkansorot mata kutembakkantajam telinga kupasangkanpantulan tiba serangan bertubiMangsa kudapat di genggaman Aku sehat di sarangkuAku kuat di gantungankuTak kusebar kabar burukTak kutebar pamflet berdukaBerhubung aku bukan pelukisBila menulis tiadalah mungkin Kini… KabarContinueContinue reading “Kalong pun Tersenyum saja”