Ketika Seharian Tanpa Ide Menulis Betapa Buntunya

Sejak pagi hari ini sekitar pukul 04.00 (Rabu,22/7/20) saya sudah punya aktivitas. Di antaranya membantu kekasih di rumah untuk urusan kerumahtanggaan dan hal-hal lain yang kiranya dapat saya lakukan. Selanjutnya melalui aplikasi WhatsApp saya sampaikan kepada para guru bahwa hari ini saya di rumah saja, dan untuk itu mohon para guru melaksanakan tugas-tugas administrasi pembelajaran. Salah satu di antaranya adalah menyiapkan jadwal kunjungan Belajar dari Rumah (BdR). Berdasarkan jadwal kunjungan itu guru akan melakukan proses pembelajaran dan setiap minggunya akan melaporkan secara tertulis. Semua kegiatan BdR akan berlangsung di sela uji coba BdS yang berselang-seling hari antarkelas rendah (1,2,3) dan kelas tinggi (4,5,6).

Kembali ke ruang belajar dimana saya saban hari berada di sana. Saya benar-benar plong tanpa ide. Jejeran buku dalam rak mulai dari Bung Karno, Mahatma Gandhi, Kartini, Abraham Lincoln, Kahlil Gibran, Tembok Besar Cina, Revolusi Prancis, Tetralogi Pramoedya Ananta Toer dan beberapa Ensiklopedia seakan mengajak untuk berdialog dalam diam. Buku-buku pendidikan dan agama turut melambai mengajak berdiskusi. Saya tetap diamkan saja.

Saya beralih kepada puisi-puisi kiriman rekan-rekan guru penulis. Mereka rindu agar puisi-puisi itu segera dapat dibukukan. Ya. Puisi-puisi itu saya simpan beberapa waktu yang lalu dalam satu folder. Beberapa di antaranya yang belum sempat diunduh saya bintangi. Lalu semua puisi itu saya unduh. Saya cobakan dua pada template calon buku.

Obrolan via WhatsApp pada rekan guru yang mengirim puisi-puisi itu saya bangun. Kami akhirnya bersepakat untuk menyusun puisi-puisi itu dengan menempatkan semua puisi terlebih dahulu daripada penulisnya. Saya sempat mengusulkan untuk membuat deskripsi penulis di awal, lalu karya yang diberikan berupa puisi-puisi mengikutinya. Dua contoh saya kirimkan, namun pada akhirnya kami bersepakat bekerja seperti yang pernah kami lakukan pada satu buku antologi puisi berjudul, Lembayung Rindu.

Saya bekerja tanpa ide. Puisi yang mesti saya tulis sudah saya buat tapi rasanya puisi-puisi itu berlum memiliki daya. Nampkanya tidak ada energi dalam puisi-puisi yang saya tulis. Saya terus bekerja sambil sesekali melirik pada jejeran buku di rak. Apakah mereka dapat memberi jawab? Belum.

Saya tinggalkan ruang belajar. Berkeliling sebentar di pekarangan berteman angin dan dedaunan. Di belakang rumah ada satu kandang kecil tempat dimana ternak peliharaan kami tempatkan. Saya mengambil makanan untuk dia yang ada di dalam kandang. Ketika itu datang ide untuk memberi energi dan daya yang kiranya agak plus pada puisi-puisi yang dimintakan oleh rekan guru sang Kurator.

Ya, bila tidak sedang memiliki ide untuk menulis, tindakan sederhana apa yang dapat dilakukan untuk mendapatkan ide? Jawabannya, membaca dan menyegarkan otak serta emosi. Dua hal sederhana. Bila tidak sedang nyaman untuk membaca, segarkan otak dan emosi dengan ditemani hembusan angin serta tindakan sederhana di rumah. Bagi seorang perempuan, mungkin mengurus bunga.

Pada akhirnya saya kembali ke ruang berisi jejeran buku yang tidak seberapa banyaknya di dua rak buku. Merekalah yang menemani saya saban hari ketika saya bertanya. Mereka memberi jawaban pada saya. Bila jawaban itu saya harus perkaya, maka saya bertanya pada Tuan Gugel sebagai mesin pencari informasi.

Begitulah hari ini, Rabu, 22 Juli 2020

Published by Heronimus Bani

Guru, membaca dan menulis mana suka

4 thoughts on “Ketika Seharian Tanpa Ide Menulis Betapa Buntunya

  1. Wow, beginilah kebiasaan bagi seorang penulis; tiada hari tanpa menulis.
    Tanpa ide skalipun, ada saja yang dapat di tuangkan melalui aksara.
    Sangat menginspirasi.

    Liked by 1 person

Comments are closed.

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: