Chiang Mai-Thailand, (24/07/19), Pembaca yang berprofesi sebagai guru tentu tidak kaget dengan judul ini. Lagi-lagi saya terpaksa menggunakan Bahasa Inggris bukan untuk gagah-gagahan. Saya coba terjemahkan menjadi Papan Pertanyaan terasa seperti kurang tepat. Walau begitu kira-kira mesti demikian. Jujur saja saya tidak mengetahui secara persis kapan Question Board dipakai. Dalam pengalaman sebagai guru di pedalaman Kabupaten Kupang, saya belum pernah mencobanya di kelas. Bahwa siswa diminta menulis pertanyaan lalu ditempatkan di media yang tersedia sehingga guru dapat mengetahui akan keingintahuan murid, itu akan sangat menolong komunikasi yang efektif ketika siswa merasa mau bertanya, tetapi tidak dapat dilakukan secara lisan (oral).
Sejak kapan media question board ini ditemukan dan dipakai? Sekali lagi saya belum menemukan jawabannya. Walau demikian, saya lebih melihat manfaatnya daripada menelusuri asal muasalnya.
Sederhananya, bila guru kreatif, gunakan tembok ruang belajar untuk menyediakan media yang disebutkan sebagai question board, atau papan pertanyaan ini. Bagaimana caranya?
Berikut ini saya kutipkan contoh-contoh dalam bentuk gambar agar lebih memudahkan:

Papan model ini kelihatan ribet sekali bila ditempatkan di ruang kelas! Ya, walau ribet namun efektif. Mengapa? Siswa akan dengan senangnya mau berkomunikasi dengan guru dan teman-temannya ketika mereka tidak dapat menemukan jawaban atas satu permasalahan. Hal lainnya, ketika siswa merasa kuatir akan ditertawakan, diolok-olok oleh teman, takut salah berbicara, dan berbagai perasaan lain yang berkecamuk, baiknya ia menulis dan menempatkannya di papan pertanyaan.
Guru, hendaknya senang dengan hal yang demikian. Ia tidak harus menjawab secara tertulis pula. Ia dapat mengajak siswa yang menulis pertanyaan itu untuk berdiskusi secara individu. Jika satu pertanyaan itu terasa harus menjadi pengetahuan bersama untuk semua siswa, jawabannya dapat disampaikan di dalam kelas untuk semua siswa. Lalu, pada siswa yang menyampaikan pertanyaan tertulis itu, ia harus mendapatkan pujian. Dengan pujian, ia akan merasa mendapatkan perhatian plus sehingga ia makin percaya diri untuk belajar lagi dan bertanya lagi untuk menemukan hal baru.

Model-model papan pertanyan seperti ini bila terasa mahal, baiknya gunakan kertas karton. Tempelkan di tembok di dalam kelas. Berikan kesempatan untuk anak bertanya.
Guru yang kreatif, jangan sampai terjebak dengan pendekatan ini. Mulailah dengan membatasi siswa untuk bertanya sesuai materi yang hendak diprosesbelajarkan. Jangan beri peluang pada siswa untuk bertanya pada apa yang belum menjadi pengetahuan guru. Ingatlah bahwa masa ini dunia informasi terbuka amat luas dalam jangkauan tak terbatas. Siswa dapat mengakses internet dengan beragam informasi. Bila mereka menanyakan sesuatu di luar pengetahuan guru, maka guru akan kewalahan, kecewa dan patah semangat.
Ayo guru, cobalah menggunakan question board, Papan Pertanyaan.
Chiang Mai, 24 Juli 2019
Heronimus Bani
Mantap
LikeLiked by 2 people